Pedagang Pasar Karisa Protes Tak Dapat Bantuan, Disperindag: Data Tidak Sinkron

ana bantuan bencana sebesar Rp500 juta dari anggaran APBD.

Pedagang Pasar Karisa Protes Tak Dapat Bantuan, Disperindag: Data Tidak Sinkron
Ketgam: Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jeneponto, M Jafar. (Akbar Razak). 






KABAR.NEWS, Jeneponto - Pedagang Pasar Tradisional Karisa di Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan, kini sudah berjuang kembali pasca kebakaran tahun lalu. 

Kebakaran tersebut menghanguskan ratusan kios dan lapak beserta barang dagangan. Namun, para pedagang perlahan bangkit dari musibah tersebut dan sudah menempati kios-kios darurat yang di bangun oleh pemerintah daerah. 

Meski demikian, sebagian korban kebakaran mengaku sampai saat ini belum mendapatkan bantuan dari Pemkab Jeneponto.Hal itu diungkapkan oleh salah satu pedagang toko pakaian bernama Hj Jintang saat ditemui Kabar.News beberapa hari lalu.

Dia mengatakan, bahwa dirinya tidak mendapatkan bantuan dana kebencanaan, padahal dirinya dan pedagang lainnya sudah terdaftar."Tiap orang dapat Rp1.050.000 ribu, tapi mau sama banyak yang dapat dan tidak dapat, padahal sudah di data semua," ujarnya.

Dia juga menyayangkan sistem pembagian itu. Menurutnya, jika memang pembagian tersebut tidak merata, sebaiknya tidak usah ada bantuan. 

"Di sini banyak sekali tidak dapat. Tidak baik kalau ada yang dapat, dan tidak. Apalagi dijanji dan sudah daftar. Tidak ji ku sombong kalau uang segitu, tapi kan sudah maki didaftar. Dari sana tapi tidak ada," pungkasnya. 

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jeneponto, M Jafar angkat bicara. Dia mengaku, bahwa pemerintah daerah telah mengucurkan dana bantuan bencana sebesar Rp500 juta dari anggaran APBD.

Anggaran Rp500 juta tersebut sudah disalurkan ke masing-masing rekening pedagang yang terdampak. 

"Terkait dengan pos bantuan pedagang dana kebencanaan dari pemerintah daerah yang besarnya Rp500 juta, kita sudah salurkan melalui rekening masing-masing pedagang," ujarnya kepada Kabar.News, Jum'at (5/2/2021).

Dia mengungkapkan, bahwa pedagang yang terdampak bencana sebanyak 449 orang. Tiap pedagang, mendapatkan bantuan sebesar Rp1 juta lebih. 

"Yang jumlah pedagang yang terdampak kebakaran itu 449 orang. Jadi rata-rata pedagang dapat Rp 1 juta lebih, untuk bagi habis itu yang Rp500 juta," jelasnya.

Meski demikian, dari jumlah 499 pedagang yang terdampak, hanya 245 lebih pedagang yang belum mendapatkan bantuan, selebihnya sudah di cairkan.

"Tidak semua, misalnya, ada pedagang kiosnya 15, yang di hitung itu cuman satu. Orangnya yang dihitung, bukan kiosnya. Dari jumlah 449 ini yang bisa menikmati pos bantuan ini 200 lebih tidak sampai 50 persen lebih," ungkapnya. 

Dia menyebut, alasan sebagian para pedangang tidak mendapatkan bantuan,oleh karenakan datanya yang tidak sinkron di Bank BPD.

"Dari total 449 pedagang hanya 204 jumlah pedagang yang sudah mendapatkan bantuan, 245 lainnya tidak dapat, akibatnya data yang tidak sesuai," pintanya. 

Sehingga, anggaran sebesar Rp500 juta tersebut, yang terpakai hanya berjumlah Rp. 223.900.200,- juta.

"Dari total anggaran Rp.500 juta, yang terhitung terpakai sebanyak Rp. 276.099.800 juta sisanya kita pengembalian sebanyak 223.900.200,- juta," pungkasnya. 

Penulis: Akbar Razak/A