Pekerja Kehilangan Rp360 Triliun Penghasilan Akibat Pengurangan Jam Kerja

Hal itu belum termasuk dampak tidak langsung akibat pandemi covid-19.

Pekerja Kehilangan Rp360 Triliun Penghasilan Akibat Pengurangan Jam Kerja
Ilustrasi.(int)






KABAR.NEWS,Jakarta--Pandemi Covid-19 telah menyebabkan hilangnya penghasilan pekerja sebesar Rp360 triliun akibat pengurangan jam kerja yang dilakukan perusahaan seiring upaya menekan penyebaran virus itu.

Menteri Perencanaan dan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Suharso Monoarfa mencatat akibat pengurangan itu, 24 juta pekerja kehilangan jam kerja hingga separuh waktu kerjanya. Artinya, jika pekerja memiliki 40 jam kerja, maka kini waktu kerjanya tinggal tersisa 20 jam.

"Akibatnya (pekerja) sektor pariwisata dan ekonomi kehilangan Rp360 triliun penghasilan yang hilang dari sekitar 18 juta di manufaktur dan 12 juta di pariwisata," ucap Suharso dikutip di laman CNN.Indonesia, Kamis (21/1).

Namun, Suharso menyatakan Rp360 triliun hanyalah dampak langsung yang dirasakan. Hal itu belum termasuk dampak tidak langsung akibat pandemi covid-19.

Maklum, pandemi corona telah memaksa pemerintah menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) supaya penularan covid-19 tak kian menjadi. Kebijakan itu praktis membatasi pergerakan masyarakat.

"Dana kalau dihitung sampai dengan industri impact dan indirect impact sudah mendekati angka Rp1.000 triliun," terang Suharso.Tak heran, sambungnya, kondisi itu membuat daya beli masyarakat berkurang dan ekonomi domestik anjlok ke level minus.

"Ini menjelaskan mengapa daya beli berkurang dan yang mendorong perekonomian adalah konsumsi rumah tangga," jelas Suharso.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia tertekan hebat setelah corona menyebar di dalam negeri.

Pada kuartal I 2020 ekonomi hanya mampu tumbuh 2,97 persen. Padahal kuartal IV 2019, ekonomi nasional masih berhasil tumbuh  4,97 persen. 

Tekanan berlanjut pada kuartal II 2020 hingga ekonomi Indonesia minus 5,32 persen. Pada kuartal III 2020, tekanan mulai berkurang meskipun ekonomi masih minus 3,49 persen.(*)