Skip to main content

Ulasan Film: The True Cost, Wajah Buram di Balik Kemegahan Dunia Fesyen 

true cost

Ulasan Film The True Cost


Judul: The True Cost

Genre: Dokumenter

Durasi : 1 jam 32 menit

Director : Andrew Morgan 


Seorang model berjalan santai di depan para khalayak memamerkan busana terbaru dengan mode terkini. Lengkap dengan sorotan kamera disaksikan jutaan pasang mata yang takjub. Namun, pernahkah kita bertanya, dari manakah kemegahan produk-produk fesyen berasal?.

Nah, pertanyaan sederhana tersebut memantik rasa penasaran seorang sineas Andrew Morgan untuk mengulik lebih jauh. Film dokumenter berjudul "The True Cost" ini berfokus pada bagaimana pakaian yang kita kenakan diproduksi, kisah orang-orang yang terlibat dalam produksinya, hingga dampak dari industri ini bagi dunia yang kita pijak saat ini. 

Awalnya, rasa penasaran Morgan muncul saat peristiwa bangunan Rana Plaza, pabrik pakaian di Bangladesh, runtuh dan membunuh lebih dari 1.000 buruh pada 2013. Dari situ, Ia kemudian menyadari jika dirinya dan kebanyakan orang Amerika sama sekali tidak tahu dari mana pakaian mereka berasal, dan siapa saja yang membuatnya, dan bagaimana kondisi pekerjanya. 

Menariknya, film ini memotret kontradiksi dari dua wajah dunia berbeda. Film yang diproduksi di Kamboja, Bangladesh, India dan Haiti ini menampilkan berbagai kondisi memprihatinkan dari proses industri, lingkungan dan kehidupan orang-orang yang bekerja di dalamnya. Kemudian, menampilkan wajah gemerlap fasyen di negara maju dengan menampilkan produk-produk terbarunya. Potret yang berbeda itu kemudian disusun menjadi sebuah cerita utuh yang saling terhubung. 

Melalui dokumenter ini, kita bisa mengetahui jika pabrik garmen merupakan industri yang mendatangkan laba yang sangat menguntungkan hingga mencapai tiga miliar dolar, namun di sisi lain kondisi pekerja yang mayoritas berada di negara miskin cukup memprihatinkan. Mereka harus bekerja dengan kondisi lingkungan yang rentan bagi kesehatan, upah rendah dan kondisi hidup sehari-hari yang jauh dari kata layak.

Dari kondisi inilah sejumlah merek fesyen ternama berasal. Dipamerkan dalam even mewah dan dipasarkan ke seluruh dunia. Produksi massal dengan pengerahan tenaga kerja yang murah di negara berkembang itulah, kemudian memungkinkan produk fesyen ternama bisa mendatangkan keuntungan atau disebut dengan Fast Fashion.   

tc

Selain itu, Film ini kaya dengan informasi dari narasumber kunci yang menjadi pelaku utama di industri fesyen. Salah satunya dengan mewawancarai para perancang busana yang sudah tergabung dalam organisasi Fair Trade demi kesetaraan hak-hak buruh pabrik pakaian, seperti Stella McCartney.

"Sebagai konsumen, Anda berhak untuk tidak membeli pakaian yang tidak bisa dipertanggungjawabkan latar belakang pembuatannya. Anda harus berani melakukan itu," ujar McCartney.

Setelah menonton narasi dan deskripsi film ini, publik segera menyadari betapa industri fesyen yang murah mungkin ramah bagi kantong tetapi bisa menjadi sangat berbahaya bagi kemanusiaan.

Film ini mungkin tidak menawarkan solusi, namun paling tidak memantik kesadaran agar pelaku industri fesyen bisa lebih memperlakukan orang-orang yang terlibat di dalamnya secara lebih manusiawi dan tentu saja tidak mengabaikan kerusakan lingkungan yang ditimbulkannya.

"Melalui dokumenter ini saya ingin agar orang-orang sadar untuk sesegera mungkin mengakhiri konsumsi fast fashion, yang hanya memberikan mereka benda-benda tidak berguna untuk kehidupan mereka," ungkap Morgan.