Penyintas Kusta Kampanye Keliling Sulsel Hapus Stigma Buruk Penyakit Ini

*Mengunjungi sembilan daerah

Penyintas Kusta Kampanye Keliling Sulsel Hapus Stigma Buruk Penyakit Ini
Perhimpunan Mandiri Kusta Yayasan Dedikasi Tjipta Indonesia (PerMaTa-YDTI) menggelar touring di beberapa kabupaten di Sulawesi Selatan. (IST).






KABAR.NEWS, Jeneponto - Perhimpunan Mandiri Kusta Yayasan Dedikasi Tjipta Indonesia (PerMaTa-YDTI) menggelar touring ke sejumlah kabupaten atau kota di Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel).


Touring dalam rangka Hari Kusta Internasional yang mengusung tema 'Mari Bersama Hapuskan Stigma Diskriminasi Kusta'. Ketua PerMaTa Sulsel, Al Qadri mengatakan, mereka mengunjungi sembilan daerah untuk mengampanyekan penyakit ini.


"Kesembilan kabupaten/kota, Makassar, Gowa, Takalar, Jeneponto, Bantaeng, Bulukumba, Sinjai, Bone dan Maros," kata Al Qadri kepada KABAR.NEWS di Jeneponto, Rabu (2/2/2022).


Dia menjelaskan bahwa selain touring, mereka juga turun ke jalan sambil menyosialisasikan tentang penyakit kusta sebenarnya kepada masyarakat.


"Satu hal yang pasti bahwa penyakit kusta sekarang sudah bisa disembuhkan, ini adalah keberhasilan dari kesehatan yang sangat luar biasa," jelas Al Qadri.


Ia menuturkan bahwa orang-orang yang dibawah pada touring tersebut merupakan penyintas kusta. Secara fisik, kondisi tubuh mereka terbilang biasa-biasa saja lantaran tak ada kerusakan organ.


"Sekarang mereka bisa sembuh, orang-orang yang mengalami kusta betul-betul bisa sembuh tanpa harus mengalami kerusakan organ. Ini adalah hal yang luar biasa," tuturnya.


Dengan itu, dia berharap masyarakat mengetahui penyakit kusta tersebut sudah bisa disembuhkan.


"Sangat berharap bagaimana informasi ini bisa sampai kepada masyarakat, semua masyarakat bisa paham supaya tidak ada masyarakat yang cacat karena kusta," harap Al Qadri.


Al Qadri menceritakan bahwa memang stigma kusta di benak masyarakat saat ini cukup menohok. Banyak yang bilang, kusta merupakan penyakit keturunan, aib, kutukan dan lain-lain.


Tetapi bagi dia, kusta bukanlah penyakit kutukan dan keturunan. Itu dibuktikan saat anaknya yang sudah dewasa itu sama sekali tak tertular sama penyakit sang ayah.


"Orang tua saya beragama, orang tua saya tidak ada yang terkena kusta, anak-anak saya sekarang yang sudah dewasa tidak ada yang tertular dari penyakit saya. Jadi ini yang membuktikan bahwa bukan penyakit keturunan, bukan aib, bukan kutukan," tegasnya.


Dia menambahkan bahwa penyakit kusta sejatinya tidak berbahaya, jika penderitanya melakukan pemeriksaan jika ditemukan ada bercak merah di badan yang mati rasa.


"Itulah yang membuat kami di sini datang untuk menyampaikan informasi yang benar tentang kusta. Penyakit kusta sama sekali bukan penyakit kutukan, sama sekali bukan aib, sama sekali bukan keturunan," pungkasnya.


Penulis: Akbar Razak/B