Penjelasan RSUD Bantaeng Soal Bayi Meninggal Diduga Lambat Ditangani

- Ibu dari pasien positif Corona

Penjelasan RSUD Bantaeng Soal Bayi Meninggal Diduga Lambat Ditangani
Kepala Bidang Pelayanan Medik RSUD Bantaeng, Dokter Hikmawaty. (KABAR.NEWS/Akbar Razak)












KABAR.NEWS, Bantaeng - Manajemen Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Anwar Makkatutu Bantaeng, Sulawesi Selatan, angkat bicara soal kematian bayi di dalam kandungan dari pasien bernama Irmawati diduga akibat lambannya penanganan medis.


Kepala Bidang Pelayanan Medik RSUD Bantaeng, Dokter Hikmawaty menjelaskan, pasien tersebut tiba di rumah sakit pada Minggu (27/12/2020) sekira pukul 02.00 WITA. Setiba di rumah sakit, petugas kemudian melakukan pemeriksaan rapid test Covid-19 kepada Irmawati.


"Dia (Irmawati-red) masuk dalam perawatan UDG, semua pasien yang masuk di UGD harus di-screening rapid test untuk memastikan apakah ada indikasi Covid-19 atau tidak," ujar Hikmawaty saat ditemui KABAR.NEWS di ruang kerjanya, Kamis (31/12/2020).


Setelah dirapid tes, hasil menunjukkan bahwa pasien tersebut reaktif Corona. Kata dia, pasien tersebut kemudian menjalani perawatan di ruang infesius sesuai dengan standar prosedur.


"Karena reaktif sesuai dengan standar operasional produser. Kalau pasien itu reaktif maka dia dilakukan perawat di ruang infesius aturan perawatan isolasi," katanya. 


Kemudian, pada hari itu juga bidan melakukan pemeriksaan terhadap kandungan pasien. Menurut Hikmawaty, kesehatan ibu maupun bayinya dalam keadaan normal saat diperiksa.


Setelah diperiksa, petugas tidak menemukan ada indikasi bahwa pasien akan dioperasi atau proses persalinan dilakukan secara sesar.  "Jadi tidak ada indikasi dirujuk ke rumah sakit level tinggi ataupun indikasi untuk dilakukan operasi saat itu yah," ucapnya.


"Intinya seperti ini, proses pemeriksaan, proses pendampingan, proses pemantaun telah dilakukan oleh petugas  kebidanan.Dengan harapan pasien untuk bisa melahirkan secara normal," jelasnya. 


Dia mengatakan, pihaknya juga telah melakukan kordinasi dengan dokter spesialis kebidanan. Dimana, dua dokter tersebut tengah menjalani isolasi mandiri pasca terpapar Covid-19.


Selain itu, dia mengungkapkan bahwa pihaknya telah mengumumkan kepada publik bahwa pada tanggal 27 itu ruang operasi RSUD Anwar Makkatutu sedang ditutup. 


"Kami tutup karena adanya tenaga kesehatan terkonfirmasi. Artinya kita mempunyai keterbatasan dalam memberikan pelayanan," tukasnya. 


Dia enggan menanggapi pernyataan korban yang menyebut bahwa pihak rumah sakit lambat menangani pasien yang mengakibatkan bayi dalam kandungan pasien itu meninggal dunia. 


"Kami tidak perlu menanggapi, kami hanya memberikan penjelasan tentang apa yang kami lakukan. Itukan asumsi dia. Kalau kami sudah jelaskan tahapan-tahapan," tegasnya. 

Pada Senin 28 Desember, dokter spesialis kebidanan yang sempat menjalani isolasi mandiri akhirnya kembali masuk. Dimana saat itu, kondisi pasien dilaporkan ada kemacetan sehingga diintruksikan untuk melakukan induksi. 


"Kondisi pasien dilaporkan karena ada persalinan yang macet, maka diintruksikan untuk melakukan induksi dengan harapan bisa melahirkan secara normal. Kemudian dilakukan penangan sesuai kondisi pasien," terangnya. 


Setelah dilakukan induksi terhadap pasien, pukul 4 sore induksi tersebut tidak ada kemajuan. "Kemudian pada jam 4 terpantau hasil induksi ternyata tidak ada kemajuan. Dan pada saat itu diputuskan untuk melakukan tindakan operasi," tandasnya. 


Sebelumnya, suami dari pasien bernama Roa mengatakan, istrinya baru ditangani setelah tiga hari berada di rumah sakit. Hal itulah yang dianggap menjadi penyebab bayi meninggal dalam kandungan.


"Bayi saya itu sudah meninggal sewaktu masih dalam kandungan karena lambat ditangani oleh dokter," ujar Roa kepada wartawan beberapa hari lalu. 

Penulis: Akbar Razak/A