Skip to main content

Review Film Ati Raja, Kisah Cinta Warga Keturunan dan Pribumi

ati raja
Acara nonton bersama Film Ati Raja oleh Bank Indonesia. (Ist)

KABAR.NEWS, Makassar - Film Ati Raja mulai tayang perdana di bioskop tanah air, Kamis (7/11/2019). Film produksi Persaudaraan Peranakan Tionghoa Makassar (P2TM) serta 786 Production adalah original karya lokal Sulsel yang ditulis dan disutradarai oleh Shaifuddin Bahrum. 


Ati Raja yang dimaknai oleh penulisnya yang berarti bebesaran hati merupakan lagu daerah yang sebelumnya tidak diketahui  penciptanya dan menuliskan NN (No Name) pada kolom pencipta. 


Dengan menonton film tersebut masyarakat akan tahu siapa dari pengarang lagu Ati Raja tersebut yang diceritakan dalam film dengan nama Ho Eng Dji, keturunan Tionghoa yang lahir di Kassi Kebo Kabupaten Maros tahun 1906 dan meninggal pada tahun 1960.


Atmosfer dalam film tersebut menunjukkan suasana kota Makassar pada tahun 1930-1940, musik-musiknya pun berlanggam musik tempo dulu.


Ho Eng Dji atau yang disapa Baba Tjoi adalah seorang penyair dan musisi yang sangat suka minum Ballo (tuak khas Makassar), dan berjuang untuk mengangkat derajat ekonomi keluarga setelah ayahnya ditipu oleh rekan bisnisnya. 


Tidak hanya itu, dalam kisah Baba Tjoi juga membahas lika liku kisah cinta dengan beberapa gadis, gadis pribumi yang tinggal di pulau Mutiara serta gadis cantik Tionghoa yang kerap menghianati Baba karena orang tuanya tidak merestui. Serta janda cantik Tionghoa beranak tiga yang dinikahi dan menjadi tambatan hatinya pada akhir film tersebut. 


Baba Tjoi sangat lancar berbahasa Makassar dan menulis lontara, terlihat dari karya-karya lagu yang ia buat (Ati Raja, Sailong, Dendang-dendang,dan Amma Ciang). Ia menjadi sosok yang betul-betul melebur menjadi pribumi Makassar.


Baca juga: Nobar Film Ati Raja, Walikota Makassar: Angkat Kearifan Lokal


Selain itu Baba Tjoi adalah sosok yang sabar dalam menghadapi getirnya hidup dimasa itu, dimana pada saat ayahnya meninggal. Ia tetap bertahan dipenjara untuk menjalani masa hukuman yang ia terima karena kasus perkelahian yang menyebabkan kecelakaan sehingga lawannya meninggal


Ia memilih untuk tidak ikut dalam prosesi pemakaman ayahnya dan mengatakan bahwa ini adalah jalan dan ketentuan dari ilahi untuk ayahnya. 


Karena kebesaran jiwanya pulalah yang menyebabkan Baba Tjoi dan group musiknya membuat salah seorang produser rekaman dari Surabaya tertarik untuk merekam seluruh karya-karyanya, pada kesempatan itu Ia merekam lagu-lagu Makassar ciptaannya.


Hingga tahun 1942, Ho Eng Dji berhasil menyelesaikan rekaman musik daerah Sulawesi Selatan (bukan hanya Makassar tetapi juga Bugis, Mandar, dan Selayar). Sebanyak 3 album piringan hitam dalam kurun waktu 4 tahun.


Ending dari film tersebut diselesaikan dengan animasi pendek peperangan.


Adapun para pemeran yang terlibat dalam filem Ati Raja di antaranya Fajar Baharuddin (Ho Eng Dji) , Jennifer Tungka, Stephani Andries, Chesya Tjoputra, Goenawan Monoharto, Zulkifli Gani otto, Noufah A. Patajangi, Saenab Hasmar, Agung Iskandar, dan Gregorius.


Namun ada hal yang menggelitik saya pada saat menonton filem tersebut tentang salah seorang tukang becak yang menyebutkan nama Setan Sumiati, padahal urban legend Sumiati lahir di Tahun 1990an bukan di tahun 1930 -1940.


*Mustawaf Ansar/Cp/B
 

 

loading...