Melihat Tuuk Tea Bekerja: Terus Melejit Kala Pandemi, Kini Siap Terima Investasi

- Pada tahun 2021, omzet perusahaan mencapai miliaran. Tuuk Tea boleh dikata sebagai pemain utama pasar minuman gelas kekinian di Palopo.

Melihat Tuuk Tea Bekerja: Terus Melejit Kala Pandemi, Kini Siap Terima Investasi
Kolase foto: Kedai satu, dua dan Tuuk Eatry milik Tuuk Tea di Kota Palopo, Sulawesi Selatan. (KABAR.NEWS/Arya Wicaksana)






KABAR.NEWS, Palopo - Jika membincang perkembangan bisnis minuman kekinian di wilayah Luwu Raya, Sulawesi Selatan, khusunya di Kota Palopo, maka ada satu nama yang tidak boleh luput dari perbincangan utama. Dia adalah Tuuk Tea.


Bisnis Thai Tea yang berdiri sejak tahun 2018 Lapangan Pancasila itu, kini terus bergeliat menjadi salah satu pemain utama dalam pasar minuman gelas atau kap di Palopo.

Awal mula bisnis Tuuk Tea dimulai dari Lapangan Pancasila, Palopo. (Instagram/tuuk.tea)


Tuuk Tea bisa dibilang sebagai patron, dari lahir dan menjamurnya pedagang Thai Tea di Palopo dalam tiga tahun terakhir. Tuuk Tea hadir lalu meng-hegemoni.


Seperti namanya, Tuuk Tea berdagang teh gelas khas Thailand atau Thai Tea, tapi dengan rasa dan racikan yang relatif jauh lebih berkualitas dibanding minuman populer sejenis. (Baca juga: Aston Makassar Hadirkan Makanan Korea Beef Bulgogi)


Saat bisnis Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) sejenis berguguran, Tuuk mampu bertahan bahkan semakin eksis. Krisis masa pandemi bisa terlalui. Kini Tuuk sudah memiliki tiga kedai dengan jumlah 45 karyawan.


Owner Tuuk Tea Viqra Wardhana yang ditemui pada Desember 2021, mengaku bersyukur atas perkembangan Tuuk sepanjang tiga tahun terakhir.


"Kalau perkembangan alhamdulillah naik terus, karena tiap tahun kita tambah outlet," ujar Iqra sapaan Viqra kepada KABAR.NEWS di Palopo. 

Salah satu menu Tuuk Tea. (Instagram/tuuk.tea)


Tuuk Tea bermula dari gerobak di Lapangan Pancasila yang ukurannya tak lebih besar daripada gerobak penjual bakso. Di sini mereka menjajakan Thai Tea, Green Tea juga es coklat dengan berbagai varian.


Kurang lebih-setahun berdagang di Pancasila, pada Agustus 2019, kedai semi - permanen Tuuk Tea hadir di Jalan Andi Djemma. Outlet ini boleh dikata sebagai "kiblat" hadirnya desain outlet take-away sejenis di Kota Idaman.


Dari kedai satu yang berada di jantung Kota Palopo, nama Tuuk semakin melambung. Begitu juga dengan pengikutnya di Instagram terus bertambah. Tentu, kian melipat gandakan cuan.


Meski demikian, Iqra menyebut pertumbuhan itu terbilang lambat. Berbagai faktor melatari hal ini. Satu di antaranya adalah Tuuk bergerak secara mandiri tanpa sokongan modal besar. (Baca juga: Kedai Bau Mangga, Tempat Nongkrong Recommended di Makassar)


"Tapi menurut saya yah, itu agak lambat, sarena satu tahun satu outlet begitu. Itu karena kita own store, usaha ini hanya dimiliki oleh satu orang tanpa investor dan pinjaman bank," katanya.

Kedai satu Tuuk Tea di Jalan Andi Djemma, Kota Palopo. (KABAR.NEWS/Arya Wicaksana)


Satu tahun kedai Andi Djemma beroperasi, pandemi Covid-19 justru datang mengakhiri segala aktivitas ekonomi di Lapangan Pancasila. Termasuk gerobak kecil Tuuk Tea harus mangkat.


