Skip to main content

Siswa - Siswi Maros di Sekolah Terpencil Merindukan Sosok Guru

Salah satu murid Yuliana bersama Koordinator Indonesia Timur Lembaga Keluarga Peduli Pendidikan (KerLiP) Bagus Dibyo Sumantri di Dusun Bara, Desa Bonto Somba Kecamatan Tompobulu Kabupaten Maros, Sulawesi selatan. (KABAR.NEWS/Asiz)

KABAR.NEWS, Maros - Sejatinya dunia pendidikan sepertinya tidak kunjung teratasi atau merata khususnya di pelosok Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Meskipun beragam cara dan berbagai program telah diluncurkan oleh pemerintah dalam mencerdaskan generasi muda sebagai penerus bangsa.

Bukan kepada mereka, para penerus bangsa yang tidak memiliki keinginan untuk cerdas dan mengenyam pendidikan. Melainkan dibeberapa wilayah pelosok tanah air justru karena sebuah keterbatasan yang menjadi penghambat bagi mereka untuk menempuh pendidikan yang layak.

Sebuah tempat diatas pegunungan di Dusun Bara, Desa Bonto Somba Kecamatan Tompobulu Kabupaten Maros, sulawesi selatan. Yang dihuni sekitar 400 orang kepala keluarga ini, memiliki kepedulian yang tinggi terhadap dunia pendidikan.

Di daerah terpencil ditempat ini di bangun sebuah sekolah dari swadaya masyarakat, yang kini berstatus sebagai kelas jauh Yayasan Pondok Pesantren Al-Muhajirin DDI Sakeang, Maros.

Mirisnya, di sekolah yang terbagi 53 orang murid tingkatan Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan 20 orang siswa-siswi ditingkatkan Madrasah Tsanawiyah (MTs) ini, justru memiliki kerinduan yang sangat tinggi terhadap seorang guru.

Adalah Yuliana, salah satu murid kelas 4 MI DDI Bara (kelas jauh DDI Sakeang), saat ini memiliki cita-cita untuk menjadi seorang dokter. 

Dia bersama teman sekolahnya saat disambangi Lembaga Keluarga Peduli Pendidikan (KerLiP), memperlihatkan antusias mereka yang sangat tinggi untuk belajar, namun minimnya tenaga pengajar ditempat ini dapat mengancam cita-cita yang  didambakan para penerus bangsa ini.

"Om kapan balik lagi om, besok kesini lagi yah,"!!! tanya Yuliana dengan mata penuh harap, saat rombongan hendak meninggalkan lokasi.

Dari pantauan KABAR.NEWS saat rombongan KerLip berinteraksi dengan para siswa dan siswi di sekolah, Rabu (10/1/2018). Minat belajar mereka sangat tinggi meskipun hanya berdasarkan pada modul seadanya yang sudah usang. Bahkan belajar tanpa meja dan kursi tidak menjadi penghambat bagi mereka.

"Nama saya Yuliana, tinggal di dusun bara, cita-cita saya jadi dokter," Jawab Yuliana, saat memperkenalkan diri.

Diketahui, di atas bangunan sekolah yang sangat sederhana yang di bangun dari bahan bangunan bekas ini. Sebelumnya hanya ditempati seorang diri guru pengajar berstatus sukarela. 

Hal itupun aktivitas belajar mengajar hanya dilakukan satu sampai dua kali dalam sepekan setiap sabtu dan minggu. Ini dikarenakan untuk mengakses lokasi sekolah, membutuhkan waktu kurang lebih 5 jam lamanya berjalan kaki dengan medan terjal dan mendaki di  hutan pegunungan, dari tempat tinggal sang guru.

Salah seorang warga setempat, Sabaria yang juga merupakan orang tua siswa mengatakan, sudah sepekan lamanya tidak ada lagi seorang guru yang datang mengajar ke sekolah Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs) DDI Bara ini.

"Dulu pernah ada pengajar tetap, tapi sejak seminggu ini tidak ada lagi. Biasanya juga hanya mahasiswa dan relawan yang mengisi pembelajaran tapi tidak menetap hanya musiman, mungkin karena jauh atau dia sedang sibuk," tutur Sabaria.

Sementara itu, Koordinator Indonesia Timur Lembaga Keluarga Peduli Pendidikan (KerLiP) Bagus Dibyo Sumantri saat menyambangi sekolah tersebut mengungkapkan keprihatinannya terhadap para siswa dan siswi di pelosok ini. 

Baginya, tidak menutup kemungkinan diantara siswa dan siswi di sekolah ini ada yang menjadi menteri kedepannya. Apalagi minat belajar mereka sangat tinggi meskipun serba terbatas dan minimnya tenaga pengajar.

"Semua yang melihat kondisi sekolah seperti ini pasti akan merasa sedih, meskipun semangat belajar para siswa sangat tinggi dan antusias orang tua sampai harus mengantar dan menunggu anaknya kembali pulang sekolah," ungkapnya.

Bagus yang saat itu ditanya oleh salah seorang siswi yakni Yuliana, terkait kapan ia kembali menyambangi para siswa dan siswi disusun bara. Hanya bisa berdiam diri dan menarik nafas dengan mata berkaca-kaca. Dan mengatakan akan berusaha kembali lagi, meskipun belum mengetahui jadwal pastinya.

Ia berharap, adanya perhatian khusus pihak sekolah, pemerintah daerah setempat dan semua pihak termasuk NGO untuk bergerak bersama-sama mengatasi permasalahan pendidikan di Dusun Bara.

"Disini ada harapan yang luar biasa, Saya berharap pemerintah atau semua pihak baik NGO dan lainnya bergerak bersama sama. Karena disini lokasinya terpencil dan sangat butuh pendidikan yang layak. Saya fikir tidak bisa satu sekolah atau kelas berbeda hanya satu guru, itupun tingkatannya berbeda-beda," jelasnya.

Minimnya tenaga pengajar ditempat ini, menjadi salah satu alasan bagi para siswa dan siswi merindukan sosok guru. Apalagi, minat  belajar para penerus bangsa ini sangat tinggi. 

Meskipun untuk ke sekolah, mereka harus diantar oleh orang tua mereka masing-masing. Hal ini Lantaran, dari rumah ke sekolah terkadang harus melintasi hutan dan sungai diperbukitan pegunungan, yang tak jarang berhadapan dengan binatang buas.

  • Asiz