Skip to main content

Penderita TBC di Makassar Capai 25.828, Iqbal: Obati!

Iqbal
Pj Wali Kota Makassar, Iqbal Suhaeb.(ist)

KABAR.NEWS, MAKASSAR - Presiden Joko Widodo (Jokwi) mencanangkan gerakan eliminasi penyakut Tuberkulosis atau TBC. Maka itu, Ia meminta seluruh pihak berperan aktif mensukseskan program tersebut agar kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) bisa meningkat.


Hal itu disampaikan Jokowi dalam acara perencanaan Gerakan Maju Bersama Menuju Eliminasi Tuberkulosis (TBC) 2030 yang digelar di Technopark Cimahi, Kota Cimahi, Jawa Barat, Rabu (29/1/2020).


“Saya hadir di sini karena sehat, kita harapkan seluruh masyarakat Indonesia sehat. SDM unggul adalah prioritas yang harus sehat semua. Saya ingin mendukung keras kegiatan eliminasi TBC pada tahun 2030. Percuma kalau masyarakat gak sehat, nanti merembet ke mana-mana, ke sektor pendidikan, ke pekerjaan, dan lain-lainnya," tegasnya.


Penyakit TBC di Indonesia memang mengkhawatirkan. Saat ini Indonesia berada di urutan ke tiga di bawah India dan Cina dengan beban TBC tertinggi di dunia. 


Sementara, di Kota Makassar jumlah penderita suspek TBC di tahun 2019 sebesar 25.828 penderita. Sehingga, Penjabat Wali Kota Makassar, Iqbal Suhaeb, menyatakan Pemerintah Kota Makassar bersama seluruh stakholder termasuk Puskesmas saat ini terus membangun jejaring di seluruh lapisan masyarakat untuk menemukan dan mengobati warga yang terdeteksi mengidap virus TBC.


“Dinas Kesehatan terus memperluas jejaring, hingga ke lapisan masyarakat terbawah untuk bekerja menemukan dan mengobati warga yang terkena. Ini sesuai dengan jargon yang digunakan dalam mendukung program ini, yakni Temukan Obati Sampai Sembuh (TOSS),” ujar Iqbal.


Menurut Iqbal, Kasus TBC sebaiknya diputus mata rantainya, jangan menunggu masyarakat jatuh sakit lantas baru akan mencari pengobatannya.


“Jadi memang harus berubah dalam bentuk pencegahannya, dan ini bukan hanya tanggung jawab Dinas Kesehatan saja, semua stakeholder, termasuk organisasi perangkat daerah semua harus berkontribusi,” lanjutnya.


Maka itu, Iqbal menekankan setiap OPD mesti memiliki strategi berbeda agar angka penderita TBC bisa menurun, jika perlu ditiadakan. Upaya penanggulangan TBC dilakukan sesuai tingkat resiko penderita. 


Pasien dengan resiko rendah ditanggulangi diantaranya dengan mengendalikan faktor resiko, meningkatkan kapasitas SDM TBC, dan meningkatkan penemuan TBC laten. 


"Pasien dengan resiko tinggi ditangani diantaranya dengan meningkatkan surveilans, serta meningkatkan promosi dan pengendalian faktor resiko," imbuhnya.


Penulis: Fitria/B

 

loading...