LBH Kecam Upaya Intimidasi Polisi terhadap Korban Kekerasan Seksual di Lutim

Polisi empat hari berturut-turut datangi ibu korban

LBH Kecam Upaya Intimidasi Polisi terhadap Korban Kekerasan Seksual di Lutim
Kepala Divisi  Divisi Perempuan, Anak dan Disabilitas LBH Makassar, Rezky Pratiwi, saat menyampaikan Konferesi Pers secara daring, Selasa (12/10/2021). (Tangkapan layar/KABAR.NEWS/Fitria)






KABAR.NEWS, Makassar - Tiga anak korban kekerasan seksual di Kabupaten Luwu Timur (Lutim), Sulawesi Selatan, masih terus didatangi oleh polisi pasca viralnya pemberitaan kasus ini.


Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Makassar yang mengadvokasi kasus ini, menyayangkan adanya upaya intimidasi kepada keluarga korban yang terus polisi dan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Lutim. 


Kepala Divisi Perempuan, Anak dan Disabilitas LBH Makassar, Rezky Pratiwi mengatakan, selama 4 hari berturut-turut, sejak 7 hingga 10 Oktober 2021, polisi dan P2TP2A Lutim terus mendatangi korban tanpa didampingi kuasa hukum. 


"P2TP2A mendatangi korban dengan alasan mengecek kondisi para anak. Kemudian datang lagi dengan alasan mengambil data," kata Rezky Pratiwi pada konferensi pers daring, Selasa (12/10/2021). 


Namun, kata Rezky, ibu korban menolak kedatangan mereka dan menyuruh mereka pulang. Ibu korban sempat menegur salah satu dari orang yang datang karena mengambil gambar dan video ibu korban secara diam-diam.


Sementara, Kapolres Lutim AKBP Silvester Mangombo Marusaha datang memakai seragam lengkap menemui ibu korban. Ibu korban yang saat itu tanpa ditemani kuasa hukum, diminta bicara dengan direkam keterangannya untuk “menjelaskan ke media supaya tidak ada kesimpangsiuran berita”. 


Selain itu juga, pihak Polres Lutim mendatangi kediaman kerabat ibu korban untuk membahas soal ramainya “fakta yang tidak berimbang” dalam pemberitaan kepada keluarga besar korban.


"Pihak korban didatangi Polres Lutim dan P2TP2A, tanpa ada koordinasi oleh pihak korban dan lembaga hukumnya. Kedatangan mereka tidak melindungi korban dari pemberitaan, hak untuk dirahasiakan," tutur Tiwi sapaan Rezky Pratiwi.


Sebelumnya, AKBP Silvester Mangombo Marusaha mengklaim, kedatangan pihaknya ke rumah korban pada Jumat (8/10/2021), untuk menjemput bukti-bukti baru dari pelapor atau ibu korban.


“Di sana kami berbincang-bincang dan menyampaikan ke (ibu korban) bahwa kalau memang ada bukti-bukti baru yang dimiliki kami akan melakukan upaya penyelidikan di kemudian hari,” kata Silvester dilansir dari Kompas.com.


Sementara, Tiwi menegaskan, bahwa kedatangan polisi dan P2TPA menyalahi aturan prinsip dalam perlindungan anak. "Kedatangan pihak tersebut lagi-lagi menyalahi prinsip perlindungan terhadap anak korban," tegas dia. 


Tiwi juga menandaskan LBH Makassar akan terus melakukan pendampingan hukum dan perlindungan kepada korban. Sebab, banyak kejanggalan yang menurut LBH Makassar cacat prosedur seingga kasus ini dihentikan. 


Olehnya itu, LBH Makassar meminta kasus kekerasan seksual terhadap tiga anak di Lutim ini bisa diambil alih oleh Mabes Polri. 


"Kami meminta proses pidana kasus ini diambil alih oleh Mabes Polri atau setidaknya oleh Polda Sulawesi Selatan dengan supervisi Mabes Polri untuk memastikan tidak ada lagi kesalahan prosedur dalam prosesnya," pungkasnya.


Penulis: Fitria Nugrah Madani/B