Segera Difungsikan, Jembatan Palopo-Toraja Didesain Tahan Gempa

Dibangun oleh Kementerian PUPR

Segera Difungsikan, Jembatan Palopo-Toraja Didesain Tahan Gempa
Jembatan penghubung Kota Palopo - Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan yang dibangun Kementerian PUPR dan diabadikan pada 31 Agustus 2021. (Dirgawansyah for KABAR.NEWS)












KABAR.NEWS, Palopo - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Direktorat Jenderal (Ditjen) Bina Marga tengah menyelesaikan tahap akhir konstruksi Jembatan Palopo di Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel).


Jembatan sepanjang 100 meter ini dibangun sebagai penghubung utama transportasi darat dari arah Kota Palopo ke Kabupaten Toraja Utara dan sebaliknya.


Pemerintah membangun jembatan ini setelah jalan poros Toraja Utara - Palopo sepanjang 60 sampai 70 meter yang berada di Kecamatan Battang Barat, terputus disapuh longsor pada pertengahan tahun 2020.


Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan, pembangunan jalan dan jembatan memiliki peran penting sebagai tulang punggung pengembangan konektivitas antar-wilayah dalam rangka memperlancar distribusi logistik di Indonesia.


"Konektivitas yang semakin lancar akan mengurangi biaya angkut kendaraan logistik dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah," ujar Basuki dalam keterangan tertulis seperti dikutip Antara, Selasa (7/9/2021).


Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) II.4 Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Sulsel, Wido Kharisma mengatakan, jembatan penghubung Palopo - Toraja memiliki lebar 7 meter dan panjang 100 meter. Posisi jembatan ini dikelilingi pegunungan dan sedang dalam tahap pengaspalan.


Jembatan bercat merah putih ini dibangun menggunakan rangka baja berteknologi Lead Rubber Bearing (LRB) atau dalam bahasa konstruksi disebut Bantalan Karet Timah. 


Teknologi LRB memiliki kemampuan seismic joint yang berfungsi meredam guncangan tanah saat terjadi gempa bumi. Konstruksi jembatan berteknologi LRB banyak digunkan di negara Selandia Baru sebagai pencetus teknologi ini.


Desain jembatan diperuntukan untuk kendaraan dengan muatan sumbu terberat (MST) sebesar 10 ton. Dengan beban muat seperti itu, jembatan Palopo - Toraja dapat dilalui kendaraan hingga belasan roda.


“Saat ini progres konstruksi jembatan sudah mencapai 97 persen dan tinggal perbaikan dan kelengkapan minor saja. Semoga kondisi cuaca mendukung, karena kendala yang dihadapi adalah cuaca ekstrem. Kondisi di sekitar jembatan merupakan tebing-tebing tinggi sehingga bila hujan lebat rawan terjadi longsor,” kata Wido.


Setelah konstruksi selesai, BBPJN Sulsel akan melakukan uji beban terlebih dahulu bersama instansi terkait dikarenakan Jembatan Palopo termasuk dalam kriteria jembatan khusus dengan panjang bentang 100 meter.


Selanjutnya Jembatan Palopo dapat beroperasi untuk memperlancar arus distribusi logistik dan juga mobilitas masyarakat Sulawesi Selatan, khususnya Kota Palopo dan Kabupaten Toraja Utara.


Sebelumnya, Ditjen Bina Marga melalui BBPJN Sulsel telah membangun jembatan gantung yang dapat dilalui kendaraan roda dua untuk mendukung lalu lintas sementara pasca bencana. 


Selama satu tahun terakhir, jembatan gantung inilah yang menjadi penyangga utama mobilitas kendaraan roda dua dari Palopo - Toraja dan arah sebaliknya. Bagi kendaraan roda empat, harus memutar ke Kabupaten Enrekang atau melalui jalan berlumpur di wilayah Kabupaten Luwu untuk tembus ke Toraja.