Skip to main content

Pilot di AS Ternyata Sudah Sering Laporkan Masalah Boeing 737 MAX 8

Boeing
Ilustrasi.


KABAR.NEWS, Chicago - Jatuhnya pesawat Ethiopian Airlines di Kenya menjadi perhatian dunia penerbangan. Pasalnya, pesawat Ethiopian Airlines yang jatuh menggunakan jenis Boeing 737 MAX 8. Sebelumnya pesawat Lion Air yang jatuh di perairan Karawang juga menggunakan jenis Boeing 737 MAX 8.

 

Masalah Boeing 737 MAX 8 ternyata sebelumnya juga sudah pernah dilaporkan oleh pilot di Amerika Serikat (AS). Bahkan para pilot tersebut sudah melaporkan sebanyak lima kali sejak akhir tahun lalu. 


Baca Juga:

Dilansir AFP dan Politico, Kamis (14/3/2019), laporan-laporan pilot AS itu didapat dari pengkajian pada database insiden milik Otoritas Penerbangan Federal (FAA) yang memampukan para pilot melaporkan sendiri masalah-masalah yang muncul saat penerbangan. Identitas maupun maskapai sang pilot tidak diungkapkan.


Laporan itu menyebut bahwa para pilot di AS setidaknya sudah lima kali mengeluhkan masalah dalam mengendalikan Boeing 737 MAX 8 saat momen kritis penerbangan. Insiden yang dilaporkan rata-rata melibatkan sistem anti-stall pesawat, yang diyakini menjadi penyebab jatuhnya Lion Air JT-610, Oktober tahun lalu. Insiden yang menewaskan 189 orang dikaitkan dengan sistem stabilisasi penerbangan yang dirancang mencegah pesawat 'stalling'. Sistem itu disebut sebagai 'MCAS'.


Disebutkan lebih lanjut bahwa laporan para pilot itu semuanya mengeluhkan hidung pesawat yang tiba-tiba menukik ke bawah saat dalam posisi kritis.


Dalam satu insiden di AS yang terjadi November 2018, seorang pilot maskapai komersial melaporkan bahwa saat lepas landas ketika autopilot dalam kondisi aktif, tiba-tiba 'dalam dua atau tiga detik pesawat menukik ke bawah'. Tukikan itu cukup curam hingga memicu sistem peringatan pesawat yang berbunyi 'Don't sink, don't sink!'. Setelah autopilot dinonaktifkan, pesawat terbang menaiki ketinggian secara normal. 


Insiden lain yang terjadi di AS pada November 2018 melibatkan seorang pilot yang mengalami masalah saat dia mengaktifkan autopilot saat terbang mendatar usai pesawat lepas landas. 


Kopilot pesawat itu malah mendapat peringatan 'menyerukan 'DESCENDING' (mengurangi ketinggian) yang diikuti dengan segera oleh peringatan 'DON'T SINK, DON'T SINK!'. Menurut laporan itu, pesawat kembali terbang normal setelah autopilot dinonaktifkan. 


Laporan lain dari seorang pilot maskapai komersial mengeluhkan cara FAA dan Boeing menangani masalah yang dilaporkan. Disebutkan pilot itu bahwa meski FAA merilis arahan darurat pada 7 November 2018, untuk membantu para pilot menangani persoalan dengan teknologi anti-stall, 'itu tidak mengatasi isu-isu soal sistem'. Pilot itu menekankan bahwa dirinya baru menyadari bahwa manual penerbangan ternyata belum diperbarui dengan informasi tersebut sebelumnya. 


"Saya jadi bertanya-tanya: Apa lagi yang saya tidak tahu? Manual Penerbangan tidak memadai dan nyaris tidak cukup secara hukum. Seluruh maskapai yang mengoperasikan MAX harus mendesak Boeing memasukkan SEMUA sistem dalam manual mereka," sebut pilot itu. 

 

Laporan terpisah pada Oktober 2018 menunjukkan seorang pilot mengeluhkan autothrottles -- yang mengatur pesawat untuk menambah kecepatan dalam parameter tertentu -- pada pesawat Boeing 737 MAX 8 yang tidak bekerja dengan baik saat diaktifkan. Pilot itu menyebut dirinya dengan cepat menyadari masalah tersebut dan menyesuaikan dorongan pesawat secara manual untuk terus terbang menanjak. 


"Sesaat setelah saya mendengar soal insiden itu dan saya bertanya apakah ada kru lainnya yang mengalami insiden serupa dengan sistem autothrottlepada MAX?" tulis sang pilot dalam laporannya. Pilot itu menyebut dirinya tergolong baru dalam menerbangkan Boeing 737 MAX sehingga 'tidak mampu mengidentifikasi apakah pesawat atau dirinya yang error' saat itu.


FAA dalam pernyataan pada Rabu (13/3) waktu setempat menyatakan ada bukti baru dan data satelit yang telah disempurnakan, yang mengindikasikan kemiripan antara insiden Lion Air JT 610 dengan insiden Ethiopian Airlines yang menewaskan 157 orang.


"Itu (kemiripan-red) membutuhkan penyelidikan lebih lanjut soal kemungkinan penyebab bersama untuk dua insiden ini," sebut FAA dalam pernyataannya.

 

loading...