Skip to main content

Kuartal I 2018, Rupiah Alami Depresiasi 1,47 Persen

RDG
Gubernur BI, Agus Martowardodjo.


KABAR.NEWS, Jakarta - Kondisi rupiah terus tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dalam beberapa hari terakhir. Bank Indonesia (BI) mencatat pada kuartal I tahun 2018, Rupiah mengalami Depresiasi sebesar 1,47 persen. 


Gubernur BI, Agus Martowardodjo menjelaskan depresiasi rupiah terjadi akibat adanya penguatan dolar AS dalam skala global. Agus memaparkan secara point-to-point, rupiah melemah sebesar 1,47% pada kuartal I 2018 dan 1,06% pada April 2018.


Baca Juga: 
 


Meski mengalami depresiasi, nilai tukar rupiah masih cukup terkendali. Alasannya, fundamental ekonomi Indonesia masih terjaga dan stabilisasi yang BI masih terukur. 


"Langkah stabilisasi nilai tukar rupiah di periode penyesuaian likuiditas global ini juga ditopang upaya mengoptimalkan instrumen operasi moneter untuk tetap menjaga ketersediaan likuditas," kata Agus dikutip dari detikcom, di Gedung BI, Jakarta, Kamis (17/5/2018).


Ke depannya, kata dia, BI mewaspadai risiko ketidakpastian pasar keuangan global dengan tetap melakukan langkah-langkah stabilisasi nilai tukar sesuai nilai fundamentalnya, serta menjaga bekerjanya mekanisme pasar dan didukung upaya-upaya pengembangan pasar keuangan.


Periode Maret - April 2018 rupiah secara poin to poin terdepresiasi 2,06%. Kemudian untuk India Rupee 5,4%, Filipina Peso 4,25%, Brazil 8,5% dan Turki 12%. 


Kemudian untuk Thailand Baht terapresiasi 2,2% dan Malaysia Ringgit terapresiasi 2,4%. 


"Secara umum kita pahami ada depresiasi. Tapi ada kalanya kedua mata uang itu lebih lemah daripada mata uang kita. Mereka itu (Malaysia dan Thailand) menikmati surplus transaksi berjalan. Sedangkan Indonesia defisit," imbuh dia.