Skip to main content

OPINI : Masa Depan Peradaban Lamakera

opini
Foto (IST)
     

Terminologi peradaban kini menjadi familiar dan acap kali diperbincangkan secara serius dan intens oleh masyarakat Lamakera, setidaknya oleh kalangan terpelajar dan elit. Perbincangan berawal mula dari gebrakan mutakhir yang dilakukan (secara bertahap dan berkelanjutan) oleh anak Lewo tanah beberapa tahun belakangan ini. 

 

Ali Taher Parasong, anak biologis dan ideologis Lamakera yang kini menjabat sebagai Ketua Komisi VIII DPR RI Fraksi PAN, adalah sosok yang pertama kali memperkenalkan dan mendeklarasikan terminologi peradaban untuk Lamakera, sekaligus didaulat (seperti (itu) anggapan masyarakat pada umumnya) sebagai "sang arsitektur" peradaban Lamakera mutakhir.
             

Dalam kunjungan Galekat Lewo kesekian kalinya bersama Menteri Agama RI, Lukman Hakim Syarifuddin, tepat dalam rangka penyerahan SK Penegrian MIS, MTs dan MAS se-NTT yang berpusat di Lamakera, Jum'at 4 Agustus 2017, Ali Taher Parasong menyampaikan pokok pikirannya tentang masa depan Lamakera dalam kerangka peradaban. 

 

Bahwa pembangunan Madrasah Aliah Swasta (sebelum menjadi MAN Plus) merupakan rangkaian dari ikhtiar panjang (membangun) peradaban (untuk) kampung nelayan Muslim, Lamakera. Karena Madrasah merupakan salah satu locus yang efektif dalam melakukan perjumpaan peradaban (the encounter of civilization), sekaligus membangun peradaban di masa-masa yang akan datang. Di sana cikal bakal peradaban digagas, dirancang dan dimulai.
            

Pada kesempatan itu disampaikan juga dua kategorisasi peradaban untuk dan/atau di Lamakera. Pertama, Bukit Peradaban Tuan Haji Ibrahim Dasy. Kategorisasi ini berkaitan erat dengan peristiwa historis di seputar rekam jejak gerak peradaban yang dilakukan oleh tokoh ideologis nan genius jauh sebelumnya, yakni sosok Abdur Syukur Ibrahim Dasy (selanjutnya disingkat ASID). 

 

Sosok yang dianggap sebagai peletak batu dan/atau kerangka peradaban untuk Lamakera pada masanya, yang memberikan pengaruh dan inspirasi bagi anak Lewo Tanah selanjutnya. Sehingga Bukit Peradaban merupakan "fantasi" untuk kembali mengenang sekaligus mengabadikan memori kolektif (tentang) sejarah perjuangan sosok ASID dalam kerangka pembangun peradaban Lamakera selanjutnya.
            

Menariknya, kategorisasi Bukit Peradaban (Hill of Civilization) disematkan secara langsung dengan salah satu simbol dan lokus peradaban, yakni MAN Plus Lamakera yang berdiri tegak (dengan bangunan infrastruktur yang masih ala kadarnya) tepat di bawah lereng bukit Lamakera. Tentunya penyematan Bukit Peradaban Tuan Ibrahim Dasy dengan Madrasah memiliki makna historis-empirikal. Setidaknya menggambarkan bahwa gerakan peradaban tempo dulu yang digagas dan dilakukan ASID berangkat dari Madrasah sebagai lokus episentrumnya. 

 

Karena itu, dalam rangka melanjutkan titah pembangunan peradaban yang sempat sirna dalam sejarah ke-Lamakera-an (kita) perlu menata, mendidik dan menyiapkan SDM yang berkompeten dan berintegritas untuk siap mengambil kembali peran dan kerja-kerja peradaban. Dan hal itu hanya dilakukan dengan dan/atau melalui dunia pendidikan, baik informal maupun terlebih-lebih lagi formal.
            

Kedua, Lembah Peradaban (Valley of Civilization). Kategorisasi ini menjelaskan bahwa sumber peradaban lainnya yang tidak kalah pentingnya adalah "kekuatan ekonomi". Artinya peradaban membutuhkan "kekuatan ekonomi". Karena itu, membanguan "kekuatan ekonomi" masyarakan menjadi hal yang penting untuk diperhatikan dan dituntaskan. 

 

Dengan kata lain, kategorisasi Lembah Peradaban secara tidak langsung memberikan isyarat sekaligus warning kepada anak Lewo Tanah yang memiliki kepedulian terhadap masa depan Lamakera untuk melihat secara seksama kondisi riil perekonomian masyarakat Lamakera. Semacam ada tuntutan agar men-desain konsep dan agenda pembangunan perekonomian masyarakat dalam kerja-kerja nyata untuk menyongsong peradaban Lamakera.
             

Hal ini karena kondisi perekonomian masyarakat Lamakera terbilang cukup memprihatinkan, masih jauh dari standar dan harapan pembangunan ekonomi. Kondisi ini semakin diperparah -di antaranya- dengan adanya KEPMEN No. 4 Tahun 2014, perihal larangan penangkapan ikan pari manta, yang notabene merupakan bagian dari mata pencarian masyarakat Lamakera, tanpa menghadirkan tawaran solutif yang sesuai dengan nalar kebutuhan dan apa yang menjadi local wisdom masyarakat setempat. 

 

Bila kondisi ini dibiarkan begitu saja akan memperparah kondisi perekonomian masyarakat, selain juga akan memperlambat dan menghambat masa depan peradaban Lamakera. Karena tidak ada artinya peradaban jika kondisi perekonomian masyarakat masih mengangga semacam itu, belum tercipta keadilan/peradaban ekonomi/Lembah Peradaban.


Pada konteks demikian, pokok pemikiran peradaban Ali Taher Parasong memiliki ruang aktual, sekaligus menjadi sebuah narasi yang signifikan untuk (terus) diperbincangkan. Karena pokok pemikiran berikutnya masa depan peradaban Lamakera -dalam kerangka tersebut- bukan sebuah imajine, pun bukan ilusi dan delusi. Ia adalah benar-benar mimpi nyata Anak Lewo Tanah yang terstruktur dalam pelbagai ikhtiar, yang memiliki akar historis yang (begitu) kuat juga sesuai dengan fakta kekinian. Sehingga ia benar-benar merupakan realitas yang tidak terbantahkan, objektif dan realistis.
              

Tinggal apa dan bagaimana posisi dan peran Anak Lewo Tanah di dalamnya, apakah menjadi momentum untuk bersatu membangun atau sebaliknya. Namun, sudah tidak saatnya lagi "beronani pemikiran" pada hal-hal yang tidak penting lagi tidak produktif. Apalagi hanya sekadar baku sikut dan sikat karena perbedaan paham dan pilihan. Karena itu, tinggalkan primordialisme suku dan provokasi terkait. 

 

Kita harus bersatu dan menyatu dalam perbedaan, menjadikan perbedaan sebagai kekuatan untuk bersatu padu membangun peradaban Lamakera. Karena apa dan bagaimana masa depan peradaban Lamakera berada dan sangat-sangat tergantung pada Anak Lewo Tanah sebagai generasi yang dipundaknya terdapat amanah dan tanggung jawab peradaban Lamakera ke depannya.

 

Oleh : Azis Maloko
( Mahasiswa Pascasarjana UIN ALAUDDIN Makassar / pengurus Cabang HmI MPO Makassar )