Skip to main content

Studi mengungkap, Ada Kaitan Orang Depresi Berisiko mengalami Stroke

Ada Kaitan Antara Depresi dan Penyakit Stroke
Ilustrasi depresi. (Pixabay/HolgersFotografie)

KABAR.NEWS - Sakit stroke bukan saja disebabkan faktor biologis, namun ternyata pemicu penyakit ini dapat dipicu oleh kondisi psikis seperti stres atau depresi.


Merasa tertekan dapat meningkatkan risiko stroke, setidaknya di antara orang dewasa yang lebih tua. Hal itu terungkap dalam sebuah studi berjudul High Number of Depression Symptoms linked to Increased risk of Stroke yang akan dipresentasekan pada pertemuan tahunan American Academy of Neurology, di Philadelphia, Mei 2019.


Baca juga: Kenali Gejala dan Pengobatan Kanker Darah: Penyakit yang Dialami Ani Yudhoyono

Untuk mengidentifikasi kaitan depresi dan stroke, para peneliti melibatkan sekitar 1.100 orang yang tinggal di New York City, Amerika Serikat (AS) yang berusia rata-rata 70 dan tidak pernah mengalami stroke. 


Dilansir dari Live Science, paada awal penelitian, peserta mengisi survei yang dirancang untuk mengukur gejala depresi, seperti merasa sedih. Berdasarkan survei, orang-orang diberi skor depresi mulai dari 0 hingga 60, dengan skor lebih dari 16 dianggap berisiko mengalami stroke.

 

Peserta kemudian dipantau selama 14 tahun, dan selama waktu itu, sekitar 100 dari mereka mengalami stroke. Mereka yang melaporkan gejala depresi yang meningkat mencapai 75 persen lebih mungkin untuk mengalami stroke iskemik. Stroke iskemik terjadi disebabkan ketika aliran darah ke bagian otak tersumbat (jenis stroke yang paling umum) dibandingkan mereka yang tidak memiliki gejala depresi.


Secara keseluruhan, sekitar 11 persen dari peserta dengan skor depresi tinggi mengalami stroke, dibandingkan dengan hanya 7 persen dari mereka yang memiliki gejala depresi rendah atau tidak.


Peneliti utama pada studi ini, Dr. Marialaura Simonetto, dari Department of Neurology di University of Miami Miller School of Medicine mengatakan temuan ini masih awal dan sebagai referensi secara umum.

 

"Tetapi jika hasilnya dikonfirmasi, deteksi dini dan pengobatan [depresi] akan menjadi lebih penting," kata Dr. Marialaura Simonetto dalam kata pengantar penelitiannya, dikutip Kamis (7/5/2019).


Temuan diadakan bahkan setelah para peneliti memperhitungkan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi risiko orang terkena stroke, seperti diabetes, tekanan darah tinggi, merokok dan konsumsi alkohol.


Namun, penting untuk dicatat bahwa penelitian ini hanya menemukan hubungan dan tidak dapat membuktikan bahwa depresi menyebabkan stroke. 


Simonetto berpendapat, penelitian di masa depan akan diperlukan untuk memahami bagaimana gejala depresi dapat mempengaruhi sistem kardiovaskular dan meningkatkan risiko stroke.


Baca juga: Studi: Gaji Seseorang Dapat Meningkatkan Resiko Penyakit Jantung

Studi saat ini berfokus pada risiko stroke pada populasi minoritas; sekitar 69 persen partisipan adalah keturunan hispanik, jadi tidak jelas seberapa baik temuan ini berlaku untuk populasi lain.


Temuan ini dirilis hari ini (6 Maret) dan akan disajikan pada bulan Mei di pertemuan tahunan American Academy of Neurology, di Philadelphia. Studi ini belum dipublikasikan dalam jurnal peer-review.

 

 

loading...