Pasar Hutan Bambu Toraja Utara kembali Dibuka dengan Konsep Pelestarian Lingkungan

Pasca satu tahun ditutup karena pandemi

Pasar Hutan Bambu Toraja Utara kembali Dibuka dengan Konsep Pelestarian Lingkungan
Suasana Pasar Hutan Bambu di Lembang Tonga Riu, Kecamatan Sesean Suloara, Torajw Utara, saat dibuka kembali pada Sabtu (15/5/2021). (KABAR.NEWS/Febriani)






KABAR.NEWS, Toraja Utara - Obyek wisata Pasar Hutan Bambu To'kumila di Kabupaten Tana Utara, Sulawesi Selatan, kembali dibuka pada Sabtu (15/5/2021) pasca ditutup selama satu tahun akibat pandemi Covid-19.

Pasar hutan bambu To'kumila terletak di Lembang Tonga Riu, Kecamatan Sesean Suloara'. Destinasi ini punya keunikan tersendiri dalam memanjakan setiap pengunjung.


Salah satu keunikan di pasar tersebut ialah, wisatawan harus memakao uang koin yang terbuat dari bambu sebagai alat transaksi. Dengan koin bambu, pengunjung dapat membeli kuliner khas Toraja dan hasil bumi yang segar untuk dijadikan oleh-oleh.


Kepala Lembang Tonga Riu, Petrus Tandidatu, menerangkan bahwa setiap pengunjung Pasar Hutan Bambu harus melapor ke pos jaga untuk mengambil tiket masuk. Jika ingin berbelanja, pengunjung menukar koin bambu di lokasi.


Jumlah koin bambu yang diperoleh untuk berbelanja, tergantung dari besaran uang rupiah yang ditukar. 

"Misalnya, uang kita Rp100 ribu, maka kita bisa meminta 10 koin yang tertera nilainya seng 10 (uang Rp10 ribu) atau nilai seng 5 dan seng 50. Karena nilai yang tertera di koin dianggap seharga dengan nilai rupiah," kata Petrus saat ditemui KABAR.NEWS di Pasar Hutan Bambu, Sabtu.

Petrus menyebut pedagang yang menghuni Pasar Hutan Bambu merupakan warga sekitar. Mereka membuat kerajinan berbahan bambu terutama tas belanja yang ramah lingkungan.


Oleh karena itu, setiap pengunjung juga diimbau tidak menggunakan kantong plastik dalam berbelanja demi menjaga dan mencegah pencemaran lingkungan.


"Jadi banyak yang dijual dengan bahan bambu, seperti ceret, cangkir, mangkok, dan peralatan dapur lainnya, termasuk tas belanjaan juga ada. Itu karena kami tidak ingin ada sampah plastik. Jadi diminta kepada pengunjung untuk tidak menggunakan itu, tetapi menggunakan tas belanjaan yang terbuat dari bambu," terang Petrus.


Selain itu, pengunjung juga harus membawa botol air minum sendiri karena disediakan spot isi ulang air, tidak membuang sampah sembarangan (membawa pulang kembali sampah).


Pengelola juga melarang pengunjung merokok dan  paling penting adalah menghormati adat budaya setempat. Adat yang dimaksud yaitu pengunjung diminta tidak menggunakan pakaian hitam di seluruh badan jika masuk di objek wisata.


Sementara Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Toraja Utara, Yorry E. Lasewengen mengatakan pihaknya bekerja sama dengan pengelolah objek wisata hutan bambu menggelar pembukaan kembali objek wisata ini setelah kurang lebih 1,5 tahun ditutup karena pandemi Covid-19.


"Hari ini adalah hari pertama setelah dibuka kembali dan kita rencanakan ke depan akan dibuka 2 kali selama sebulan, 2 minggu sekali. Jadi setiap dibuka nanti itu kita usahakan buka penghujung Minggu antara di hari sabtu atau minggu," terang Yorry.


Dikatakan Yorry bahwa objek wisata hutan bambu ini akan menjadi salah satu destinasi alternatif bagi wisatawan yang mengunjungi Toraja Utara.


Selain menjajakan berbagai kerajinan tangan dan hasil bumi Toraja, Pasar Hutan Bambu menyuguhkan udara sejuk, pemandangan indah di dalam hutan bambu.


Dia menandaskan hadirnya Pasar Hutan Bambu diharap dapat memberi dampak ekonomi kepada masyarakat, khususnya warga Dusun To'kumila.


"Kami melihat pengunjung hari ini cukup bagus. Banyak wisatawan yang datang berkunjung sehingga kami berharap setelah dibukanya kembali objek wisata hutan bambu To'kumila' ini, akan semakin menambah berbagai macam tempat tempat wisata yang akan dikunjungi oleh wisatawan yang datang di Toraja," harapnya.


Penulis: Febriani/A