Polisi di Takalar Ungkap Penyelundupan BBM yang Dijual ke Pertamini

Diangkut pakai mobil yang dimodifikasi

Polisi di Takalar Ungkap Penyelundupan BBM yang Dijual ke Pertamini
Satu unit mobil yang diamankan polisi diduga melakukan penyalahgunaan BBM bersubsidi jenis  premium. (Ist)






KABAR.NEWS, Takalar - Mobil minibus yang mengangkut Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi diamankan polisi di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan. BBM dalam jumlah banyak ini dicurigai akan dijual secara eceran.


Kapolres Takalar AKBP Beny Murjayanto mengatakan, pengungkapan itu berawal saat pihaknya mengamankan satu mobil jenis minibus yang sedang mengisi bahan bakar di SPBU Panaikang, Jalan Poros Takalar-Gowa, pada Kamis (26/11/2020) lalu.


"Mobil itu sudah dimodifikasi dipasangkan tangki cadangan dan 6 buah jerigen di dalam mobil, kemudian memasangkan pompa sebagai penghisap BBM bersubsidi jenis premium," kata Beny kepada wartawan di kantornya, Rabu (2/12/2020).


Perwira polisi bepangkat dua melati ini juga menjelaskan, setelah melakukan gelar perkara, pihaknya sudah menetapkan satu orang sebagai tersangka berinisial Y (20) yang beralamat di Desa Manjummi, Kecamatan Binamu, Jeneponto.


Selain Y, kata Beny, pihaknya juga telah melakukan pemeriksaan terhadap dua orang operator SPBU Panaikang yakni MD (22) dan B (26).


"Kedua operator dari hasil gelar perkara yang dilakukan Unit Tipitdter Polres Takalar, MD 22 dan B 26 tidak terbukti melakukan pelanggaran statusnya sebagai saksi aja mas," ucap Beny.


"Pelaku modus operandinya melakukan pengisian BBM premium berpindah-pindah tempat dari SPBU ke SPBU yang lain. Barang bukti yang diamankan 1 unit mobil berwarna putih, 1 buah pompa dinamo sebagai pengisap BBM jenis premium dari tangki ke dalam tangki modifikasi, 6 buah jerigen kosong," sambungnya.


Dari hasil penyelidikan, pelaku Y ternyata sudah melakukan aksi tersebut sebanyak sembilan kali, dari hasil pengambilan BBM jenis premium itu kemudian Y menjualnya kepada para pelaku usaha Pertamini yang berada di Kabupaten Jeneponto.


"Pelaku Y disangkakan pelanggaran pidana yakni UU No. 22 tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi 
Pasal 55 yang berbunyi setiap orang yang menyalahgunakan pengangkutan dan atau Niaga Bahan Bakar Minyak yang disubsidi pemerintah dipidana dengan ancaman pidana penjara paling lama 6 tahun," tandas dia.


Penulis: Reza Rivaldy/B