Presiden Melarikan Diri, Taliban Tancapkan Kekuasaan di Kabul Afghanistan

Taliban hampir menguasai seluruh kota di Afghanistan termasuk Kabul

Presiden Melarikan Diri, Taliban Tancapkan Kekuasaan di Kabul Afghanistan
Pejuang Taliban berpatroli di dalam kota provinsi Kandahar barat daya, Afghanistan, Minggu, 15 Agustus 2021. (AP Photo/Sidiqullah Khan)






KABAR.NEWS, Kabul - Situasi keamanan di Afghanistan semakin memburuk setelah Joe Biden memutuskan menarik pasukan Amerika Serikat dan sekutu pasca peperangan dua dekade di negara ini. 


Kini, kelompok milisi Taliban dilaporkan sudah menguasai 24 ibu kota provinsi termasuk menduduki ibu kota Negara, Kabul, pada Minggu (15/8/2021) waktu setempat.


Melansir Reuters, situasi di Afghanistan semakin tidak stabil tatkala Presiden Ashraf Ghani disebut mengundurkan diri dari jabatannya dan meninggalkan negara yang gagal mencapai kesepakatan damai dengan Taliban.


Menurut pejabat pemerintah di negara tersebut, Presiden Ghani melarikan diri dari Afghanistan beberapa jam setelah milisi Taliban memasuki Kabul. Belum jelas ke mana dia kabur. 


Seorang pejabat senior Kementerian Dalam Negeri Afghanistan mengatakan, presiden telah pergi ke Tajikistan, sementara seorang pejabat Kementerian Luar Negeri mengatakan lokasinya tidak diketahui dan Taliban mengatakan sedang mencari keberadaannya.


Beberapa pengguna media sosial lokal mencap Ghani yang merupakan Antropolog lulusan Amerika, sebagai "pengecut" karena meninggalkan mereka dalam kekacauan. (Baca juga: Afghanistan Harap JK Jadi Fasilitator Perdamaian dengan Taliban)


Masih menurut kantor berita Reuters, di Kota Kabul hari ini sempat terdengar beberapa kali tembakan sporadis oleh milisi Taliban. Dua komandan senior kelompok gerilyawan tersebut mengklaim, pihaknya sudah menguasai istana presiden. Pemerintah Afghanistan tidak mengkonfirmasi hal ini.


Taliban di ambang mengambil alih negara itu setelah 20 tahun lalu mereka digulingkan oleh invasi pimpinan Amerika. Kelompok gerilyawan tersebut mengatakan, sedang menunggu pemerintah yang didukung Barat untuk menyerahkan kekuasaan secara damai.


Sementara, ratusan warga Afghanistan, beberapa dari mereka menteri dan pegawai pemerintah dan juga warga sipil termasuk banyak wanita dan anak-anak, berdesakan di Bandara Kabul dengan putus asa menunggu penerbangan keluar.


"Bandara di luar kendali ... pemerintah (Afghanistan) baru saja menjual kami," kata seorang pejabat Afghanistan di tempat kejadian yang menolak disebutkan namanya karena alasan keamanan.


Amerika Serikat Evakuasi Diplomat


Di sisi lain, Amerika Serikat pada Minggu waktu setempat sudah mengevakuasi semua staf dan diplomatnya dari kantor kedubes di Ibu kota Kabul. Hal ini menunjukkan Taliban semakin menancapkan pengaruhnya.


Laporan sejumlah outlet media menyebut, orang-orang di kedubes Amerika dievakuasi melalui atap gedung menggunakan helikopter ke bandara. Sebelum dibawa pergi, para staf disebut membakar dokumen-dokumen yang dianggap penting. Kedutaan Negeri Paman Sam memperingatkan situasi di Kabul berubah dengan cepat.


"Situasi keamanan di Kabul berubah dengan cepat termasuk di bandara. Ada laporan bandara terbakar, oleh karena itu kami menginstruksikan warga AS untuk berlindung di tempat," kata peringatan keamanan kedutaan yang dilansir Reuters.


Menurut The Economist, kemampuan Taliban menguasai Kabul dan hampir semua ibu kota provinsi di negara tersebut, menandai lemahnya pemerintahan bentukan Amerika bersama sekutunya di Afghanistan sejak invasi tahun 2001. (Baca juga: Dulu Lawan, Kini Eks Pejuang Irak Takut Ditinggal Tentara AS)


Amerika dan negara-negara barat menghabiskan triliunan dolar untuk menduduki dan membangun kembali Afghanistan. Mereka membentuk pemerintahan demokratis hingga melatih 350 ribu orang sebagai tentara lokal. Kini ratusan ribu pasukan tersebut tak dapat membendung gerakan Taliban.


Direbutnya Kabul oleh Taliban menyisahkan pemerintah pusat Afghanistan kini hanya menguasai tujuh ibu kota provinsi secara de facto. Kelompok ini secara efektif menguasai hampir seluruh wilayah setelah serangan cepat dalam beberapa pekan terakhir.


Sebelum memasuki Kabul, kelompok milisi Islam ini sudah menguasai 23 ibu kota provinsi termasuk Jalalabad, yang merupakan ibu kota terbesar kedua di Afghanistan dan berbatasan dengan Pakistan.