Kendati pagebluk membuat merana berbagai sektor usaha, Tuuk Tea tetap berjalan hingga pada November 2020, bisnis ini terus berekspansi dengan hadirnya kedai dua di Jalan Andi Kambo.

Tapi, hadirnya kedua dua tidak serta-merta mampu menahan gejolak keuangan Tuuk. Iqra harus memutar otak agar para pekerja yang jumlahnya mencapai puluhan bisa bertahan.


Tuuk Tea Bertahan Hingga Terus Berkembang


Situasi pandemi dengan segala pembatasan sosialnya pada 2020 sampai awal 2021, mendorong Iqra berpikir keras demi para Rangers--sebutan untuk karyawan Tuuk-- tidak dirumahkan atau didepak. 


Saat itu Tuuk Tea memiliki 20 lebih karyawan yang harus dihidupi. Mereka tersebar di kantor Tuuk yang mengurus administrasi, tim kreatif media sosial dan belasan karyawan yang bertugas di kedai satu dan dua.

(Instagram/tuuk.tea)


Lantas, bagaimana Tuuk bisa melalui masa-masa genting pandemi? 


Iqra memanfaatkan momentum pandemi untuk memenuhi permintaan pelanggan yang "mager" dengan sistem jemput bola. Customer yang ingin menikmati satu cup Tuuk Tea bisa diantarkan sampai ke rumah.


Strategi tersebut diterapkan khususnya pada bulan Ramadan kemarin. Sebagaian karyawan Tuuk terjun untuk sebagai kurir mengantarkan pesanan, sembari layanan aplikasi daring juga terbuka menerima orderan.


"Kita lebih fokus menjemput bola. Jadi itu, kita jalankan program dari rumah ke rumah. Daya beli saat itu tinggi, tapi orang-orang takut keluar rumah. Jadi itu uang kita jemput," ujar ayah satu anak ini.


"Tujuannya itu cuma satu, bagaimana supaya tidak ada karyawan yang dirumahkan," kata Iqra.

Alhasil, krisis perekonomian masa pandemi berhasil dilalui tanpa ada pekerja Tuuk yang dirumahkan. Bahkan Iqra mengaku, saat Idulfitri kemarin, para rangers mendapatkan tunjangan hari raya.


Selain program delivery, salah satu faktor Tuuk mampu menjaga pendapatan kala pandemi adalah marketing media sosial. Kekuatan konten Tuuk sedikit-banyak memengaruhi bagaimana bisnis ini tumbuh dan berkembang. 

Suasana kedai dua Tuuk Tea di Jalan Andi Kambo, Kota Palopo, Desember 2021. (KABAR.NEWS/Arya Wicaksana)


Dengan jumlah 5.510 pengikut Instagram, akun Tuuk.tea efektif memasarkan berbagai program. Jumlah followers sebanyak itu, menjadikan akun @Tuuk.tea sebagai terbanyak di antara bisnis sejenis di Kota Palopo, mungkin se-Luwu Raya. 


Dengan begitu, Tuuk terus berekspansi hingga kini membuka kedai ketiga dengan konsep yang lebih berbeda dan terbilang baru. 


Kuliner, Gim Baru Tuuk


Selama kurang-lebih dua tahun memainkan minuman cup harga 10 ribuan dengan berbagai jenisnya, Iqra bersama Tuuktea di penghujung 2021 menggarap dunia kuliner. 


Adalah Tuuk Eatry yang menjadi "mainan" baru Iqra. Kedai ini berlokasi di Jalan Andi Mappanyompa, Kelurahan Salakoe, Wara Timur. Jaraknya sekitar 1,5 Kilometer dari kedai dua Tuuktea.


Di atas sebidang tanah seluas kurang-lebih 50x50 meter, Iqra membangun Tuuk Eatry dengan konsep outdoor. Ada lima sampai tujuh meja yang tersedia untuk bersantap di bawah rindang pepohonan.

Kedai Tuuk Eatry di Jalan Andi Mappanyompa, Palopo. Kedai ini baru dibuka pada akhir 2021. (KABAR.NEWS/Arya Wicaksana)

Saat KABAR.NEWS menemui Iqra di Tuuk Eatry, ada puluhan pengunjung berdiri mengantri untuk memesan. Terlihat kesibukan karyawan yang semuanya adalah anak-anak muda.


