Meksiko Jadi Negara Paling Mematikan Bagi Jurnalis

- Menurut Committee to Protect Journalists

Meksiko Jadi Negara Paling Mematikan Bagi Jurnalis
Ilustrasi jurnalis memakai masker gas dan helem saat meliput. (Pixabay)

KABAR.NEWS, Meksiko - Sembilan wartawan meninggal dunia di Meksiko selama tahun 2020 menurut data Committee to Protect Journalists (CPJ) yang dilansir The Guardian pada Selasa (22/12/2020). 


Mereka meregang nyawa dengan cara dibunuh saat melakukan kerja-kerja jurnalis. Sembilan kematian tersebut menjadikan Meksiko sebagai negara paling mematikan bagi wartawan pada tahun 2020. 


Sejak tahun 2000, CPJ mencatat sedikitnya ada 120 wartawan yang mati dibunuh di Meksiko. Bulan lalu, tiga jurnalis ditembak mati hanya dalam waktu 10 hari.


Menurut CPJ, jumlah pembunuhan wartawan di Meksiko kemungkinan lebih banyak daripada mereka yang tewas saat meliput perang. CPJ mulai melacak kekerasan terhadap media pada tahun 1992.


“Meksiko mengalami krisis multi-segi terkait kebebasan pers. Situasi semakin memburuk selama beberapa tahun terakhir, yang berpuncak pada status buruk negara itu sebagai yang paling mematikan di dunia bagi wartawan pada tahun 2020. Krisis ini pada dasarnya berasal dari impunitas," kata Jan-Albert Hootsen, perwakilan CPJ Meksiko.


Meksiko telah lama menjadi tempat paling berbahaya bagi jurnalis di luar zona perang resmi. Kebanyakan dari mereka yang dibunuh ketika menginvestigasi kaitan antara kejahatan terorganisir dan pejabat korup.


Para pegiat kebebasan pers berharap situasi yang mengerikan segera membaik,  setelah pemilihan presiden Andrés Manuel López Obrador pada 2018, yang berjanji untuk menangani kekerasan terhadap jurnalis dan mengakhiri impunitas bagi para pelakunya.


Namun, serangan terhadap jurnalis semakin meningkat di tengah permusuhan publik terhadap media. Di sisi lain Pemerintah Meksiko juga telah melemahkan perlindungan bagi jurnalis yang terancam dan memotong dana untuk penyelidikan setiap pembunuhan.


Awal bulan ini, 25 organisasi media berita internasional menerbitkan serangkaian pembunuhan jurnalis yang menyelidiki hubungan antara kejahatan terorganisir dan pejabat negara di Meksiko.


The Cartel Project , yang dikoordinasikan oleh Forbidden Stories - jaringan global jurnalis investigasi mengungkapkan detail tentang bagaimana jurnalis bahkan diawasi oleh unit spionase yang seolah-olah dibentuk untuk mencegah kejahatan terorganisir.


Secara global, menurut CPJ, setidaknya 30 jurnalis dibunuh antara Januari dan pertengahan Desember 2020. Dari jumlah itu, 21 orang tewas sebagai pembalasan atas hasil kerja-kerja jurnalis.

Setelah Meksiko, Afghanistan dan Filipina juga menjadi negara yang paling mematikan bagi pers.