Skip to main content

PHRI Keluhkan Urus Serifikat Halal Rp 30 Juta, LPPOM MUI: Omong Kosong

Halal
Ilustrasi.

 

KABAR.NEWS,Makassar- Direktur Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika (LPPOM) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulsel, Tajuddin Abdullah angkat bicara soal pernyataan Persatuan Hotel dan Restauran Indonesia (PHRI) menyebut urus sertifikat halal mahal sampai Rp 30 juta.


Tajuddin mengatakan masih banyak pihak hotel yang belum mengetahui prosedur pengurusan label serifikat halal tersebut, yang membutuhkan ketelitian auditor yang di percaya mengecek setiap menu yang disediakan pihak hotel, jumlahnya capai ribuan. Pengecekan dilakukan bahkan harus dilakukan berulang-ulang.


Lebih jauh, Tajuddin menjelaskan hotel sekelas berbintang sekelas Hotel Claro memiliki menu hampir seribu, dari setiap menu akan diteliti bahan yang gunakan satu persatu. Kata Tajuddin, rata-rata setiap menu bisa gunakan 10 bahan rempah berbeda-beda. Semuanya harus ditelusuri.


"Tidak masuk akal itu, tidak pernah sampai Rp 30 juta, itu hotel yang betul-betul berbintang toh. Paling tinggi itu itupun auditor kami sudah bolak-balik memeriksa paling banyak itu Rp.15 juta tidak sampai 30 juta, omong kosong itu," ucapnya kepada KABAR.NEWS saat dikonfirmasi via telepon.


Menurutnya, berdasarkan regulasi yang ada sesuai undang-undang nomor 33 tahun 2014 Produk Jaminan Halal, serifikat yang diberikan akan berlaku selama dua tahun, setelahnya bisa urus secara online.


"Setelah itu diperpanjang lagi, memang sekarang agak lama ini karena banyak pendaftar baru. Sekarang kan sistem online setelah itu perpanjangan berikutnya sudah mudah, karena ada datanya semua sudah masuk," ungkapnya.


Sebelumnya, Ketua PHRI Sulsel Anggiat Sinaga mengatakan masih kurangnya hotel yang mengantongi sertifikat label halal, karena proses pengurusan nya sangat mahal. Memakan biaya hingga puluhan juta rupiah.


"Membutuhkan biaya sekitar 30 juta rupiah untuk satu label halal," jelasnya.

  • Andi Khaerul

 

loading...