Skip to main content

Ralat: Game Fortnite Ternyata tak Inspirasi Brendon Tarrant Lakukan Aksi Penembakan Brutal

Teroris
Detik-detik aksi penembakan brutal yang dilakukan oleh Brendan Tarrant.


KABAR.NEWS - Salah satu pelaku penembakan brutal di dua masjid di wilayah Christchurh, Selandia Baru, Brendon Tarrant menuliskan sebuah manifesto bertajuk "The Great Replacement"yang berisi 73 halaman. 


Dalam manifesto itu ia membuat tulisan yang seakan memiliki format tanya-jawab yang disebarkannya via media sosial. Pria berusia 28 tahun ini sempat menyebut nama sejumlah game di dalamnya, termasuk 'Spyro the Dragon' dan 'Fortnite'.


Bagian potongan dari tanya-jawab dalam manifestonya sebagai berikut: 


"Apakah kau diajari kekerasan dan ekstremisme oleh video games, musik, literatur, dan drama?


"Iya, 'Spryo the Dragon 3' mengajarkan saya etno-nasionalisme. Fortnite mengajarkan saya untuk jadi pembunuh dan ber-floss di atas mayat musuh-musuh saya. Tidak," bunyi tulisan Tarrant.


Kalimat yang ditulis Tarrant di atas bisa diartikan sebagai bantahan. Tindakan brutalnya tersebut tidak terinspirasi dari video game. Hal ini dipertegas dengan adanya kata "No" (Tidak) pada akhir kalimat, yang bisa diartikan sebagai: "Tentu saja tidak".


Dalam manifesto tersebut, Tarrant dengan tegas menyatakan inspirasinya dalam melakukan aksi ini berasal dari Andres Breivik. Hal ini ia ungkap dalam salah satu tanya-jawab dalam manifesto tersebut.


"Apakah keyakinanmu terinspirasi dari penyerang lain?"


"Saya membaca tulisan Dylan Roof dan banyak lainnya, tapi satu-satunya inspirasi saya adalah dari 'Knight Justiciar' Breivik," kata Tarrant, yang maksudnya adalah Anders Breivik.


Anders Breivik merupakan pelaku pembunuhan 77 orang dalam aksi pengeboman yang ia lakukan di Oslo, Norwegia, dan kemudian melakukan aksi penembakan. Dalam aksinya itu, Breivik juga mengatakan, serangan itu harus ia lakukan untuk menghentikan 'islamisasi' di Norwegia.


Sebelumnya, media Sydney Morning Herald hanya mengutip sebagian kalimat tersebut, yaitu: "Fortnite mengajarkan saya jadi pembunuh". Potongan kalimat ini memiliki konteks berbeda dengan kalimat penuh dalam dokumen manifesto yang asli, yaitu "menginspirasi".


Note Redaksi: Berita ini merupakan ralat dari berita sebelumnya yang sudah dimuat setelah melansir dari The Sydney Morning Herald dan dikutip dari Kumparan. Redaksi memohon maaf atas kekeliruan berita sebelumnya.

 

loading...