Iqra menjelaskan, keputusan membuka kedai tiga atau Tuuk Eatry bukan karena berkurang atau bertambahnya income pada kedai satu dan dua Tuuk Tea yang khusus menjual minuman. (Baca juga: Makan Pizza Sepuasnya di Swiss-Belinn Panakukang Makassar)


"Kita buka ini bukan karena pengaruh kedai satu dan dua pendapatannya berkurang, tapi pure bisnis dengan konsep baru yang kita tawarkan," kata Iqra. 


Sekadar diketahui, pada tahun 2021 kemarin, tiga outlet Tuuk termasuk Tuuk Eatry, meraup omzet mencapai miliaran rupiah. Kedai satu dan dua Tuuk Tea rata-rata perharinya menjual ratusan gelas.


Iqra justru merasa senang dengan banyak kedai minuman serupa Tuuk. Hanya saja, dia menganggap belum ada komunitas yang mewadai bisnis seperti ini dengan maskud untuk berkolaborasi. Dia berpendapat UMKM minuman dingin di Palopo masih terkotak-kotak karena persaingan.


"Yang saya lihat ini semakin berkubu-kubu. Saya maunya kita-kita ini pelapak kuliner bisa berkolaborasi," kata Iqra.


Selain itu, Iqra mengakui bahwa keputusan menghadirkan makanan dalam platform Tuuk, tidak lepas dari menjamurnya bisnis minuman di Palopo yang begitu-begitu saja. 


Apa yang disampaikan Iqra memang benar adanya. Jika Anda jalan-jalan ke Palopo, hampir pada setiap ruas ada kedai minuman take-away atau warung kopi. Di sekitar Tuuk Tea saja, berdiri lima sampai outlet minuman dingin.


"Tapi prinsip kami harus sebagai yang pertama memulai hal baru," ujar Iqra yang bergelar akademik Diploma Teknik Informatika. Dia mengklaim, beberapa sajian menu di Tuuk Eatry belum terlalu populer di Kota Palopo.


Inspirasi dari Cina


Keputusan Tuuktea menjual makanan bukan sesuatu yang datang tiba-tiba. Iqra mengatakan, ide tentang Tuuk Eatry diperoleh setelah mengikuti serangkaian proses pembelajaran di Pulau Jawa. (Baca juga: Duduk Perkara Konsumen Restoran di Palopo Dipolisikan usai Protes Harga dan Viral)


Pria 29 tahun tersebut mengaku beberapa kali mengikuti kursus untuk mengembangkan bisnisnya. Dia belajar tentang aspek manajerial, marketing hingga mengeksplorasi bagaimana perkembangan UMKM di kota lain.


Maka dipilihlah kuliner yang sesuai dengan ciri khas Tuuk Tea selama ini yaitu murah, enak dan banyak. Konsep itu, kata Iqra, yang diterapkan pada Tuuk Eatry.


"Tapi itu kan konsep minuman, saya pikir kenapa tidak diterapkan juga untuk makanan, murah, enak, banyak tapi makanan begitu. Karena itu baru keidean di sana bahwa ternyata ada makanan ringan sampai yang berat, yang betul- betul sama dengan minum ini," aku Iqra.

Sejumlah sajian ala Chinese Food di Tuuk Eatry Palopo. (Foto: Istimewa/HO)


Saat ditanya mengapa sajian Tuuk Eatry cenderung mengarah pada Chinese Food, Iqra membeberkan bahwa teh memiliki kaitan historis dan tradisi kuliner khas Cina, khususnya dim sum.


Apalagi, kata Iqra, hingga saat ini konsep chinese food dengan sajian teh belum ada di Kota Palopo. Kombinasi teh dan kuliner Cina juga menegaskan komitmen Tuuk Tea pada teh, bukan kopi yang seperti menjamur saat ini.


"Tuuk Tea semakin mau concern ke teh, semakin digali ternyata semakin ketahuan bahwa ternyata sejarah ini teh betul-betul berawal dari Cina, nah dari situ kita dapat pengetahuan baru ternyata orang yang minum teh, sama ngemil, itulah yang disebut nge-dim sum," ungkap Iqra. 


