Mahasiswa Desak Pencopotan Kapolres Jenponto di Hari Sumpah Pemuda

Sejumlah mahasiswa dari berbagai organisasi di Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan, berencana menggelar aksi unjukrasa pada 28 Oktober 2020.

Mahasiswa Desak Pencopotan Kapolres Jenponto di Hari Sumpah Pemuda
Mahasiswa saat membawa spanduk bertuliskan 'Copot Kapolres Jeneponto'.(Kabar.News/Akbar Razak)

KABAR.NEWS, JENEPONTO - Sejumlah mahasiswa dari berbagai organisasi di Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan, berencana menggelar aksi unjukrasa pada 28 Oktober 2020.

Unjukrasa yang akan digelar tersebut adalah aksi solidaritas untuk mengecam tindakan refresif aparat kepolisian terhadap empat mahasiswa pada saat aksi penolakan Omnibus Law UU Cipta Kerja beberapa waktu lalu. Saat itu ada empat mahasiswa yang harus dilarikan ke rumah sakit usai dihajar sejumlah aparat kepolisian.

Rencana aksi solidaritas itu dibenarkan oleh Ketua Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) cabang Jeneponto, Idris Haris, saat dikonfirmasi kabar.news, Senin, (26/10/2020).

"Aksi solidaritas terkait tindakan kekerasan aparat kepolisian pada saat aksi Gejolak Jilid II. Insya Allah 28 oktober bertepatan sumpah pemuda," ujarnya.

Dia mengatakan, dalam aksi itu mahasiswa akan mendesak pihak terkait agar AKBP Yudha Kesit, yang menjabat Kapolres Jeneponto, dicopot dari jabatannya. Sedangkan, oknum polisi yang melakukan pemukulan agar segera dimutasi dan diberi sanksi.

"Kami akan mendesak agar AKBP Yudha Kesit dicopot dari jabatan Kapolres Jeneponto. Serta polisi yang memukul peserta aksi segera dimutasi dan diberi sanksi," tegasnya.

Dia juga menilai bahwa AKBP Yudha Kesit telah gagal dalam mengatur anak buahnya untuk melindungi dan mengayomi masyarakat."Sangat jelas gagal dalam mengatur anggotanya. Yudha Kesit sudah tidak pantas memimpin polisi di Butta Turatea," tandasnya.

Idris Haris mengatakan, pihaknya akan terus mengawal kasus ini sampai dengan AKBP Yudha Kesit beranjak meninggalkan Kabupaten Jeneponto."Maka aksi demo terus, jelas, kami kawal bersama kawan-kawan Gejolak," ujarnya.

Idris mengaku, kasus pemukulan terhadap peserta aksi kerap terjadi, namun kejadian saat ini dinilai sangat brutal dan membabi buta. Sebab, kata dia, peserta aksi dipukul seperti binatang.

"Kalo pemukulan terhadap peserta aksi ini sudah beberapa kali, tapi atas kejadian ini sangat brutal dan tidak sama sekali mencerminkan aparat keamanan yang mengayomi. Kepolisian membabi buta kepada peserta aksi. Dipukul seperti binatang," tukasnya.

Semestinya, kata dia, langkah yang harus dilakukan aparat adalah mengamankan provokator atau penyusup."Yang provokator atau penyusup aksi saja diamankan. Jangan main pukul, sampai-sampai ada beberapa mahasiswa yang masuk rumah sakit," katanya.

Menurutnya, seluruh anggota kader PMII Jeneponto telah sepakat untuk mendesak Kapolri dan Kapol Sulsel untuk mencopot AKBP Yudha Kesit dari jabatan Kapolres Jeneponto.

"Sudah ada 7 lembaga yang akan bergabung dalam gerakan aksi mencopot Kapolres Jeneponto. Kami akan turunkan massa ratusan orang. Untuk lokasinya, sementara masih konsilidasi," pungkasnya.


Penulis: Akbar Razak/B