Skip to main content

Ulasan Buku: Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya

cd

Belajar Kesederhanaan Hidup dari Kisah Cak Dlahom

 

Judul : Merasa Pintar Bodoh Saja Tak Punya

Penulis : Rusdi Mathari

Penerbit : Mojok

Tebal : 226 halaman 

Cetakan ketiga: 2018


Cak Dlahom bukanlah siapa-siapa. Ia hanya seorang duda tua yang hidup di dekat kandang kambing Pak Lurah. Namun dari kisah sederhana yang dijalaninya sehari-hari, tersimpan hikmah dan kebijaksanaan hidup yang dalam.

Tak hanya Cak Dlahom, sejumlah tokoh seperti Mat Piti, Romlah, Pak Lurah, Bunali dan lainnya turut meramaikan serial kisah dalam buku ini. Ocehan-ocehan ringan para tokoh menyulut percakapan mengalir dan tidak membosankan bagi pembaca.

Salah satu cerita yang cukup mengena dalam ingatan dari buku ini ialah cerita berjudul "Menghitung Berak dan Kencing". Kisahnya mungkin soal remeh temeh, tapi cukup menyentil.

Kala itu, cak Dlahom memberikan penggambaran mengenai keikhlasan. Suatu waktu, Mat Piti mengingatkan saat memberikan sarung dan Peci kepada cak Dlahom sebulan lalu. Kemudian, mat Piti ditanya apakah ikhlas dengan apa yang dilakukannya.

"Iya, iya ... Tapi kamu pasti ikhlas kan, Mat?"

"Yaa ikhlaslah, Cak. Masak ndak, maka itu saya mau tanya, maksud sampean soal ikhlas itu apa?"

"Ikhlas kok ditanya, Mat."

"Saya hanya ingin tahu.." 

"Lah menurutmu ikhlas itu apa?"

"Berbuat atau melakukan sesuatu karena Allah, dan hanya untuk Allah, cak."

"Iya betul tapi 'karena Allah, dan hanya untuk Allah' itu apa?

"Ya kalau begini terus sampeyan sendiri saja deh yang ngasih tahu: ikhlas itu apa?"

Cak Dlahom pun bertanya kepada Mat Piti. "Sebelum ke sini, kamu kencing dulu ndak, Mat?"

Loh sampeyan kok malah nanya soal kencing, cak?" 

Mat Piti justru bingung ngobrol soal keikhlasan malah bicara soal kencing. "Tapi apa hubungannya kencing dengan ikhlas Cak?," ungkap Mak Piti kebingungan. Kemudian Mat Piti menjawab jika sengingatnya ia tidak kencing saat berangkat ke rumah cak Dlahom, dan hanya ingat Ia biasanya kencing sehari tiga hingga empat kali.

"Seminggu yang lalu,?"

"Ya, nda ingat, Cak,"

"Sebulan yang lalu? Setahun yang lalu? Sejak kamu lahir kamu ingat, berapa kali kamu berak dan kencing?"

"Sampeyan juga ndak ingat toh cak?." Seperti itulah ikhlas."

"Maksudnya?"

"Kencing dan berak itu bagaikan amalmu Mat, kamu mengeluarkannya dan tidak menahan-nahannya dan segera melupakannya," 

"Jadi kalau masih ingat, berarti nda ikhlas, Cak?"

"Hanya Allah yang tahu," ungkap cak Dlahom sembari dengan santai melanjutkan aktivitasnya makan Rawon. 

Kutipan singkat cerita tersebut merupakan salah satu gambaran saat cak Dlahom mempertanyakan rasa keikhlasan seorang manusia saat beramal.

Sementara puluhan kisah lainnya yang tersaji dalam buku ini juga tidak kalah menariknya. Sang penulis, Rusdi Mathari berhasil membawa cerita yang kebanyakan terinspirasi dari kisah sufi yang disampaikan Syekh Maulana Hizboel Wathani Ibrahim, menjadi sebuah kisah yang utuh dan mudah dicerna oleh orang awam. Tidak terkesan menggurui, namun sarat nilai reflektif.

tr

Suguhan ceritanya pun enak dibaca diselingi dengan humor-humor ringan dan segar. Karena itu, meskipun berisi petuah-petuah hidup yang mengandung nilai religius, namun pembaca seakan diajak untuk menikmati cerita tanpa harus merasa sedang diceramahi. Ditambah lagi cerita yang memotret kisah hidup sehari-hari orang biasa, berlatar belakang masyarakat desa yang bersahaja.

Tak salah bukunya ini diberi judul yang cukup unik, "Merasa Pintar, Bodoh Saja tak Punya,". Kata bodoh mewakili upaya reflektif cak Dlahom mengenai pengetahuan manusia dalam mencari jati diri dan mendekatkan diri kepada Tuhan. 

Sejumlah kisah di buku ini membincangkan ritus ibadah agama Islam yang dijalankan, seperti wudhu, puasa, syahadat, salat hingga persoalan hidup sehari-hari. Di sinilah kemampuan naratif cak Rusdi, sapaan akrab Rusdi Mathari, membuat pembahasan mengenai ritual agama menjadi kaya makna dan tidak kaku.