Skip to main content

WHO Golongkan Kecanduan Game Sebagai Gangguan Mental

game
Ilustrasi (INT)

KABAR.NEWS - Kecanduan game bakal ditetapkan sebagai salah satu gangguan mental oleh Organisasi kesehatan dunia (WHO). Hal itu berdasarkan dokumen klasifikasi penyakit internasional ke-11 (Internatioal Classified Disease/ICD) yang dikeluarkan WHO, di mana gangguan ini dinamai gaming disorder.  

Menurut WHO, gaming disorder digambarkan sebagai perilaku bermain game dengan massif dan berulang, sehingga mengabaikan kepentingan hidup lainnya.

Gejalanya nampak ditandai dengan tiga perilaku, yakni bermain game secara berlebihan, baik dari segi frekuensi, durasi, maupun intensitas. Selanjutnya gejala kedua, pengidap gaming disorder juga lebih memprioritaskan bermain game. Hingga akhirnya muncul gejala ketiga, yakni tetap melanjutkan permainan meskipun pengidap sadar jika gejala atau dampak negatif pada tubuh mulai muncul.

Sejumlah dokter menyambut baik penetapan gaming disorder sebagai salah satu gangguan mental. Salah satunya seorang dokter spesialis kecanduan teknologi dari Rumah sakit Nightgale di London, Richard Graham. Menurutnya, perilaku bermain game secara berlebihan memang sudah seharusnya mendapatkan penanganan medis yang serius.

Faktanya, sejumlah negara sudah sejak lama bergelut dengan fenomena ini. Sebagai contoh, Korea Selatan menetapkan akses game online oleh anak-anak berusia bawah 16 tahun di antara tengah malam hingga pukul 6 pagi sebagai tindakan yang ilegal.

Meski begitu, adapula pendapat lain mengenai fenomena maraknya game online. Killian Mullan, salah satu periset dari Universitas Oxford menyatakan menurut riset yang dilakukannya terhadap anak dan remaja dalam rentang umur delapan hingga 18 tahun, Ia menemukan bahwa tidak ada masalah pada perilaku kecanduan game.

Mullan berpendapat bahwa sebagian objek pecandu game pada umumnya berhasil menyinergikan hiburan digital dan kehidupan sehari-hari.

"Orang mengira bahwa anak-anak kecanduan teknologi dan berada di depan layar selama 24 jam telah mengesampingkan kehidupan mereka. Padahal tidak demikian nyatanya," ujar Mullan dikutip dari BBC, Rabu (3/1/2017).

Pandangan Mullan didukung oleh pengkategorian permainan game sebagai cabang dari e-sport. Sama seperti halnya olahraga pada umumnya, para atlet e-Sport diharuskan memiliki kondisi fisik yang bugar serta nutrisi yang cukup. Sebab, bermain game ternyata menguras stamina karena pemain harus mencurahkan pikirannya untuk menjalankan strategi bermain.

Akan tetapi, tetap saja bermain game secara berlebihan tanpa diiringi dengan aktivitas fisik dan sosial bukanlah hal yang baik.