Miris! Insentif Nakes di Puskesmas Jeneponto Dipangkas Jutaan Rupiah

Terjadi di Puskesmas Bontoramba, Jeneponto

Miris! Insentif Nakes di Puskesmas Jeneponto Dipangkas Jutaan Rupiah
Ilustrasi. Tenaga kesehatan melakukan simulasi penanganan pasien Covid-19. (KABAR.NEWS/Irvan Abdullah)






KABAR.NEWS, Jeneponto - Sejumlah tenaga kesehatan atau Nakes di Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan, tak hanya mengeluhkan lambannya pencairan insentif penanganan Covid-19 beberapa bulan lalu. Sebagian dari mereka juga mengeluh pemotongan insentif yang mencapai jutaan rupiah. 


Pemotongan insentif penanggulangan Covid-19 tersebut dialami oleh sedikitnya tujuh Nakes yang bertugas di Puskesmas Bontoramba, Jeneponto.


Seorang Nakes di Puskesmas Bontoramba mengatakan, insentif mereka yang mereka terima merupakan pembayaran bulan September sampai Desember 2020, namun baru dicairkan pada Juli 2021. (Baca juga: Nakes Keluhkan Oknum BKPSDM Jeneponto Diduga Minta Duit "Pelicin" Kenaikan Pangkat)


"Ada sebelas orang yang terima insentif. Yang dipotong setahu saya tujuh orang. Kalau dokter, kepala puskemas dan surveilans satu dan dua saya tidak tahu dipotong juga atau tidak," ujar Nakes kepada KABAR.NEWS di Jeneponto, Jumat kemarin. Ia tak ingin namanya disebut karena takut kena marah pimpinan.


Nakes tersebut mengaku, total insentif yang ditransfer pemerintah ke rekeningnya sendiri sebesar Rp10 juta untuk pembayaran bulan September - Desember 2020. Namun, insentif itu justru dipotong hampir setengah dari nilai yang seharusnya ia terima. 


Kepala Puskesmas Diduga Dalang Pemangkasan Insentif


Pemotongan insentif nakes diduga kuat didalangi oleh Kepala Puskesmas Bontoramba bernama Frida. Lantas, bagaimana modus kepala puskesmas diduga memotong insentif ketujuh nakes yang menjadi garda terdepan penanganan Covid-19? 


Narasumber mengatakan, saat hari pencairan tiba, mereka diperintahkan oleh orang suruhan kepala puskesmas untuk menarik uang insentif dari rekening masing - masing. Mereka dilarang membelanjakan uang tersebut sebelum diserahkan ke kepala puskesmas. (Baca juga: Hebat! Parepare Bayarkan Insentif Nakes Sejak Oktober 2020 Hingga Mei 2021)


Setelah duit tersebut cair, ketujuh nakes diminta mengumpulkan uang insentif dan kemudian diserahkan secara tunai kepada kepala puskesmas. Alasannya, Frida sendiri yang membagikan uang tersebut setelah dipotong. 


"Karena dia bilang surveilans-nya nanti kapus (kepala puskesmas, red) yang bagi insentif. Karena sebelum dana cair, memang sudah dikasih tahu kalau uang yang masuk ke rekening akan dikumpul, kemudian dibagi," jelas Nakes.

Kepala Puskesmas Bontoramba, Jeneponto, Frida. (KABAR.NEWS/Akbar Razak)


Kata dia, nominal insentif yang diduga dipangkas oleh kepala puskesmas berbeda-beda. Mirisnya, ada nakes pada puskesmas ini yang insentifnya dipotong sebesar Rp8 juta. Dalihnya, adalah uang yang disunat tersebut dibagikan kepada pegawai puskesmas lain yang tidak mendapat insentif.


"Yang dapat 4 juta, tiga orang, yang dapat 2 juta, satu orang, yang dapat 3 juta, satu orang. Ada yang pemotongan 8 juta. Ada juga 7 juta. Ada juga 8.5 juta potongannya," terangnya.


Sejumlah nakes yang insentifnya dipotong di puksesmas ini mengatakan, duit yang sudah dikumpulkan kepala puskemas kemudian diberikan kepada nakes yang diklaim tidak menangani Covid-19. (Baca juga: PPNI Sulsel Beri Penghargaan Tertinggi untuk Perawat yang Gugur)


"Yang saya tahu di ruangan apotik Rp700 ribu, bidan Rp2,5 juta, di ruangan gigi Rp500 ribu, kesling Rp500 ribu. KTU juga dan perawat tapi tidak saya tahu mereka berapa dikasihkan," ucapnya.