"Itulah mengapa ada Eeatry karena yang identik dengan teh karena memang ini sebagai sebuah tradisi. Seseorang baru dibilang nge-dim sum kalau ada teh temani. Ini juga menunjukkan bahwa kita memang serius untuk menyajikan teh." 


Iqra menegaskan idealisme Tuuk memang memang pada teh. Tak ada minat untuk menawarkan es kopi dengan berbagai jenisnya. Meski kedai satu dan dua Tuuktea menjual es coklat.


Buka Investasi, Franchise bukan Gim Tuuk


Setelah tiga tahun berdiri secara mandiri, Iqra mengaku pada tahun ini mulai bersiap menerima investasi dana segar untuk Tuuk Tea dan Tuuk Eatry. 


Iqra memutuskan membuka investasi setelah banyak orang berminat untuk menjadikan Tuuk sebagai franchise atau waralaba di daerah lain. Ide "pakai nama" itu menurutnya tidak cocok.


"Kita akan buka investasi tapi bukan dengan format franchise. Formatnya nanti, pengelolaan tetap kita, orang atau investor hanya berikan dana segar," beber Iqra.


Akan tetapi, skema investasi pada Tuuktea dan Tuuk Eatry berbeda dari konsep lain. Iqra menjelaskan, konsep investasi yang ditawarkan memakai skema syariah.


"Saya siapkan model investasinya itu pakai sistem syariah, yang memang syirkah (kemitraan, red) atau bagi hasil seperti akad musyarakah," katanya.

Kolase foto: Suasana di Tuuk Eatry pada 15 November 2021. (KABAR.NEWS/Arya Wicaksana)

Lebih lanjut Iqra menjelaskan, investasi dengan skema syariah dipilih karena berbagai pertimbangan. Salah satunya adalah sistem bagi hasil yang tidak memakai model konvensional.


"Misal total investasi yang dibutuhkan Rp100 juta, ternyata budget terkumpul baru Rp70 juta, dicari lagi orang untuk cukupi. Nanti bagi hasilnya, selama outlet itu buka, selama itu tetap terbagi itu apa-apa," ucap Iqra.


Iqra menerangkan bahwa sistem investasi ini bukan berarti investor menanam modalnya pada perusahaan Tuuk. Tapi menggunakan model per-outlet atau kedai. 


Sistem partner store itu memungkinkan setiap investor bisa memilih di mana akan menyimpan investasinya, apakah untuk kedai yang khusus menjual minuman ataukah pada Tuuk Eatry.


"Sistemnya per outlet, bukan (inves) di perusahaan. Kalau ada yang investasi, kita buka outlet baru kita suntik modal di situ," terang Iqra.


Para investor yang akan menanam modal di bawa bendera Tuuk tidak akan terlibat secara langsung mengelola bisnis. Investor bersifat pasif, seperti menerima laporan harian maupun bulanan dan lainnya.


"Tapi tetap ada jangka investasi, contoh Tuuk Tea cuma tiga tahun. Seburuk-buruk apapun perkembangan bisnisnya nanti, tetap nanti akan kembali modal," ujar Iqra.


Sejauh ini, kata Iqra, sudah ada beberapa pihak yang menyampaikan untuk menanam modal di Tuuk. Tapi, dia belum menerima permintaan tersebut karena masih mematangkan konsep investasi dan merampungkan segala dokumen yang diperlukan. (Baca juga: Menikmati Sejuknya Permandian Alam Bora, Destinasi Liburan di Palopo)


Dengan membuka kran investasi, bisnis Tuuk akan beralih dari model UMKM menjadi badan hukum jenis perseroan terbatas atau PT. Tuuk kemungkinan akan hadir di daerah-daerah lain. 


Iqra menandaskan bahwa dia menolak format franchise karena punya pengalaman pahit mengenai model bisnis itu. Meski demikian, dia mengakui sistem waralaba secara bisnis pertumbuhnya lebih cepat untuk perusahaan.


"Franchise hanya lebih dari eksistensi brand, khawatirnya nanti lost control. Tapi dari segi pertumbuhan memang lebih cepat. Intinya, kita ada gim sendiri. Kita mau ciptakan gim tersendiri," tandas boss Tuuk Tea.