PPNI Sulsel Beri Penghargaan Tertinggi untuk Perawat yang Gugur

- Perawat yang gugur diberi santunan

PPNI Sulsel Beri Penghargaan Tertinggi untuk Perawat yang Gugur
Penyerahan sertifikat untuk perwakilan keluarga perawat yang wafat oleh PPNI Sulsel. (IST)

KABAR.NEWS, Makassar - Dewan Pimpinan Wilayah (DPW)Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Provinsi Sulsel, memberi penghargaan tertinggi kepada perawat yang gugur saat menjalankan tugas menangani pasien Covid-19.


Ketua DPW PPNI Provinsi Sulsel, Abdul Rakhmat mengungkapkan penghargaan diberikan kepada keluarga almarhum sebagai bela sungkawa kepada korban yang telah berjuang, sekaligus memberikan santunan kepada keluarga almarhum dalam hal ini ahli waris sebagai bentuk bela sungkawa.


"Ini adalah wujud apresiasi kami sebagai organisasi profesi memberikan penghargaan tertinggi kepada perawat yang gugur atas perjuangannya saat menjalankan tugas," kata Rakhmat pada acara penyerahan penghargaan di Kantor PPNI Sulsel, Jalan Adiyaksa, Makassar, Sabtu (9/1/2021).
 

Meski tidak begitu banyak seperti santunan yang diberikan oleh pemerintah, Rakhmat berharap apa yang diberikan PPNI bisa bermanfaat untuk keluarka korban yang ditinggalkan.


"Nominalnya tida banyak seperti yang diberikan pemerintah, hanya Rp5 juta per orang. Dan saat ini tercatat sudah lebih 100 perawat yang gugur kami berikan di seluruh Indonesia," terangnya.

Di Sulsel sendiri sejauh ini, tercatat telah ada 5 orang perawat yang gugur karena berjibaku menangani pasien Covid-19. Dari 5 perawat tersebut, pihaknya telah megusulkan kepada pemerintah pusat dalam hal ini Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk masing-masing diberi santunan.


"Alhamdulillah tiga diantaranya sudah cair, nilanya Rp300 juta per orang. Sisa dua orang yang sementara kami tunggu progresnya dari pemerintah," katanya. 


Menurutnya,  santunan yang diberikan oleh pemerintah adalah kebijakan untuk mengapresiasi jasa-jasa para perawat yang gugur. Tidak hanya itu bagi perawat di setiap satuan kerja (Satker) non ASN juga mendapat santunan dari BPJS Ketenagakerjaan senilai Rp175 juta.


Hasrianti, istri almarhum Khaerul Arham, salah seorang perawat yang gugur saat bertugas di RS Wahidin,berharap banyaknya tenaga kesehatan yang gugur harusnya menggugah kesadaran masyarakat untuk senantiasa waspada dengan virus mematikan, Covid-19.


"Bahwa keselamatan para tenaga kesehatan ada di tangan kita semua, kalau kita lalai dan abai pada protokol kesehatan yang kewalahan adalah mereka yang ada di rumah sakit. Kematian suami saya mungkin adalah jalannya seperti ini," tandas Rakhmat.


Penulis: Rahma Amin/B