Skip to main content

LBH Nilai Kasus Nelayan Robek Uang Terlalu Dipaksakan Polisi

Nelayan Kodingareng
Sejumlah warga dan nelayan dari Kepulauan Kodingareng, Makassar, melakukan aksi unjuk rasa di sekitar kantor Direktorat Polairud Polda Sulsel, terkait upaya kriminalisasi terhadap beberapa nelayan .(Ist)

KABAR.NEWS, MAKASSAR - Pihak kepolisian dinilai terlalu memaksakan sangkaan pasal dalam proses hukum kasus dugaan pengerusakan uang yang dilakukan sejumlah nelayan Pulau Kodingareng, Makassar. Mereka yang diperiksa sebagai saksi dalam kasus tersebut, masing-masing Manre, Suadi dan Bahariah. 


"Dari semua rangkaian jika dicermati proses pemeriksaan kasus ini begitu cepat sehingga mengabaikan prinsip due process of law. Dalam artian terlapor tidak diberikan kesempatan untuk memberikan klarifikasi pada tahap penyelidikan, namun langsung dipanggil dengan status sebagai saksi dalam tahap penyidikan," tandas Edy Kurniawan, dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Makassar, Selasa (4/8/2020). 


Kata Edy, merujuk dalam catatan LBH Makassar, penyidik Ditpolairud Polda Sulsel menggunakan Pasal 35 Ayat 1 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2011 tentang mata uang negara, dalam proses perjalanan kasus itu. Tiga orang nelayan tersebut dianggap merendahkan kehormatan rupiah sebagai simbol negara. 


Sementara menurutnya, peristiwa sebagaimana yang dimaksudkan kepolisian terjadi pada Kamis (16/7/2020) lalu. Dan tiga hari setelahnya, polisi pun memanggil Manre dan Suadi untuk diperiksa. 


Hanya saja, pemanggilan itu tidak dihadiri oleh Manre dan Suadi lantaran keduanya menganggap bahwa pemanggilan tahap pertama itu tidak wajar, sebab waktu yang sangat berdekatan. Kemudian pada Selasa (28/7/2020), polisi kembali lagi memanggil satu warga Pulau Kodingareng yakni Bahariah.


Berita Terkait: Walhi Minta Polisi Hentikan Kriminalisasi Terhadap Nelayan Kodingareng


Namun pemanggilan itu juga tidak dihadiri dengan alasan yang sama. Kemudian pada Kamis (30/7/2020), pemanggilan tahap kedua dilakukan kepolisian. Manre dan Sarti akhirnya baru bisa memenuhi panggilan polisi pada Senin (3/8/2020) kemari. Keduanya dicerca sejumlah pertanyaan selama delapan jam oleh polisi.


"Manre diperiksa delapan jam dengan jumlah pertanyaan tak terhitung lantaran banyak pertanyaan berulang," bebernya. 


Edy mengungkapkan, sepanjang proses pemeriksaan, penyidik kerap mengulang setiap pertanyaan hingga lima kali kepada Manre. Mengingat dia adalah orang yang dimaksudkan kepolisian ada di dalam video perusakan diduga uang kertas dalam amplop yang diberikan oleh perusahaan penambang, PT Boskalis . 


"Secara substansial pasal yang disangkakan sangat dipaksakan. Penyidik mempersulit diri dalam mengurai rumusan pasal dan membuktikan unsurnya. Manre dijerat dengan perbuatan merusak rupiah meski dia tidak tahu apa isi amlop pemberian perusahaan penambang pasir itu," ucapnya.  


Edy menyebut, pasal yang diterapkan polisi seharusnya bisa menjadi pertimbangan dalam melanjutkan proses perjalanan hukum nelayan. 


"Setiap orang yang memperjuangkan hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat tidak dapat dituntut pidana atau digugat secara perdata," ungkapnya.


Sebelumnya, aparat kepolisian melakukan pemeriksaan terhadap tiga orang nelayan dari Pulau Kodingareng yang diduga terlibat dalam aksi perobekan uang pemberian perusahaan penambang pasir, PT Boskalis. 


Direktur Direktorat Polairud Polda Sulawesi Selatan (Sulsel), Kombes Pol Hery Wiyanto mengatakan, pemeriksaan perdana untuk ketiganya dimulai Senin (3/8/2020).


"Jadi hari ini (kemarin) yang diduga pelaku hadir dan penyidik melakukan pemeriksaan kepada yang bersangkutan. Ada tiga orang warga masyarakat Kodingareng yang belum sempat hadir, hari ini sudah hadir," jelasnya kepada wartawan di kantornya.


Kata Hery, ketiganya diperiksa sebagai rangkaian lanjutan kasus pengerusakan uang kertas bernilai ratusan ribu rupiah. Uang itu merupakan upah yang diberikan oleh pihak perusahaan penambang pasir laut di Kodingareng untuk sejumlah nelayan. 


"Jadi uang itu adalah uang upah survei lokasi yang diberikan dari pihak perusahaan untuk melihat lokasi pengerukan pasir. Ada beberapa masyarakat, ada warga yang diajak oleh pihak perusahaan untuk mensurvei lokasi. Kira-kira berapa sih jaraknya lokasi (penambangan) itu dengan pulau terdekat," jelasnya. 


Penulis : Reza Rivaldy/B

 

Flower

 

loading...