Sulsel Masuk Musim Hujan, BMKG Imbau Bahaya La Nina

Terjadi peningkatan curah hujan yang mencapai 20 hingga 40 persen

Sulsel Masuk Musim Hujan, BMKG Imbau Bahaya La Nina
Ilustrasi perkiraan cuaca.(ist)

KABAR.NEWS, MAKASSAR - Saat ini, hampir seluruh wilayah Sulawesi Selatan (Sulsel) sudah memasuki masa transisi menuju musim hujan. Kendati demikian, perubahan musim tersebut harus diantisipasi, sebab akan disertai dengan fenomena alam yang disebut La Nina, yang mengakibatkan jumlah curah hujan menjadi bertambah.

Hal ini dijelaskan Kepala Bidang Data dan Informasi BMKG Makassar, Hanafi Hamza. Ia menyampaikannya bahwa musim hujan kali ini harus diwaspadai. Sebab, kata Hamza, dari pantauan BMKG, La nina sudah bergeser ke wilayah Indonesia.

"Jadi La nina itu telah kita pantau di pasifik ekuator, mulai dari sebelah barat Amerika, sampai Indonesia. Hasilnya pasifik ekuator tersebut suhu muka lautnya mendingin, jadi yang hangat bergeser ke maritim continent, atau Indonesia," ujar Hamza saat dikonfirmasi, Rabu (18/11/2020).

Adapun akibat dari La Nina ini, menurutnya, terjadi peningkatan curah hujan yang mencapai 20 hingga 40 persen. Hamzah menyebutkan, hal ini akan bergantung pada fenomena perubahan cuaca di wilayah masing-masing.

"Karena bertepatan dengan musim hujan, dapat memicu hujan yang lebih lebat, sekitar 20-40 persen dari normalnya. Jadi jika di suatu wilayah itu misalnya curah hujan yang jatuh itu 1000 mm, itu akan menambah akumulasi, menjadi sekitar 1200-1400 mm, ini yang harus kita waspadai," paparnya.

Selain itu, intensif pergerakan angin akan meningkatkan lebih dari 15 knot. Namun kata Hamzah, ditahap awal ini masih minim terjadi."Juga yang perlu diwaspadai adalah hembusan angin yang diprediksi lebih dari 15 knot, atau sekitar 30 km perjam. Dan akan sering sekali terjadi, walaupun ditahap awal ini masih mikro, atau wilayah yang terdampak masih sangat kecil," jelasnya.

"Semua wilayah di Sulsel itu akan terkena pengaruh La Nina ini, meski tiap - tiap daerah itu berbeda. Tapi tetap ada pengaruh penambahan curah hujan dari adanya La Nina tersebut. Tidak ada daerah di selatan yang luput, memang ada perbedaan ditiap wilayah, ada yang lebih dahsyat atau lebih besar, tapi harus kita waspadai itu daerah barat di Sulawesi Selatan," sambungnya.

Olehnya itu, pihaknya mengimbau kepada seluruh pemerintah daerah di Sulsel agar mempersiapkan dampak dari situasi tersebut."Penambahan curah hujan ini akan berdampak pada wilayah yang tidak siap menerima akumulasi jumlah curah hujan. Sehingga harus dipastikan bahwa beberapa wilayah harus memastikan kesiapannya, seperti apakah sungainya terjadi sedimentasi atau alirannya masih bagus. Begitu juga dengan wilayah pegunungannya, apakah pegetasinya masih berfungsi dengan baik atau tidak, kalau tidak itu rentan," tuturnya.

Sebab, kata dia, La Nina diperkirakan akan terjadi sampai akhir tahun, bahkan hingga April 2021."Ini yang kami perkirakan akan bertahan terus sampai pergantian tahun. Bahkan memasuki tahun baru akan eksis, mungkin sampai bulan April 2021," imbuhnya.

Hamzah mengimbau bahwa akan terjadi puncak musim hujan pada bulan Januari dan Februari 2021. Hal ini yang cukup akan berpengaruh terhadap La nina."Puncak musim hujan, itu pada Januari dan Februari, disitu pengaruhnya akan lebih besar. Untuk bulan Januari normal curah hujannya itu sekitar 700-800 mm," tambahnya.

Diketahui, La Nina terjadi secara priodik, untuk La Nina paling cepat terjadi 2 tahun, paling lama 5 tahun. Dan biasanya sebelum terjadi La Nina, disertai dengan terjadinya El Nino.

Penulis: Fitria Nugrah Madani/A