Loyalis NA Bantaeng Berduka Pasca Ditetapkan Tersangka KPK

Kami masih berduka

Loyalis NA Bantaeng Berduka Pasca Ditetapkan Tersangka KPK
Nurdin Abdullah (topi biru)






KABAR.NEWS, Bantaeng - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), akhirnya menetapkan 3 orang tersangka dugaan korupsi proyek infrastruktur di Sulawesi Selatan, Sabtu, (27/2/2021) kemarin.

Penetapan ini dilakukan setelah KPK melakukan penyidikan selama kurang lebih 8 jam.

"KPK berkeyakinan bahwa tersangka dalam kasus ini ada tiga orang yaitu NA, IR dan AS," ungkap Ketua KPK Firli Bahuri saat konforensi pers, Minggu, (28/2/2021) dini hari.

Dengan penetapan ini, KPK akan menahan ketiganya secara terpisah selama 20 hari kedepan.

Status NA tersangka kemudian menjadi perbincangan hangat di sejumlah kalangan.

Di Kabupaten Bantaeng adalah tempat kelahirannya. NA juga pernah memimpin daerah berjuluk Butta Toa ini sebagai Bupati selama 10 tahun terakhir.

Ketua The Profesor One Jaya, Fajri Karel mengaku saat ini tengah berduka pasca Nurdin Abdullah ditetapkan tersangka akibat menerima uang sogokan dari sejumlah kontraktor.

"Kami masih berduka, " singkatnya saat dikonfirmasi kabar.news via telepon, Minggu, (28/2/2021).

Dia juga masih meyakini bahwa Bupati Bantaeng 2 periode ini sama sekali tak bersalah.

"Ditetapkanya Bapak NA, tapi kami masih meyakini bahwa beliau tidak bersalah," jelasnya.

Saat ditanya lebih jauh, pihaknya menolak untuk bercerita banyak.

"Saya tidak berstatemen dulu, mohon pengertianya," ungkapnya.

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kini resmi menahan 3 tersangka yang terlibat dalam kasus tindak pidana korupsi di lingkup pemerintahan Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel).


Penangkapan itu berawal saat tim KPK menerima informasi dari masyarakat bahwa adanya dugaan terjadinya penerimaan sejumlah uang oleh penyelenggara negara. Pada Jumat, 26 Februari 2021. 


Nurdin Abdullah diduga telah menerima uang suap senilai total Rp5 miliar lebih dalam kurun waktu 1 bulan terakhir.


Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Firli Bahuri, menuturkan, uang diduga suap tersebut berasal dari tersangka Agung Sucipto (AS) yang juga Direktur PT. Agung Perdana Bulukumba dan juga kontraktor lain.


Duit ini dimaksudkan sebagai "pelicin" dari Agung kepada NA, agar mendapat proyek infrastruktur pada APBD Sulsel tahun 2021. Kata Firli, Agung telah melobi NA sejak awal Februari melalui Sekretaris Dinas PU Pemprov Sulsel, Edy Rahmat

Menurut Firli, uang tersebut tidak langsung diberikan kepada NA, melainkan melalui perantara. Pemberian pertama dilakukan akhir 2020 senilai Rp200 juta.


Penulis: Akbar Razak/B