Pertamina Klaim Antrean Truk di SPBU Jeneponto karena Konsumsi Solar Meningkat

Tidak ada kelangkaan BBM khususnya solar

Pertamina Klaim Antrean Truk di SPBU Jeneponto karena Konsumsi Solar Meningkat
Sejumlah mobil truk menunggu berjam-jam lamanya untuk mendapatkan BBM jenis solar di SPBU Kalukuang, Minggu (3/10/2021) malam. (KABAR.NEWS/Akbar Razak)






KABAR.NEWS, Jeneponto - PT Pertamina (Persero) menanggapi terkait puluhan truk di SPBU Kalukuang, Kabupaten Jeneponto, yang mengantre bahkan harus nginap untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar.


Supervisor Communication & Relations Patra Niaga Regional Sulawesi Taufiq Kurniawan, mengklaim tidak ada permasalahan kuota solar di SPBU, khususnya di Kabupaten Jeneponto.


"Kalau di pertamina itu enggak pernah ada penyaluran yang dibatasi masalah untuk solar. Kebutuhan itu selalu terpantau digital kita secara real time," ujar Taufiq Kurniawan kepada KABAR.NEWS via telepon, Senin (4/10/2021).


Taufiq mengatakan, pihaknya selalu mendistribusikan solar ke SPBU sesuai permintaan.


"Jadi kalau ada stok krisis itu kurang dari tiga hari itu sudah kita layani di SPBU seperti itu. Jadi semua SPBU itu terpantau dan bisa dilihat monitoring itunya real time," jelas Taufiq.


Menurut Taufiq, banyaknya truk mengantre untuk mendapatkan solar bukanya hanya terjadi di Kabupaten Jeneponto, namun diklaim terjadi se-Indonesia.


"Jadi satu Indonesia sama kejadianya. Itu adanya peningkatan konsumsi. Jadi jangan dimaknai kalau ada antrean panjang itu berarti langka, itu berarti stok dikurangi. Tapi memang ada peningkatan konsumsi," ungkapnya.


Menurut Taufiq, meningkatnya volume konsumsi BBM diakibatkan imbas dari turunnya level Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang turun ke level dua.


"Yang imbasnya PPKM level dua itu turun. Jadi industri-industri mulai menggeliat lagi. Itu sama juga waktu sebelum Pilkada case-nya juga seperti itu peningkatan volume transaksi akibat industri mulai aktif lagi. Imbas PPKM-nya yang turun," terangnya.


Taufiq menampik jika kuota solar disebut-sebut langka. Menurut dia, stok solar saat ini terpantau normal. "Enggak ada mas, solar kita masih terus dilayani," kata dia.


Ia menambahkan bahwa stok solar dapat dikatakan langka apabila terjadi bencana alam dan kerusuhan.


"Istilahnya itu kritis mas, bukan langka. Menurut undang-undang terjadi karena adanya kerusuhan, gempa, cuaca buruk yang mengakibatkan kurangnya suplai. Kritis normal, peningkatan konsumsi normal," pungkasnya.


Penulis: Akbar Razak/B