Skip to main content

OPINI: Dakwah "Sipakainga", Refungsionalisasi Masjid

OPINI: Dakwah "Sipakainga", Refungsionalisasi Masjid

Ilustrasi masjid futuristik. (Flickr/Samer M)

 


Pada Musyawarah Besar (Mubes) Ikatan Masjid Mushalla Indonesia Muttahidah (IMMIM) beberapa saat lalu, pak Jusuf Kalla (JK) Wakil Presiden RI menyampaikan masjid tidak sekadar untuk "bicara Agama" tapi juga masalah sosial, pendidikan, pertanian dan seterusnya. 


Apa yang disampaikan oleh Pak JK, sebenarnya memberi sinyal kepada para kiai, ustaz, para mubaligh, da'i agar perlunya memperluas wawasan keilmuannya. Tidak sekadar bicara soal-soal agama “melulu" di masjid yang terkadang, cenderung membosankan dan itu-itu terus.

 

Tapi sudah saatnya (para mubaligh) menguasai berbagai disiplin ilmu pengetahuan umum seperti ekonomi,sosiologi, sains, kesehatan,pertanian dan lain-lain, agar jamaah mendapatkan informasi dan pengetahuan yang luas.


"Tidak bicara agama melulu" dalam ceramah, khotbahnya yang cenderung membosankan dan terulang di telinga jamaah, yang banyak membuat ngantuk, apa lagi terkadang khatibnya tidak sadar isi khotbahnya terulang di masjid yang sama dan jamaah yang sama atau pengajian yang sama. 


Maka perlu ceramah cerdas dan akal sehat di era global "zaman now", menyesuaikan materi kebutuhan era revolusi industri 4.0. Perlu pencerdasan kepada umat bahwa fungsi masjid bukan hanya bicara soal agama, tapi juga aktifitas sosial, ekonomi, termasuk tempat pernikahan dan pengobatan.


Seperti peristiwa pada perang Khandak, Sa’ad bin Mu’adz mengalami luka-luka karena terkena panah oleh kafir Quraisy, lalu Rasulullah memerintahkan untuk mencari masjid terdekat untuk dijadikan tempat istrahat pengobatan.


Sehingga di era keterbukaan, sudah saatnya masjid jadi tempat kemanusian, tempat aktifitas sosial, tempat bicara ekonomi dan bicara kesejahteraan umat tidak sekedar bicara agama dan agama tapi miskin bicara kemajuan, kemakmuran dan keadilan sosial, termasuk elergi bicara politik kemanusiaan.

Fungsi masjid tidak sekedar tempat sujud dan ibadah, dakwah agama tapi juga tempat bicara kemajuan, kesejahteraan umat  dan berbagai aktivitas sosial dan pendidikan yang menunjang keselamatan dunia dan akhirat. 

 

Salam bermartabat


Penulis: Prof. Dr. Abd. Rasyid Masri, Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi Uin Alauddin Makassar.


a
*) Isi opini ini adalah tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi tanggung jawab redaksi KABAR.NEWS

 

loading...