Studi: Hoaks Lebih Banyak Disukai di Facebook dibanding Berita Fakta

Hasil studi dari dua universitas

Studi: Hoaks Lebih Banyak Disukai di Facebook dibanding Berita Fakta
Ilustrasi Facebook. (KABAR.NEWS/Arya)












KABAR.NEWS, Makassar - Berita dan informasi hoaks atau misinformasi lebih banyak disukai, dikomentari dan dibagikan di Facebook dibanding sebuah berita yang benar-benar mengungkap fakta. 


Hal itu berdasarkan sebuah studi terbaru dari para peneliti di New York University, Amerika Serikat dan Universite Grenoble Alpes, Prancis, seperti dilansir The Washington Post.


Mengutip laporan The Verge, Minggu (5/9/2021), riset tersebut menunjukkan bahwa informasi yang salah mendapat enam kali lebih banyak keterlibatan di Facebook daripada berita nyata.


Studi ini mempelajari postingan-postingan halaman Facebook dari 2.500 media massa, antara Agustus 2020 dan Januari 2021. Para peneliti menemukan bahwa halaman yang memposting lebih banyak informasi yang salah secara teratur mendapat lebih banyak suka, bagikan dan komentar. 


Keterlibatan atau engagement mendapat like dan share jika postingan tersebut bernuansa politik. Peneliti menemukan, postingan halaman Facebook yang berafiliasi dengan kelompok politik sayap kanan jauh lebih banyak disukai daripada penerbit dalam kategori politik lainnya.


Salah satu anggota peneliti bernama Laura Edelson mengatakan kepada The Verge, bahwa hasil penelitian ini akan dipaparkan dalam forum Internet Measurement Conference 2021 pada bulan November.


Menanggapi hasil penelitian ini, seorang juru bicara Facebook menjelaskan bahwa riset dari dua universitas ini hanya melihat "engagement" dan bukan "reach" atau jangkauan.


Jangkauan adalah istilah yang digunakan oleh perusahaan media sosial ini untuk menggambarkan berapa banyak orang yang melihat konten di Facebook, terlepas dari apakah mereka berinteraksi dengan unggahan tersebut.


Laporan The Verge menyebut, Facebook tidak bersedia memberikan data jangkauan postingan kepada para peneliti. Sebaliknya, mereka dan orang lain yang ingin memahami dan mengukur masalah misinformasi platform di media sosial, hanya bisa mengakses tools CrowdTangle yang dimiliki oleh Facebook.


Pada Agustus kemarin, Facebook memutuskan akses kelompok peneliti ini ke data ini (juga ke perpustakaan iklan politik di platform). Facebook mengatakan bahwa membuka akses peneliti pihak ketiga ke data dapat melanggar kesepakatan dengan Komisi Perdagangan Federal yang dibuat setelah skandal Cambridge Analytica - klaim yang menurut FTC "tidak akurat."


CrowdTangle adalah alat yang digunakan kolumnis teknologi New York Times, Kevin Roose, untuk membuat daftar posting reguler yang paling banyak berinteraksi di Facebook. Praktik ini membuat gusar karyawan top di dalam perusahaan, karena daftar tersebut secara teratur didominasi oleh halaman sayap kanan yang memposting banyak informasi yang salah.


Dalam upaya untuk menolak klaim bahwa informasi yang salah adalah masalah di Facebook, perusahaan merilis "laporan transparansi" pada bulan Agustus yang meletakkan posting yang paling banyak dilihat di platform selama kuartal kedua tahun ini. 


Namun, hanya beberapa hari kemudian, The New York Times mengungkapkan bahwa Facebook telah membatalkan rencana untuk merilis laporan tentang kuartal tersebut karena unggahan yang paling banyak dilihat antara Januari dan Maret adalah artikel sesat yang mengaitkan vaksin virus corona dengan kematian seorang dokter Florida.


Postingan Facebook tersebut banyak digunakan oleh fanpage politik sayap kanan untuk menabur keraguan tentang kemanjuran vaksin Covid-19.