Penambang Pasir Laut Spermonde Untung Miliaran, Nelayan Buntung

Hasil riset Koalisi Save Spermonde

Penambang Pasir Laut Spermonde Untung Miliaran, Nelayan Buntung
Aktivitas pengerukan tambang pasir laut di perairan Spermonde. (Foto: Koalisi Save Spermonde)

KABAR.NEWS, Makassar - Pengerukan pasir laut di wilayah Kepulauan Spermonde untuk reklamasi Makassar New Port (MNP), memberi keuntungan ratusan miliar terhadap perusahaan penambang pasir dan kerugian puluhan miliar oleh nelayan.


Hal itu terungkap dari hasil riset Koalisi Save Spermonde. Riset dengan berbagai metode itu menunjukkan aktivitas tambang pasir laut yang melibatkan sedikitnya 6 perusahaan di Spermonde sangat merugikan nelayan khususnya, Nelayan Pulau Kodingareng.


Direktur Walhi Sulsel, Muh. Al Amin yang terlibat dalam riset ini mengatakan, PT. Royal Boskalis sebagai pemegang kontrak tambang pasir laut untuk proyek MNP, mendapat nilai kontrak 75 juta Euro atau setara Rp1,2 triliun dari PT. Pembangunan Perumahan (PP). Perusahaan yang disebut terakhir digandeng oleh PT. Pelindo sebagai pentolan proyek MNP.


Menurut Amin, selama kurang lebih 257 hari kapal Boskalis mengeruk pasir di perairan Spermonde, Nelayan Kodingareng mengalami kerugian material miliaran rupiah akibat kurangnya hasil tangkap nelayan disebabkan aktivitas tambang pasir. (Baca juga:Walhi Minta Atensi KPK Usut Dugaan Korupsi Makassar New Port)


"Kami mencatat total kerugian 1.043 Nelayan Kodingareng yang terdiri dari nelayan bagang, pancing, jaring dan panah mencapai 80,4 miliar rupiah," kata Amin dalam peluncuran hasil riset Save Spermonde secara virtual, Selasa (9/3/2021).


Di sisi lain, dua perusahaan pemegang izin konsesi tambang di perairan Spermonde, menjual pasir kepada PT Pelindo dengan kisaran harga 1 dolar Amerika 
Serikat (AS) per meter kubik. 


Dua perusahaan tersebut adalah PT. Alefu Makmur dan PT. Benteng Laut Indonesia. Total keuntungan dua perusahaan itu menurut Amin ditaksir mencapai Rp258 miliar hasil kerja sama aktivitas tambang pasir yang digarap Boskalis.


"Mereka (Alefu Makmur dan Benteng Laut Indonesia) tidak perlu modal besar, mereka hanya butuh selembar izin usaha pertambangan (IUP) untuk bekerja sama dengan Pelindo dan Boskalis," ungkap Amin.


Sementara, saat tambang pasir beroperasi, nelayan Kodingareng kerap hanya mendapat 1 ikan Tenggiri untuk sekali melaut. Kerugian nelayan akibat aktivitas ekstraktif tersebut menurut riset ini sebesar Rp200 ribu sampai Rp2 juta perhari. Perusahaan melalui dana CSR memberikan Rp1 juta untuk setiap KK terdampak.


Kerugian nelayan akibat tambang pasir di Spermonde dibenarkan Aswin. Nelayan Kodingareng tersebut mengatakan, kondisi di wilayah tangkapnya sangat berubah drastis. 


"Pulau Kodingareng tidak kayak dulu lagi, ombaknya semakin besar, ikannya juga jarang didapat karena terumbu karangnya rusak. Kita juga takut melaut karena ombak besar dan di bawah banyak lubang," tutur Aswin dalam konferensi virtual.


Efek sosianya, sejumlah anak-anak harus putus sekolah dan kesulitan membeli paket data internet untuk belajar jarak jauh selama pandemi. Hal ini diungkapkan Jumatia, istri Nelayan Kodingareng. Mereka harus meminjam dan menjual emas untuk memenuhi kebutuhan hidup karena sulitnya mendapat ikan.


"Utang-utang kami menumpuk di warung - warung karena jarang melaut. Meminjam untuk kebutuhan hari ini, besok lain lagi. Anak kami juga butuh data untuk sekolah. Banyak mi anak-anak di pulau putus sekolah karena susah beli data," beber Jumatia dengan dialek Makassar.


Sekretaris Perusahaan Pelindo IV Dwi Rahmat Toto pada Juli 2020 mengklaim, aktivitas tambang pasir di Spermonde tidak akan menenggelamkan pulau-pulau sekitar dan penambangan tersebut tak melanggar aturan. (Baca juga: Tak Ingin Telantar, Pemkot Siap Kelola Masjid 99 Kubah dan Gedung Kesenian)


Dwi menjelaskan bahwa lokasi dan ketentuan penambangan yang dilakukan bersama PT Boskalis, PT PP dan PT Benteng di bawah naungan PT Pelindo IV sesuai dengan peraturan daerah (perda) Rancangan Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil (RZWP3K).


Amin melanjutkan, hasil riset ini diharap dapat menjadi pertimbangan pemerintah menghentikan secara permanen seluruh rencana tambang pasir laut di Spermonde. Dan 
menghapus zona tambang pasir laut dalam RZWP3K. "Kita meminta pihak2 terkait (pemprov/swasta) bertanggung jawab atas seluruh nelayan dan perempuan Kodingareng," tandasnya.


Koalisi Save Spermonde terdiri dari Walhi Sulsel, Greenpeace Indonesia, YKL (Yayasan Konservasi Laut) Indonesia, Sobat Bumi, MSDC (Marine Scientific Diving Club) Unhas, FDC (Fisheries Diving Club) Unhas, Green Youth Movement, Aliansi Selamatkan Pesisir, Pedjuang Pesisir Kodingareng, Marine Buddie