Skip to main content

Perusahaan di Selandia Baru Boikot Beriklan di Facebook

Facebook
Facebook.


KABAR.NEWS - Dampak siaran lansung atau live tragedi penembakan oleh Brenton Tarrant di dua masjid di Christchurch, Selandia Baru oleh Facebook, membuat sejumlah perusahaan periklanan memboikot Facebook. 


Setidaknya ada dua asosiasi bisnis di Selandia Baru yang meminta perusahaan-perusahaan jangan lagi beriklan di Facebook. Beberapa perusahaan di Negeri Kiwi mengungkapkan mereka akan berhenti beriklan di Facebook. 


Baca Juga:


Dikutip dari laman CBS News, Selasa 19 Maret 2019, dua perkumpulan bisnis yakni Association of New Zealand Advertiser (ANZA) dan Commercial Communication Council meminta para pelaku bisnis untuk berpikir dua kali beriklan di Facebook. 


"Kami memberi tahu semua pengiklan bahwa mereka memiliki pilihan lain di mana anggaran iklan bisa dibelanjakan. Kami menentang Facebook dan meminta pemilik platform lainnya untuk segera mengambil langkah dalam memoderasi konten kebencian, sebelum tragedi mengerikan disiarkan secara online," kata keduanya dalam pernyataan bersama. 


Perusahaan Lotto yang merupakan milik pemerintah menyatakan, mereka telah menarik iklannya dari media sosial tersebut. Ada juga Burger King, ASB Bank dan perusahaan telekomunikasi Spark yang sedang mempertimbangkan untuk mengakhiri iklan. 


Diberitakan sebelumnya, Brenton Tarrant melancarkan serangan di Masjid Al Noor dan Linwood Islamic Center di Christchurch. Dampak serangan itu, setidaknya ada 50 korban jiwa dan 50 luka-luka. Pria berusia 28 tahun itu didakwa melakukan pembunuhan. 


Sang teroris menyiarkan kejahatannya melalui Facebook selama 17 menit. Bukti video dan manifesto setebal 74 halaman, membuktikan sang teroris memang berniat untuk memviralkan peristiwa tersebut. 


Peristiwa ini dinyatakan penembakan paling mematikan di Selandia Baru. New Zealand Office of Film and Literature Classification mengatakan kepada masyarakat agar tidak lagi membagikan video mengerikan itu. Mereka juga meminta masyarakat untuk melaporkan platform yang masih memiliki video.
 

 

loading...