Mengenal Retorika Dalam Nyanyian Bissu Pangkep

Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah, Universitas Negeri Makassar

Mengenal Retorika Dalam Nyanyian Bissu Pangkep






“Memanusiakan Manusia” mungkin kata ini sangat cocok disematkan bagi sebagian warga Bugis terkhusus di Kabupaten Pangkep, Provinsi Sulawesi Selatan. Pasalnya mereka masih mempercayai kaum Bissu adalah sosok manusia yang mempunyai martabat tinggi, bahkan dijuluki Manusia separuh Dewa.

Di daerah Pangkep, Bissu hadir sebagai dedikasi terhadap budaya dan adat istiadat, mereka dianggap sebagai mahluk spiritual yang tidak berada di tengah-tengah antara laki-laki dengan perempuan, melainkan mewujudkan kekuatan keduanya sekaligus.

“Dikatakan bahwa setelah turun dari surga, Bissu tidak terpecah dan menjadi pria atau wanita, seperti kebanyakan orang,” jelas Muzakkar (pengamat kebudayaan Pangkep).

Dengan demikian, mereka dianggap sebagai perantara antara dunia dan menempati peran seperti dukun dalam agama masyarakat Bugis.

Retorika pada nyanyian Bissu dapat kita saksikan setiap para Bissu melakukan ritualnya salah satunya pada saat upacara Mappalili yang merupakan upacara yang dilakukan saat musim penghujan tiba biasanya pada bulan November dan dilaksanakan sesaat sebelum para petani turun ke sawah.

Saat melakukan ritualnya, mereka menghunus keris dan menusuk bilah yang bergelombang itu ke pelipis, telapak tangan, bahkan kelopak mata mereka sendiri seakan tidak merasakan sakit atau hampir tidak mengeluarkan darah setetes pun. Dalam memanjatkan doa-doa mereka diiringi oleh asap kemenyang yang harum dan suara gendang agar nyanyian menjadi sangat intens hingga para Bissu menari tersentak-sentak bak kesurupan.

Untuk menjalani ritual tersebut (Ma’giri’) dan melewatinya tanpa terluka dipandang sebagai bukti bahwa Bissu telah dirasuki dewa dan siap member berkah.

Oleh : Indira Nurcahyani, Ade Shindy Arlinda dan Mustafa
(Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah, Universitas Negeri Makassar)