OPINI: Menjadi Pemilih Cerdas Pilkades Serentak Sinjai

*Persaingan para kontestan dalam mendulang suara pemilih akan semakin ketat

OPINI: Menjadi Pemilih Cerdas Pilkades Serentak Sinjai
Syahrul Gunawan. (IST)






Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, pada tahun ini akan menggelar pemilihan kepala desa (Pilkades) serentak pada 54 desa. Ini merupakan salah satu pesta demokrasi terbesar yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah berjuluk Bumi Panrita Kitta.


Tentunya, pilkades kali ini akan diikuti banyak bakal calon baru, termasuk juga mantan kades kembali mencalonkan diri (incumbent).


Pada titik inilah, dibutuhkan kontribusi pemuda Kabupaten SInjai untuk menjadi pemilih yang memiliki konsistensi dalam menggunakan hak pilihnya, berdasarkan sistem demokrasi di negara Indonesia.


Persaingan para kontestan dalam mendulang suara pemilih akan semakin ketat dan tentu akan menguras energi dari masing-masing kandidat beserta pendukungnya. Pada kondisi tersebut, bukan tidak mungkin, gesekan-gesekan para pendukung bisa saja terjadi. Di posisi inilah diharapkan peran penting pemuda milenial untuk mampu mengambil langkah, sebab kontribusi pemuda dalam Pilkades sangat mampu menentukan arah politik yang dilakukan oleh para kandidat.


Semua pihak harus menyadari bahwa pilkades yang akan berlangsung sejatinya adalah untuk melahirkan pemimpin berkualitas. Pemimpin yang mampu membawa desa yang dipimpinnya menjadi lebih baik, di mana rakyat dapat merasakan perubahan lebih baik dalam menjalani aktivitas hidupnya.


Konsep politik yang berlaku pada masyarakat sinjai cenderung beragam, mereka melibatkan diri pada dunia politik karena beberapa faktor, di antaranya:


Pertama, Hubungan emosional


Emosional secara substansi adalah persoalan perasaan, yaitu ekspresi dan pengelolaan emosi. Hubungan emosional memberikan pengaruh besar terhadap mobilisasi massa yang akan dilakukan oleh calon kades pada pemilihan nanti. 


Kedua, Hubungan Kekeluargaan


Tidak bisa dinafikkan bahwa di Kabupaten Sinjai, masih terdapat beberapa masyarakat melibatkan diri pada politik dengan konteks kekeluargaan. Hubungan kekeluargaan memiliki masih memiliki power tersendiri dalam pesta demokrasi.


Bagaimana Cara Menjadi Pemilih Cerdas?


Memilih dengan cerdas berarti memilih menggunakan akal sehat dan hati nurani. Memilih dengan akal sehat berarti sesuai penilaian objektif tanpa dipengaruhi faktor lain. 


Memilih dengan hati nurani berarti memilih dengan bertanya pada hati nurani, siapa calon yang benar-benar serius untuk membangun rakyatnya? Bagaimana moral dan etikanya? Bagaimana kualitas intelektualnya dan keterampilan profesional yang dimilikinya? 


Penting bagi pemilih untuk mencermati program dan gagasan yang ditawarkan calon. Saat ini Banyak cara yang dapat dilakukan untuk mengetahui program-program serta visi misi gagasan para calon pemimpin. Salah satunya menggunakan media sosial dan mampu meminimalisir berita-berita hoaks.


Namun, masih banyak dari kaum muda yang terlibat politik bukan karena pilihan hati nuraninya, melainkan karena tekanan keluarga, tekanan pimpinan bahkan karena money politic. Jelas ini bertentangan dengan maksud pemilih cerdas, “Pemilih cerdas adalah pemilih yang rasional, objektif memilih berdasarkan penilaian dirinya, bukan karena dorongan uang, saudara, suku, agama”.


Penulis tahu bahwa ini merupakan tantangan berat, namun kita mesti mengubah cara pandang politik kita karena di tangan dan pikiran pemuda ada masa depan yang harus diwujudkan demi kepentingan masyarakat. 


