Zakir Sabara, Relawan Bencana Kini bergelar Profesor Teknik Kimia

- Orasi ilmiah tentang kelangkaan air bersih efek perubahan iklim

Zakir Sabara, Relawan Bencana Kini bergelar Profesor Teknik Kimia
Zakir Sabara membacakan orasi ilmiah saat dikukuhkan sebagai Guru Besar bidang Teknik Kimia Universitas Muslim Indonesia, Rabu (29/6/2022). (Instagram/nasrudin_andi_mappaware)






KABAR.NEWS, Makassar - Universitas Muslim Indonesia (UMI) mengangkat Zakir Sabara sebagai guru besar atau profesor bidang ilmu Teknik Kimia. Prosesi pengukuhan jabatan akademik itu berlangsung di Auditorium Al Jibra UMI, Makassar, Rabu (29/6/2022).


Zakir menjabat guru besar pada usia relatif cukup muda, yaitu 47 tahun. Gelar itu disandang Zakir tak lama setelah menyelesaikan tugas sebagai Dekan Fakultas Teknik Industri (FTI) UMI sejak 2014 sampai 2022.


Sebelum menyandang guru besar, pria kelahiran Bone, 24 Mei 1975 ini banyak menghabiskan waktu beberapa tahun terakhir sebagai relawan yang kerap turun ke lokasi bencana alam.


Jika publik Makassar dan Sulsel mengenal Zakir sebagai dosen, maka di Kota Palu, Sulawesi Tengah, sosoknya dikenal sebagai relawan yang turun menghibur anak-anak pengungsi gempa dan tsunami pada tahun 2018 silam.


Bersama mahasiswanya di FTI UMI, Zakir turun berjibaku menggalang dan memasok bantuan logistik hingga menyuplai informasi dari sisa amuk sesar Palu Koro.


Begitu juga saat gempa 6,2 magnitudo mengguncang Sulawesi Barat pada 2021. Tim relawan FTI UMI yang dikoordinir Zakir, boleh diklaim sebagai volunteer pertama yang menginformasikan ada daerah terisolir bernama Ulumanda di Kabupaten Majene, belum tersentuh bantuan.

Zakir Sabara melaporkan kondisi enam desa terisolir di Kecamatan Ulumanda, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, pasca gempa 15 Januari 2021. (Tangkapan layar/Youtube FTI UMI)


Video drone daerah terisolir yang direkam pasukan FTI UMI, dipakai sejumlah media nasional dan manca negara untuk menggambarkan betapa dahsyat gempa Sulbar. Zakir menghias telivisi nasional sebagai relawan. Bantuan pun diterjunkan berawal dari rekaman drone mahasiswa FTI.


Sebelum di Sulbar, Zakir ikut turun ke lokasi banjir bandang yang memporak-porandakan sebagian kecamatan di Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan, pada Juli 2020.


Teranyar, Zakir mengerahkan Tim Relawan UMI untuk menanggulangi pandemi Covid-19 dengan membuat cairan cuci tangan hingga menyemprot disinfektan di rumah sakit. 


Relawan FTI UMI juga mencukur rambut tenaga kesehatan secara gratis. Tak ayal, Harian Kompas dalam rubrik Sosok menyebut Zakir sebagai "Dosen di Medan Bencana".


Orasi Ilmiah: Dunia Terancam Kelangkaan Air


Pada pengukuhannya, Zakir mengusung orasi ilmiah berjudul "Air dan Kita: Menyikapi Kelangkaan Pasokan Air Dunia Akibat Perubahan Iklim". 


Dalam pidato setebal 38 halaman itu, Zakir mengulas filosofi air, hingga tawaran gagasan menekan kelangkaan air bersih yang diprediksi terjadi pada 2030. Orasi ilmiah tersebut juga membahas penyebab banjir Kota Makassar yang telah diteliti Zakir bersama ilmuwan lain.


Menurut Zakir, menanggulangi kelangkaan air bersih akibat krisis iklim merupakan tanggung jawab bersama dan diperlukan kemampuan analisis multisektor yang komprehensif.


Zakir merekomendasikan "paradigma air bersih" dapat distimulasikan dalam lembaga pendidikan yaitu menghadirkan pendidikan vokasi terkait teknologi dan manajemen pengolahan air bersih.

Zakir Sabara membacakan orasi ilmiah saat dikukuhkan sebagai Guru Besar bidang Teknik Kimia Universitas Muslim Indonesia, Rabu (29/6/2022). (Tangkapan layar/Youtube Universitas Muslim Indonesia)


Selain itu, Zakir dalam pidatonya menyebut, dalil-dalil dalam Alquran bisa menjadi solusi dampak global perubahan iklim. Dia mengulas sejumlah ayat yang menyinggung tentang alam dan keharusan menjaga keseimbangan lingkungan hidup.


Khusus mengenai banjir yang kerap merendam Makassar, menurut Zakir, meluasnya wilayah banjir di Kota Daeng disebabkan oleh menurunnya luas wilayah resapan air.


Resapan air berkurang "Akibat peningkatan wilayah hunian dari peningkatan jumlah penduduk kota, baik karena kelahiran maupun tren urbanisasi," tulis Zakir Sabara.


Dia menandaskan, meningkatnya jumlah penduduk senantiasa linier dengan pengingkatan jumlah permintaan air bersih dan air minum. Pada saat yang bersamaan, terjadi penurunan kuantitas dan kualitas air akibat menurunnya pasokan air bersih dari dua sungai yang melintas di Kota Makassar, yaitu Sungai
Jeneberang dan Sungai Lekopancing.


Pengukuhan guru besar Zakir Sabara menjadikan dia sebagai profesor pertama dengan spesialisasi Robust Decision Making (RDM) dalam bidang Teknik Kimia di UMI. Gelarnya kini Prof. Dr. Ir. Zakir Sabara HW., ST., MT., IPM., ASEAN. Eng.