Skip to main content

Pekan Ekonomi Syariah, Mengembalikan Kejayaan Perbankan Syariah Seperti Tahun 2011

Ketua Asbisindo Sulsel, Kamaruddin Kammisi.(KABAR.NEWS)


KABAR.NEWS, Makassar - Sebagai negara muslim terbesar di dunia, ternyata perkembangan perbankan syariah dalam beberapa tahun terakhir tidak terlalu mocer seperti perbankan konvensional. Meski demikian, sejumlah masyarakat Indonesia masih membutuhkan dan mempercayai perbankan syariah, karena menganggap perbankan syariah menerapkan hukum syariat Islam. 


Ketua Asosiasi Bank Syariah Indonesia (Asbisindo) Sulsel, Kamaruddin Kammisi mengakui saat ini perbankan syariah, khususnya di Sulsel masih sulit untuk bisa bersaing dengan perbankan konvensional. Hal tersebut, karena masih kurangnya literasi masyarakat tentang perbankan syariah. 


Baca Juga: 


Untuk itu, ia mengapresiasi Bank Indonesia (BI) yang dalam dua tahun ini selalu menggelar Festival maupun pekan Ekonomi Syariah. Menurutnya dengan adanya Pekan Ekonomi Syariah diharapkan mampu memberikan literasi kepada masyarakat tentang ekonomi syariah. 


"Sebenarnya masalahnya ada di literasi. Karena dengan adanya literasi, maka akan mendorong inklusi dan pada akhirnya bisa meningkatkan aset perbankan syariah," ujarnya saat ditemui KABAR.NEWS di sela-sela pembukaan Pekan Ekonomi Syariah di Mal Ratu Indah (MaRI) Makassar, Jumat (14/9/2018). 


Ia mangaku jika literasi terkait ekonomi syariah di masyarakat membaik, makan perbankan syariah akan kembali merasakan seperti tahun 2011 yang dimana perkembangan perbankan syariah mencapai 40 persen. 


"Saat ini pertumbuhan perbankan syariah hanya pada angka 5 persen, khusus di Sulsel. Walaupun cuma satu digit, tapi alhamdulillah kami bisa tetap berdiri," sebut Kepala Cabang Panin Dubai Syariah Makassar ini. 


Ia merinci pada tahun 2011, pertumbuhan perbankan syariah pernah menyentuh hingga 40 persen. Tetapi setelah itu, pertumbuhan ekonomi terus mengalami penurun hingga single digit.


"Kondisi ini dipengaruhi karena ekonomi global yang terus mengalami perlambatan. Pada tahun 2011 pertumbuhan perbankan syariah bisa sampai 40 persen. Tapi pada tahun 2012 turun hingga 14 persen, sampai saat ini pun turun terus," sebutnya. 


Meski demikian, ia optimis perbankan syariah akan kembali seperti masa kejayaannya pada tahun 2011. 


"Kita akan kembali bangkit lagi seperti pada tahun 2011," harapnya. 


Sementara itu, Kepala BI Sulsel Bambang Kusmiarso mengaku saat ini ekonomi syariah Indonesia masih berada di peringkat 10 dunia dari 73 negara berdasarkan State of the Global Islamic Economy Report (2016), Indikator Ekonomi Islam Global (GIEI) Indonesia pada pengukuran tahun 2016 lalu. 


Ia mengaku dengan indikator tersebut menunjukkan kesehatan dan perkembangan ekosistem ekonomi Islam saat ini yang meliputi antara lain industri halal food, Islamic finance, halal travel, modest fashion (fashion berbasis syariah), media dan rekreasi halal, serta farmasi dan kosmetik halal.


"Untuk empat indikator dalam perkembangan ekosistem ekonomi islam yaitu halal food, halal travel, modest fashion, serta halal media & recreation, negara Indonesia belum masuk ke sepuluh besar negara dengan ekosistem terbaik," sebutnya. 


Sementara itu untuk industri Islamic finance, negara dengan indikator terbaik untuk ekosistem tersebut adalah Malaysia. Indonesia sendiri berada pada peringkat 9 dari 10 negara dengan ekosistem terbaik untuk industri Islamic finance.
 

"Pekan ekonomi syariah Makassar yang diselenggarakan pada tahun ini kami mengangkat konsep 3F (food, fashion, dan finance). Food dan finance berkaitan dengan bagaimana mendorong tumbuhnya industri dan UMKM yang menyediakan amenitas pariwisata syariah Sulsel berupa halalfood dan shariafashion."


"Dan Finance berkaitan dalam hal untuk menunjang bertumbuhnya amenitas dan atraksi, berkembangnya aksesibilitas dan ancillary melalui pembiayaan syariah,"pungkasnya.