Paling penting, menjadi pemuda milenial harus memiliki prinsip anti golput dan memilih berdasarkan hati nuraninya. Satu suara pada pesta demokrasi sangat berperan penting untuk menentukan sosok pemimpin masa depan.


Tantangan Milenial


Perkembangan teknologi digital yang begitu pesat telah mengubah gaya hidup dan cara bertindak manusia hari ini. Digitalisasi dan transformasi digital telah mendorong berbagai sistem yang ada menjadi lebih efisien, mudah dan transparan.


Mengutip tulisan Arif Nurul Imam,"Tantangan Politik Kaum Muda” pada Kompas.com dirinya menjelaskan terkait dengan tantangan kaum muda pada politik:


Pertama, fenomena menguatnya gerontokrasi. Ini adalah suatu sistem yang dikendalikan atau diatur oleh orang-orang tua. Meski tidak bisa dinafikan terdapat anak-anak muda yang tampil di pentas politik atau jabatan publik, sejatinya itu pun lebih banyak sebagai subordinat politisi tua atau bagian dari klan politik. Politisi muda yang bukan bagian dari klan politik mesti mendaki dan merangkak dari bawah.


Banyak dari mereka masih terseok-seok untuk mendapatkan posisi strategis, baik di internal parpol maupun di jabatan-jabatan publik. Dalam banyak kenyataan, kaum tua harus diakui masih mendominasi, bukan hanya dilihat dari sisi jumlah komposisinya, melainkan juga peran dan fungsi politik kaum tua masih terus mendominasi.


Kedua, apatisme politik milenial. Survei CSIS yang dirilis pada awal November 2017 menyebutkan bahwa hanya 2,3 persen generasi milenial yang tertarik dengan isu sosial-politik. 


Ironisnya, isu sosial politik juga menjadi yang paling tidak diminati oleh generasi milenial. Litbang Kompas juga menunjukkan hanya 11 persen generasi milenial yang mau aktif menjadi anggota dan pengurus partai politik.


Kendati demikian, kita juga tidak bisa serta-merta kemudian menghakimi sikap apatisme milenial terhadap politik. Sikap demikian, sangat boleh jadi, lantaran kemuakan mereka melihat polah-tingkah para elite politik yang pragmatis, menghalalkan segala cara dan hanya berjuang untuk kepentingan pribadi dan golongannya.


Ketiga, sebagaimana fenomena umum, mengguritanya praktik oligarki menjadi salah satu tantangan anak muda hari ini untuk berkecimpung dalam politik. Guru besar dari Universitas Northwestern Amerika Serikat, Prof Jeffrey Winters, menyebut oligarki sebagai sistem kekuasaan yang dikendalikan oleh golongan atau pihak berkuasa dengan tujuan kepentingan golongan itu sendiri, termasuk mempertahankan kekuasaan serta kekayaan.


Dengan menguatnya praktik politik semacam ini, anak muda yang memiliki gagasan dan modal politik harus berjuang ekstra untuk menjebol tembok oligarki. Ini tentu tidak mudah.


Selain mesti menyiapkan stamina dan sumber daya politik, anak-anak muda ini sudah pasti harus pula memiliki strategi politik untuk berhadapan dengan kekuatan oligarki.


Penutup


Konsep politik secara hubungan emosional dan kekeluargaan masing-masing memiliki keterkaitan satu sama lain, karena hubungan kekeluargaan harus juga terbangun hubungan emosional untuk mobilisasi dukungan pada pilkades.


Menjadi pemilih cerdas itu penting bagi masyarakat terkhusus kepada generasi milenial. Generasi milenial merupakan pionir pada asas demokrasi yang diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran politik cerdas masyarakat agar dapat menggunakan hak pilihnya dengan baik.


Penting untuk kita memilih kandidat yang sejalan dengan cita-cita kaum milenial. Sebab pemilih yang cerdas menghasilkan pemimpin jujur, cerdas, adil dan mampu menjaga amanah.


Penulis: Syahrul Gunawan (Mahasiswa Pascasarjana Universitas Muslim Indonesia)


*) Opini ini adalah tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian dari tanggung jawab redaksi KABAR.NEWS.