Satu Keluarga di Sinjai Tinggal di Gubuk Reyot Tanpa Bantuan Pemerintah

*Dekat kantor Bappeda Sinjai

Satu Keluarga di Sinjai Tinggal di Gubuk Reyot Tanpa Bantuan Pemerintah
Gubuk Timang yang ditempati bersama Suami dan Anaknya di Kelurahan Biringere, Kecamatan Sinjai Utara, Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan. (KABAR.NEWS/Syarif)






KABAR.NEWS, Sinjai - Satu keluarga yang berdomisili di Kelurahan Biringere, Kecamatan Sinjai Utara, Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, menempati gubuk yang jauh dari kata laik huni.


Gubuk yang ditempati pasangan Timang dan Sahruddin itu nampak menggunakan material dari barang bekas, seperti baliho yang dimanfaatkan sebagai atap, tripleks bekas sebagai dinding dan bambu sebagai penyangga tiang.


Timang, yang ditemui di gubuknya pada Rabu (9/2/2022) mengaku dirinya sudah tinggal lama di Sinjai sebelum menempati Gubuk Reyot itu. Sebelum menempati gubug itu, Timang dan Saharudin menyewa rumah di jalan Jendral Sudirman, Sinjai. 


Namun, karena tidak sanggup membayar kontrakan, ia dan suami serta anaknya (Mutiara) yang berumur 2 tahun memilih mendirikan Gubuk di lahan milik Pemprov Sulsel yang bersebelahan dengan kantor Bappeda Sinjai.


Saat ditanya terkait bantuan pemerintah Kabupaten Sinjai, Timang mengaku masih ber-KTP elektronik daerah lain. Namun suaminya Saharudin, sudah ber-KTP elektronik Kabupaten Sinjai. 


"Tidak ada bantuan pak, karena saya masih ber-KTP Bantaeng, mungkin faktor itu sehingga saya tidak dapat bantuan, tetapi suami saya sudah ber-KTP Sinjai," jelasnya.


Untuk menyambung hidup di gubuk reyot tersebit, Timang berbagi tugas dengan suaminya yang bekerja sebagai pemulung barang bekas. Ironisnya, Mutiara, yang berusia dua tahun ikut bersama Saharuddin mengais barang bekas.


"Jadi saya dan suami berbagi tugas, suami yang mencari barang bekas (plastik gelas air kemasan), saya yang membersihkan lalu menyusunnya di dalam karung, untuk mempercepat pekerjaan, Mutiara digendong bapaknya mencari barang bekas," ungkapnya .


Dirinya mengaku, dari hasil jualan barang bekas hanya cukup untuk makan. Namun, Timang juga berharap ada perhatian pemerintah sebagai warga negara.


"Alhamdulillah, meskipun hasil menjual barang bekas hanya untuk makan namun saya dan suami selalu mensyukurinya, tetapi, dalam hati, sebagai warga negara Indonesia, saya juga berharap pemerintah memberikan perhatian kepada saya," harapnya.


Penulis: Syarif/A