Skip to main content

Nasionalisme : Antara Konsepsi dan Realitas Negara 

UIN
Kasrum Hardin.(IST)

KABAR.NEWS - Tak ada bangsa yang memperjuangkan kemerdekaan tanpa melalui semangat kebangsaan”. Demikian nasehat dari Founding Father Indonesia yang sekaligus admistrator sejati Mohammad Hatta, sebagai seorang proklamator bersama sahabat karibnya Soekarno sikap tindak dari seorang Hatta sebagai seorang yang berpaham Nasionalis tak diragukan lagi.

 

Semangat dan cita-citanyalah negara Indonesia hadir sebagai negara yang kaya budaya, bahasa dan agama. tentu selain negara ini sebagai titipan sang Maha Rahim, juga merupakan titipan dari pahlawan yang telah berjuang hingga tetes darah penghabisan.


Nasionalisme adalah paham berbasis yang cinta terhadap bangsa dan negaranya atas dasar perjuangan panjang dan tebusan darah para pahlawan yang telah gugur bersama cinta dan semangat juangnya. tepat pada tanggal 17 Agustus 2018 nanti akan memperingati hari ulang tahun Ke 73, sejarah masa bahagia bercampur haru itu di kenang kembali, sebab pada hari itulah Indonesia menghapuskan segala penjajahan atas kolonial dan imperialisnya karna tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.


Perlu kiranya bangsa yang telah menikmati kemerdekaan, agar mampu mengingat sejarah dan tidak melupakannya untuk menjadi semangat berbangsa dan bernegara, sebagaimana pesan Bung Karno Proklamator republik ini “Jangan sekali-kali melupakan sejarah (JAS MERAH)”. Bung Karno ingin memberi identitas kepada anak bangsa yang merupakan generasi pencinta sekaligus pelanjut untuk rumah kita Indonesia, agar merawat Indonesia yang telah diperjuangkan dengan tangisan bercampur darah pada masa lalu, guna mempertahankan kemerdekaan negara kesatuan republik Indonesia dengan landasan ideologis pemersatu bangsa yaitu Pancasila.


Indonesia bukanlah lahir dari sebuah kehampaan serta kekosongan nilai, ia lahir berkembang dengan semangat kebangsaan bersama budaya dan kultur yang telah mengakar di pulau nusantara ini, sebutan Indonesia sebelum menjadi negara merdeka. 


Berjejer pulau-pulau membuatnya indah permai setiap pulau dihuni oleh masyarakat yang sangat menjunjung tinggi etika dan moral sesuai budaya serta adat istiadat mereka. 


Untuk inilah Indonesia disebut negara Pluralistis sebab kaya akan budaya dan bahasa, namun sekalipun bangsa ini plural tetapi para pendiri bangsa menyatukannya dengan konsepsi Pancasila yang terkenal dengan “Bhineka Tunggal Ika” berbeda-beda tapi tetap satu Indonesia. Sebab persatuan sebagaimana termaktub pada sila ke tiga Pancasila akan berimbas pada kedamaian dan toleransi yang lebih memperkukuh bangsa dan negara.


Atas dasar konsepsi ideologi Pancasila, bangsa Indonesia sebagai bangsa yang majemuk, sejak 1945 telah mengembangkan pluralisme, bahkan menjadikannya sebagai bagian dari prinsip kehidupan berbangsa dan bernegara. 

Sila pertama Pancasila “Ketuhanan yang Maha Esa”, merupakan prinsip kebebasan hidup agama-agama yang ada dalam masyarakat. Prinsip ini kemudian dipertegas melalui rumusan  UUD 1945 Pasal 29 yang menegaskan bahwa setiap warga berhak dan bebas memeluk agama masing-masing.


Tentu sebagai negara, banyak mengalami tantangan dalam perjalanannya, itu terbukti akhir-akhir ini terhembus kembali sikap dan tindakan-tindakan yang ingin merubah konsepsi ideologi negara sebut saja HTI dengan paham khilafah yang akhirnya dibubarkan oleh pemerintah dan di perkuat melalui PERPPU No.2 tahun 2017 tentang organisasi masyarakat dan demo berjilid-jilid yang menginginkan NKRI bersyariah. Tentu sebagai negara yang juga berpaham Demokrasi itu sah sebagai pendapat anak bangsa yang mungkin ingin melihat bangsa dan negara ini maju, damai dan sejahtera. 


Wajib sebagai anak bangsa pula teringat kembali Nasehat Bung Karno dengan “JAS MERAHnya”. agar tidak melupakan sejarah perjuangan masa lalu. Dalam hal ini jika ingin merubah garis besar haluan negara (GBHN) yang berlandaskan Pancasila, Harus membuka lembaran perjalanan panjang sejarah pembentukan falsafah negara. 


Bagi bangsa Indonesia Pancasila ditentukan sebagai dasar falsafah dalam kehidupan bersama dalam suatu negara kesatuan republik Indonesia adalah sebuah nilai yang diangkat dari kultur masyarakat, bukanlah sekedar merupakan suatu preferensi, melainkan suatu realitas objektif. 


Olehnya konstatasi bangsa dan negara yang secara geopolitik, terdiri atas beribu pulau, berbagai macam suku ,ras, budaya, kelompok dan agama, mengharuskan bangsa Indonesia untuk hidup bersama, dalam suatu keanekaragamannya.


Nasionalisme anak bangsa diuji kembali dengan adanya gerakan – gerakan ingin mengganti konsepsi Pancasila sebagai ideologis negara padahal jelas bahwa pluralitas merupakan realitas objektif dan Nasionalisme sebuah konsep yang merealitas terhadap bangsa Indonesia. 


Teringat dalam buku karya istimewa Prof. DR H. Kaelan berjudul NEGARA KEBANGSAAN PANCASILA  bahwa “pancasila sebagai dasar negara Republik Indonesia sebelum disahkan pada tanggal 18 Agustus 1945 oleh PPKI, nilai-nilainya telah ada pada bangsa Indonesia dalam mendirikan negara, yang nilai-nilai adat-istiadat, kebudayaan serta nilai-nilai religius’’. Jelas bahwa siapa pun ingin mengubah konsepsi negara, maka dimungkinkan terjadinya perpecahan, karna nasionalisme sebagai paham yang berbasis Pancasila dan telah mengakomodir semua perbedaan serta menjadi kausa toleransi haruslah tetap dipertahankan dan dirawat kelangsungannya.

  • Alumni Lombok Youth Camp For Peace Leaders 2018, Kasrum Hardin