Klaim Tidak Dipotong, Tapi Dibagi-bagi


Kepala Puskesmas Bontoramba Frida tidak menampik ada sejumlah nakes yang insentifnya ia kurangi. Dia mengaku bahwa sisa insentif nakes tersebut dibagikan kepada nakes lainnya.


"Saya rasa kami tidak potong itu insentifnya nakes, dia berbagi. Karena itu insentif kita dibayarkan sesuai dengan kasus yang ada di lapangan," ujar Frida saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat.


Dia menjelaskan, insentif nakes diberikan sesuai hasil pemantauan kasus Covid-19. Di dalam satu kasus itu, nakes memonitoring selama 14 hari dan setelahnya dilakukan screening


Dia mengatakan untuk honorarium tiap nakes di puskesmas beda-beda, sesuai kriteria masing-masing. "Jadi tidak semua itu teman-teman nakes masuk, karena kita juga dibayarkan sesuai dengan kasus. Kalau kasusnya berapa, maka biasa ada dua tiga nakes yang masuk begitu," ujar dia.

Dia mengklaim, bukan hanya nakes Covid-19 yang keluar memantau penularan di lapangan mendapat insentif, termasuk nakes yang bekerja di dalam gedung. (Baca juga: Nakes di Jeneponto Pakai Hazmat Ikut Upacara HUT RI ke-76)


"Jadi yang keluar itu ada namanya tidak semerta-merta bahwa itu yang punya nama dia harus ambil itu semua dana. Karena kita itu berbagi di sini. Karena penanganan covid ini bukan hanya satu dua orang. Ada penanganan covid di dalam gedung dan di luar. Kalau diuar gedung itu yang memantau, kalau dalam gedung itu semua tim puskesmas itu di dalamnya," klaim Frida.


Menurut Frida, karena tidak semua nakes di Puskesmas Bontoramba dapat insentif, maka dilakukanlah kesepakatan bahwa yang menerima membagi pada yang tidak mendapatkan.


Dua nakes menampik klaim kepala puskesmas. Mereka menegaskan tak ada pembicaraan atau kesepakatan sebelumnya dengan Frida terkait pemotongan insentif. Hal ini yang mereka keluhkan.


Tapi, mereka kerap diingatkan oleh Frida, jika uang itu telah ditransfer ke rekening masing-masing, maka kepala puskesmas yang akan membagikannya. (Baca juga: Iksan Iskandar Marah, Jeneponto Belum Capai Target Vaksinasi)


"Tidak ada, cuma itu yang selalu diingatkan sama kami kalau insentif yang masuk ke rekening akan di kumpul kemudian dibagi," bantah Nakes.


Di tempat yang sama, Penanggung Jawab Surveilans PKM Bontoramba, Mustaki mengatakan jumlah nakes yang mendapat SK penanganan Covid-19 sebanyak 13 orang. Namun, tak sepenuhnya mendapatkan insentif.


"Kan ada aplikasi. Jadi tidak semua dimasukkan untuk mendapat insentif. Kan berdasarkan jumlah kasus," ucpannya.


Selain itu, kata dia, tiap bulan nakes mendapapkan insentif 5 juta per orang, jika mereka melakukan pemantauan selam 14 hari berturut-turut.


"Tapi kalau misalkan dua kasus sementara pemantauannya cuman tiga 3 hari, kan tidak mungkin dapat 5 juta itu. Yang ful itu kalau misalnya dia melakukan pemantauan 14 hari. Otomatis yang masuk. Artinya yang positif saja dihitung. Perbandinganya itu satu banding empat. Ketika kita mendapatkan 4 yang positif, satu saja nakes," beber dia.


Sekadar diketahui, besaran insentif Nakes ditetapkan dalam Surat Menteri Keuangan Nomor 113 tahun 2021 dan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/278/2020, kemudian diperbarui melalui Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/4239/2021. (Baca juga: RSUD Jeneponto Ngutang Rp3 miliar untuk Obat Corona)


Dalam beleid itu disebutkan, besaran insentif nakes yang menangani Covid-19 berbeda-beda sesuai tingkat fasilitas kesehatan dan kriteria yang telah ditentukan. Untuk dokter spesialis maksimal Rp 15 juta, Peserta PPDS Rp12,5 juta, dokter dan dokter gigi Rp10 juta.


Sementara, perawat dan bidan Rp7,5 juta dan tenaga kesehatan lainnya Rp5 juta. Pemberian insentif juga akan dihitung berdasarkan rasio pasien yang dilayani oleh tenaga kesehatan. 

Penulis: Akbar Razak/A