Skip to main content

Viral! Video Perkelahian Pelajar Perempuan "Cium Tanah Air"

Viral! Video Perkelahian Pelajar Perempuan "Cium Tanah Air"
Perkelahian antara sesama pelajar perempuan di  Desa Lanipa Kecamatan Ponrang Selatan, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan. (Screen shoot/KABAR.NEWS)

KABAR.NEWS, Belopa - Tayangan video perkelahian siswa perempuan yang disebut terjadi di Desa Lanipa Kecamatan Ponrang Selatan, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, mendadak viral di media sosial.


Baca juga: Viral Perkelahian Siswi di Maros, Kepsek SMP 1 Maros: Karena Salah Paham

Video berdurasi 3 menit lebih itu memperlihatkan seorang siswa perempuan yang mengenakan pakain baju olahraga, dianiaya seorang siswi yang mengenakan rok berwarna biru, mirip rok siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP).


Video perkelahian ini diunggah sebuah akun Facebook pada Sabtu (16/2/2019). Unggahan video ini telah dibagikan nyaris 900 kali dan telah ditonton 98 ribu kali, pada Minggu (17/2/2019) malam.


"Memang anak desa tpi tdk sewajarnya ko ksh bgni spupu ku ko pukuli kyak binatang," tulis pemilik akun pada unggahan video tersebut.



Dari video itu terdengar sejumlah riak-riak meminta siswa yang dianiaya dengan badan badan terbaring di tanah dengan seorang siswa yang duduk di atasnya untuk meminta maaf. Juga terdengar jika siswa yang dianiaya tersebut adalah anak seorang calon legislatif atau caleg.


"Melawan miko, cium tanah air terus. Intinya dua ji atau cium tanah air ko. Minta maaf, itu ji, kalau tidak, cium tanah air terus ko," kata sosok perempuan di balik video tersebut.


Baca juga: Video Viral! Oknum Polisi di Papua Interogasi Pelaku Menggunakan Ular

Dikonfirmasi mengenai hal tersebut, Kasat Reskrim Polres Luwu, AKP Faisal Syam, mengatakan tindakan penganiayaan itu, direkam menggunakan kamera ponsel, lalu dishare ke sosial media facebook. 


“Laporannya sudah kami terima, Jumat lalu. Sejumlah saksi juga sudah kami periksa,” kata Faisal Syam, Minggu (17/02/2019).

 

Menurut keterangan AKP Faisal, videor viral perkelahian ini melebitkan pelajar masing-masing ND (inisial, 17) sebagai korban atau pelapor, serta EL (17) dan RM (15) sebagai terlapor.

 

loading...