Skip to main content

Negara Memproduksi Kegilaan...

opini
Syahroel Ramadhoan Fungsionaris DPP KNPI

Belakangan ini kerap kali terjadi hal yang diluar dugaan dan nalar rasionalitas kita, seolah negara ini tidak akan habis ditimpa berbagai masalah. Selesai masalah yang satu muncul lagi masalah yang lain. Masalah ini ibarat muncul dan tumbuh seperti jamur di musim hujan.

Sebenarnya hal seperti ini sangat lazim dalam sebuah negara, apa lagi negara besar seperti Indonesia. Kalau terus menerus patut kita duga dan bertanya, ada apa dibalik ini semua? Apakah ini karena ketidak mampuan pemerintah untuk mengelola berbagai dinamika dan problematika yang ada? Jawabannya bisa iya atau juga tidak demikian. 

Tetapi kalau kita merujuk pada realitas yang terjadi belakangan ini menguatkan kita, bahwa memang ada ketidakmampuan pemerintah yang terus memastikan untuk "melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia" sesuai dengan janji dan amanah Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945. 

Harus kita tahu semua, sebenarnya kenyamanan dan ketertiban adalah hak semua anak bangsa yang di sudah jamin oleh konstitusi dan tidak patut dikibiri oleh negara sendiri dengan alasan apapun. Memasuki tahun 2018 ini seolah menjadi tahun yang muram bagi iklim kehidupan berbangsa kita dalam bingkai keindonesiaan. Bayangkan baru-baru ini masih segar dalam ingatan publik tentang serangkaian serangan aneh yang dilakukan orang, yg konon di identifikasi sebagai orang gila, dan korbannya Ulama dan Ustaz. Kini, pendeta dan gereja diserang juga. Menurut catatan Media Online, Republika yang di posting pada tanggal 11 Februari yang penulis baca, setidaknya ada empat serangan terhadap ulama dan ustaz yang terkonfirmasi dalam tiga pekan terakhir ini.

 Serangan pertama menimpa Pengasuh Pondok Pesantren al-Hiadayah, Cicalengka, Kabupaten Bandung, KH Emon Umar Basyri, Sabtu (27/1). Serangan kedua terjadi pada 1 Februari 2018 dengan korban Ustaz Prawoto, Komandan Brigade Pimpinan Pusat Persatuan Islam (Persis). Prawoto meninggal dunia oleh serangan yang dilakukan oknum tetangga yang diduga alami gangguan kejiwaan. Kemudian ada serangan terhadap seorang santri dari Pesantren Al-Futuhat Garut oleh enam orang tak dikenal. Ada juga seorang pria yang bermasalah dengan kejiwaannya bersembunyi di atas Masjid At Tawakkal Kota Bandung mengacung-acungkan pisau.

Ketika serangan pertama terhadap ulama muncul, tidak ada kecurigaan kisah pedih ini akan berlanjut alias berseri. Namun, ketika kasus serupa dialami Ustaz Prawoto, banyak kalangan serangan seperti ini belum tentu berhenti di sini. Ada semacam pola yang sama dengan target yang sama untuk mengganggu kehidupan beragama di Indonesia. Dan pada Ahad (11/2) ini, pendeta dan jemaat Gereja Santa Lidwina, Kabupaten Sleman, DIY, diserang. Empat jemaat luka-luka dan pendeta yang memimpin ibadah pun terluka akibat serangan menggunakan pedang.

Kadang negara kita ini aneh, orang gila dibiarkan berkeliaran dimana-mana. Bukanya mereka di tempatkan pada tempat seperti rumah sakit jiwa, sebagai kewajiban dan tanggung jawab negara untuk memelihara dan melindungi, layaknya seperti fakir miskin dan anak-anak terlantar. Kasihan ulama dan Pendeta yg senantiasa selalu menyampaikan pesan kebaikan dan kebajikan kepada seluruh umatnya malah dihajar dan dihabisi, bahkan ada yang sampai meninggal jika merujuk pada catatan Republika diatas. Masalah diatas membuat nurani kita sebagai manusia cukup memprihatinkan dan sangat menggelitik dan membuat kita bertanya, apakah ini buah dari revolusi mental yang terus di angung-anggungkan oleh pemerintahan Jokowi - JK selama kurung waktu kepemimpinannya..? Atau mana komitmen "Nawacita"  yang katanya selalu memastikan kehadiran Negara atas semua persoalan yg kerap di hadapi oleh anak bangsaNya. 

Mungkin kita patut diduga, memang Negara lah aktor yg mengatur dibalik semua rangkaian dan skenario atas aksi keji yang dilakukan oleh orang yang katanya di identifikasi sebagai orang gila tersebut. Kedepanya tidak menutup kemungkinan akan terjadi lagi hal serupa kepada pemuka agama, seperti biksu dan pemuka agama lain-lain. 

Apakah negara ini memang sengaja membuat teror kepada rakyatnya agar menutupi hasrat kegilaan elit dan  kegagalan pemerintah dalam mengelola kekuasaan dan ketidak mampuan untuk menunaikan janji kesejahteraan segenap rakyatnya. Buat apa rakyat bayar pajak kalau tidak membawa kebaikan dan kemaslahatan serta keamanan bagi seluruh rakyat Indonesia. Kasih rakyat, berhentilah membuat dan memproduksi banyak kegilaan. Karna itu tidak akan membawa kebaikan dan kemaslahatan bagi rakyat, dan yang ada akan menciptakan kehancuran dan malapetaka yang luar biasa mengerikan yg didapatkan oleh rakyat. 

Sebelum mengakhiri tulisan ini penulis ingin menegaskan, cukup sampai disini masalah seperti diatas dan jangan sampai ada lagi, karna masih banyak persoalan dan agenda yang sangat mendesak untuk diselesaikan oleh pemerintahan sekarang. Fokus lah bekerja dan menentaskan kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan segenap rakyat, dan manfaatkan sisa kepemimpinan ini sebaik-baiknya untuk kebaikan dan kemajuan bangsa. 

Kalau bukan sekarang kapan lagi ada kesempatan untuk bisa mengukir dengan tinta prestasi dan legacy diatas kanvas yang bernama Indonesia ini. Semoga tulisan ini bermanfaat dan bisa mempertajam dilektika serta memperkaya khazanah pengetahuan kita atas persoalan bangsa. 

Jakarta, 12 Februari 2018

Oleh: Syahroel Ramadhoan 
(Fungsionaris DPP KNPI)