Skip to main content

Remaja Pecandu Sabu & Tembakau Gorila Dominasi Pasien Rehab di Sulsel

Remaja Pecandu Sabu & Tembakau Gorila Dominasi Pasien Rehab di Sulsel
Pelaku narkotika dijaga ketat petugas bersenjata saat dirilis di kantor BNN Provinsi Sulsel beberapa waktu yang lalu. Ilustrasi. (KABAR.NEWS/Irvan Abdullah)

KABAR.NEWS, Makassar - Penyalahgunaan zat psikotropika atau narkoba di Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) cukup mengkhawatirkan. Salah satu indikasinya adalah jumlah pecandu yang direhabilitasi oleh Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Sulsel.


Selama 2020, BNNP Sulsel dan Balai Rehab Baddoka yang berkantor di Kota Makassar, sudah merehab ratusan pecandu narkoba berbagai golongan dan jenis.


"Januari sampai dengan Juni, pecandu narkoba yang direhab di BNNP dan Balai Rehab Baddoka sebanyak 263 orang," ujar Kepala Bidang Rehabilitasi BNNP Sulsel, Sudaryanto, kepada KABAR.NEWS, Senin (29/6/2020).


Baca juga: Kasus Narkoba di Makassar Meningkat Tahun 2019, Pelaku Didominasi Pengangguran


Dari jumlah pasien yang direhab pada Januari sampai Juni tahun lalu, Sudaryanto menyebut mengalami penurunan dibanding semester awal 2020.

 

Selama tahun lalu, BNNP Sulsel mencatat 1.334 pecandu yang direhab dan 667 orang menjalani rehab di Januari-Juni 2019.


a
Narkoba jenis sabu. Ilustrasi. (KABAR.NEWS/Irvan Abdullah)

Sudaryanto menjelaskan, sebagian besar pencandu narkoba yang direhabilitasi semester tahun ini didominasi kalangan berusia remaja dan mereka ketergantungan zat psikotropika jenis sabu.


"Berdasarkan kelompok umur, semakin bergeser ke kelompok umur remaja, paling tinggi. Kemudian anak sebelum remaja. Rata-rata pecandu sabu," jelas dia.

 

Yang mengkhawatirkan, angka pecandu zat psikotropika jenis Tembakau Gorila atau Ganja Sintetis yang direhabilitasi sepanjang 2020 cukup tinggi dibanding ganja murni.


Data BNNP Sulsel menunjukkan, persentase pemakai narkoba golongan 1 ini atau tembakau gorila sebanyak 9,07 persen. Angka tersebut jauh di bawah pecandu narkoba jenis sabu yang direhab sebanyak 69,55 persen.

 

Sementara, persentase pemakai ganja mencapai angka 4,32 persen atau berada di urutan keempat pengguna narkoba yang direhab di BNNP Sulsel dalam waktu 6 bulan terakhir. Di bawahnya ada pemakai obat tramadol sebesar 5,18 persen.


Sudaryanto melanjutkan, pihaknya belum bisa memastikan apakah persentase penyalahgunaan narkoba di Sulsel meningkat atau tidak dibanding tahun sebelumnya. Dia hanya menyebut elayanan rehabilitasi sempat ditutup karena pandemi Covid-19.


Baca juga: Dipesan Warga Sidrap, MR Sembunyikan 81 Gram Sabu dalam Dubur


Selain itu, dia menjelaskan bahwa ada beberapa kategori pemakai narkoba yang bisa direhabilitasi. Namun jika pemakai narkoba tertangkap dan barang bukti melebihi dari yang sudah ditentukan maka akan ditetap diproses pidana.


"Satu yang pemakai dan melaporkan diri, akan direhab, dua yang ditangkap, tapi melalui asesmen terpadu, terbukti bahwa hanya pemakai saja, maka akan direhab juga. Nah kalau yang ketangkap dan barang buktinya lebih dari standar surat edaran MA, dan terbukti sebagai jaringan bandar atau pengedar atau kurir dan lain-lain, maka akan dihukum pidana," pungkasnya.


Berikut persentase pengguna narkoba yang direhabilitasi BNN Provinsi Sulsel selama 2020:


1. Sabu: 69,55%
2. Tembakau gorilla: 9,07%
3. Tramadol: 5,18%
4. Ganja: 4,32%
5. Lem: 3,46%
6. THD: 3,02%
7. Dextro: 2,38%
8. Aklprazolam: 1,51%
9. Subuxon: 0,86%
10. PCC: 0,22%
11. Inex: 0,22%


Penulis: Reza Rivaldy/A

 

Flower

 

loading...