Skip to main content

Wagub Sarankan Desalinasi Air Laut Dimulai dari Makassar

desalinasi
Demonstrasi Alat Desilinasi oleh Martin Andi, di depan Wagub Sulsel dan Sekda Kota Makassar, Senin (20/1/2020).(Kabar.News/Fitria)

KABAR.NEWS, MAKASSAR - Murdoch University Australia mengembangkan alat pengolah air laut menjadi air minum atau desalinasi dengan pengelolaan menggunakan sumber listrik berupa solar (matahari) system. 


Pengunaan alat itu langsung didemonstrasikan oleh Martin Andi, Peneliti Teknik Lingkugan Murdoch University di Dermaga Cafe Ombak, Jalan Ujung Pandang, Kota Makassar, Senin (20/1/2020). 


Wakil Gubernur (Wagub) Sulawesi Selatan, Sudirman Sulaiman, beserta Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Makassar, Muh Ansar, menyaksikan yang dilakukan Martin Andi. Dalam kesempatan itu, Wagub Sulsel menyambut baik pengembangan teknologi ini, dan menyarankan untuk dimulai dari Kota Makassar.


"Kita tunggu saja uji kelayakan airnya dulu, nanti pengembangannya bisa dimulai dari Makassar. Saya bicara tadi sama Pak Sekda, ada 9 pulau yang bisa ditarget terlebih dahulu," ungkapnya kepada Kabar.News.


Sementara, Sekda Kota Makassar, Muh Ansar, mengaku bahwa beberapa sudah melakukan teknologi desilinasi ini, namun dengan cara dan alat yang berbeda.


"Sebenarnya kita sudah lakukan ini, tapi dengan teknologi yang berbeda. Nah di Makassar ini kebutuhan air bersih dari PDAM itu baru mencapai 80 persen dari seluruh kebutuhan yg ada di makassar, solusinya itu memang diharapkan dari desanilisasi," ungkapnya.


Namun, Ansar mengakui penanganan teknologi air bersih masih terbatas disebabkan beberapa kendala."Karena kalau sumber dari air yang ada dari atas inikan masih banyak kendalanya. Belum pipanya, kalau yang tadikan bisa langsung, bukan lagi air bersih, tapi bahkan air minum," jelasnya.


Sehingga, Ansar mengusulkan pengembangan teknologi ini bisa dikerjasamakan dengan PDAM."Ini jangan dimonopoli sama pemerintah ada pengusaha misalnya saudara bikin itu, beli itu beli alatnya kemudian diproduksi airnya dijual ke PDAM," jelasnya.


Martin Andi sendiri mengakui, salah satu tantangan pengadaan teknologi ini adalah biaya pengembangan yang tidak murah.


"Jadi kami juga sudah pelajari model bisnis apa yang bisa mengembangkan alat ini, jadi kami pahami bahwa ada Bumdes. Untuk satu desa, itu bisa sebanyak 50.000 dolar (Rp682 juta). Ini kami butuhkan investasi, dan dibutuhkan investasi dari berbagai pihak," imbuhnya.


Penulis: Fitria Nugrah Madani/B
 

 

Flower

 

loading...