Skip to main content

OPINI: Isyarat Persatuan HMI

OPINI: Isyarat Persatuan HMI
ilustrasi. Himpunan Mahasiswa Islam. (INT)

Kemajuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) mesti dibarengi dengan sikap menjaga persatuan, khususnya di kalangan umat Islam. Jika seluruh umat Islam bersatu, maka akan menjadi umat pemenang dalam kemaslahatan dan kebaikan.

 

Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) memiliki kewajiban untuk menyelenggarakan kongres, yang mana merupakan hajatan besar untuk menyatukan kesadaran kadernya dari seluruh Indonesia.

 

Jika kader HMI tidak menyatukan kesadaran dalam hajatan besar tersebut, maka sangat rugi. Sebab, perpecahan merupakan awal daripada kebuntuan-kebuntuan dalam merealisasikan tujuan organisasi.


Secara umum, tujuan organisasi dapat menjadi sebuah wadah untuk bersama-sama mencapai tujuan dengan efektif dan efisien. HMI merupakan organisasi mahasiswa Islam tertua dan terbesar di Indonesia sehingga terdapat beragam kepentingan di dalamnya dan melahirkan banyak faksi yang bersaing di dalamnya.


Secara praktis, kongres HMI sebagai sarana artikulasi kepentingan, menjadi ruang yang subur bagi tumbuhnya persaingan kelompok maupun elit dalam rangka memenangkan pengaruh dan posisi penting dalam proses mewujudkan tujuan organisasi.

 

Faksionalisme di dalam tubuh PB HMI kini bersumber dari dua arus besar dalam dualisme kepemimpinannya. Faksi-faksi tersebut dapat berkisar dari faksi-faksi terprogram, yang relatif koheren yang mengejar tujuan kebijakan, di sisi lain ada faksi-faksi klientelisme yang berkumpul secara asimetris dengan harapan mendapatkan keuntungan dari patronase yang tersedia.


Namun hal tersebut mencirikan organisasi baru yang lebih personalis dimana dinamika kader maupun anggotanya bergerak secara eksklusif di sekitar patronase. Lagi pula faksionalisme yang terjadi hanya sebagai aspirasi yang meluas dari komunikasi intra-organisasi.


Adapun pembilahan kepentingan merupakan kewajaran yang berarti mencirikan identitas kelompok. Namun seharusnya faksi-faksi tersebut mampu berunding kembali dalam bingkai himpunan, bukan malah membelah kepemimpinan bahkan menjalankan kongres masing-masing.

 

Tidak dapat dinegasikan, bahwa kongres HMI adalah forum tertinggi yang bersifat independen untuk memperjuangkan tujuan organisasi. Sehingga terkandung maksud untuk mendamaikan konflik akibat adanya persaingan di antara berbagai tuntutan faksi. Di samping itu, sebenarnya, tafsir independensi HMI menjadi salah satu pemahaman yang mampu membebaskan diri dari ketergantungan pada seseorang sosok atau pemimpin.


Seperti sering digemakan dalam agenda perkaderan HMI, bahwa Islam merupakan pembebasan termasuk dari patronase maupun pengkultusan.

 

Berlandaskan argumen konstitusional sebenarnya kader dijamin dalam menyikapi kongres HMI dengan tidak ke kiri atau ke kanan, terkecuali memandang kepentingan Islam dan Indonesia.


Oleh karena itu mengembalikan himpunan pada khittah perjuangannya dirasa perlu untuk membuktikan bahwa persatuan di kongres HMI merupakan kesadaran penuh seluruh kadernya.


  • Penulis: Fadli Umam, Wasekjend Bidang Ekonomi dan Pembangunan Nasional PB HMI

HMI

 

loading...