Pertimbangan MUI Izinkan Vaksin AstraZeneca Meski Haram Mengandung Babi

MUI akan Cabut Izin Jika yang Lain Halal

Pertimbangan MUI Izinkan Vaksin AstraZeneca Meski Haram Mengandung Babi
Vaksin AstraZeneca produksi Inggris. (Foto: Ist/AstraZeneca)






KABAR.NEWS, Makassar - Majelis Ulama Indonesia (MUI) memberi fatwa haram untuk Vaksin Covid-19 merek AstraZeneca. Haramnya vaksin asal Inggris ini karena mengandung unsur babi dalam proses pembuatannya.

Lantas, apa pertimbangan Komisi Fatwa MUI membolehkan vaksin AstraZeneca untuk program vaksinasi Covid-19 di Indonesia? MUI beralasan, karena kondisi darurat meski vaksin ini dinyatakan haram.

"Intinya vaksin AstraZeneca mengandung unsur vaksin dari babi, sehingga hukumnya haram. Namun demikian boleh digunakan karena dalam kondisi darurat untuk mencegah bahaya pandemi Covid-19," jelas Ketua Komisi Fatwa MUI, Hasanuddin Abdul Fatah dikutip dari CNN Indonesia, Sabtu (20/3/2021).


Diketahui, Indonesia telah berkomitmen mendatangkan vaksin AstraZeneca dari Inggris sebanyak 59 juta dosis pada 2021 dan 23,8 juta dosis pada 2022 sehingga total sebanyak 82.800.000 dosis vaksin.


Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) pada 9 Maret juga telah mengeluarkan izin penggunaan darurat atau Emergency Use Authorization (EUA) untuk vaksin Covid-19 AstraZeneca.


Penggunaan vaksin AstraZeneca menjadi polemik pasca beberapa negara Eropa melaporkan adanya efek samping serius dari penyuntikan vaksin ini. Salah satunya terjadi pembekuan darah.

Hasanuddin melanjutkan, MUI bakal mencabut izin AstraZeneca apabila Indonesia mulai kedatangan vaksin merek lain yang kemudian hasil kajiannya dinyatakan halal dan suci.


Ia mencontohkan, misalnya vaksin dari perusahaan Pfizer atau Novavax halal, maka izin halal AstraZeneca akan dicabut, sampai ada kajian baru atau pembaharuan lagi komponen yang ada dalam AstraZeneca.


"Jelas ya hukum bolehnya [AstraZeneca] sudah hilang kalau sudah ada vaksin halal yang lain," terangnya. Hasanuddin mengaku izin penggunaan AstraZeneca itu telah melalui banyak pertimbangan. 


Ketersediaan atau stok vaksin yang terbatas di Indonesia, dan juga angka kesakitan dan kematian Covid-19 yang masih cukup tinggi menjadi alasan MUI membolehkan penggunaan vaksin AstraZeneca tersebut.


Ia juga menjelaskan, kebijakan serupa pernah MUI lakukan mana kala memutuskan izin penggunaan halal vaksin meningitis untuk jemaah haji dan umroh pada 2010 lalu, serta vaksin campak dan rubella (MR) pada 2018 silam.