Korban Pembacokan Istri dan Mertua Dinyatakan Reaktif Covid-19, Operasi Tertunda

Keluarga Kecewa

Korban Pembacokan Istri dan Mertua Dinyatakan Reaktif Covid-19, Operasi Tertunda
Warga memadati lokasi penangkapan Saripuddin di Jalan Pampang, Makassar. (Kabar.news/Reza)






KABAR.NEWS, Makassar - Korban pembacokan oleh Saripuddin Dg. Lewa, Salma (60) dan Selfi (30) harus menunggu hingga berjam-jam untuk bisa mendapat penangana medis di Rumah Sakit (RS) Ibnu Sina, Makassar, pasca dianiaya pada Jumat (23/10/2020) siang kemarin.

 

Korban yang merupakan istri dan mertua pelaku dinyatakan reaktif Covid-19 sehingga keduanya urung diopreasi. 

 

Pihak keluarga korban, Herawati, sangat menyesalkan pelayanan RS tersebut, karena korban dinyatakan reaktif Covid-19 tapi penanangannya seperti positif terjangkit coronavirus.

 

"Tapi reaktif itu langsung divonis dia Covid-19 dari pihak RS Ibnu Sina," kata Herawati kepada KABAR.NEWS, via seluler, Jumat malam.

 

Mendengar kabar itu Herawati pun sempat menelepon perawat rumah sakit tersebut untuk mempertanyakan metode yang dipakai hingga memvonis keluarganya itu terpapar Covid-19.

 

Namun, perawat enggan membeberkan alasan rumah sakit tidak menangani sepupunya dan bibinya tersebut.

 

"Dia bilang kami tidak bisa (sebut) bu, ini rahasia rumah sakit. Saya bilang rahasia rumah sakit mana? Saya ini keluarga terdekatnya dan saya mau tahu kalian punya skenario di situ. Saya bilang saya juga Satgas Covid-19 disini, aturan mana keluar (hasil positif) satu jam itu?" ujar Herawati.

 

Lebih lanjut Herawati mengungkapkan bahwa pihak rumah sakit sempat merujuk sepupu dan bibinya itu ke RS Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar dengan alasan rumah sakit itu punya alat lebih lengkap untuk pasien yang terindikasi Covid-19.

 

Namun, keluarga korban malah diminta biaya operasi dengan harga Rp 50 juta per pasien. Hal ini kemudian membuat keluarga urung merujuk korban dengan alasan biaya.

 

"Saya sayangkan, jangan dibilang gara-gara Covid-19, pasien kritis ini dibikin kayak selayaknya hewan begitu. Di mana sih perikemanusiaannya mereka semua di sana? Ini manusia loh. Darah masih mengucur disitu," ujar Herawati.

 

Sementara Humas RS Ibnu Sina dr. Nurhidayat membantah bila pihaknya enggan mengoperasi dua korban pembacokan itu karena reaktif Covid-19.

 

Dia juga membantah tudingan bila pihak rumah sakit langsung memvonis kedua korban penganiayaan itu positif terinfeksi virus corona.

 

"Itu beritanya kurang tepat. Jadi kalau alasan kami tidak mau melakukan tindakan karena dia Covid-19 itu berita yang kurang tepat," kata Nurhidayat kepada wartawan. Sabtu (24/10/2020).

 

Nurhidayat mengatakan dokter spesialis ortopedi yang bertugas melakukan operasi di RS Ibnu Sina hanya 1 orang, jadi untuk memudahkan operasi, pihak rumah sakit merujuk korban ke RS lain. 

 

Di rumah sakit yang terletak di jalan Urip Sumoharjo ini hanya menangani bernama Alimuddin, korban lainnya.

 

"Ya namanya juga manusia kita ada keterbatasan tenaga ya kita lihat kondisi (pasien), dokter Dedi sarankan ini pasien yang lain supaya cepat tertolong ditangani dokter lain," ujar Nurhidayat.

 

Awalnya, kata dia, RS Ibnu Sina ingin merujuk korban ke RS Wahidin Sudirohusodo, namun tidak menyangka bila keluarga pasien dimintai biaya Rp 50 juta per orang untuk operasi.

 

Pihaknya pun akhirnya merujuk dua korban tersebut ke RS Dadi Makassar. Namun, proses rujukan itu memang agak lama lantaran kondisi pasien saat itu sedang drop.

 

"Nah kami di RS Ibnu Sina tidak mau sepeti itu. Kami betul-betul pastikan pasien pada saat dirujuk itu sudah siap. Jadi dari kemarin itu tim dokter dan perawat di IGD sudah lakukan yang terbaik yang mereka bisa (agar stabil kondisinya)," ucapnya Nurhidayat.

 

Nurhidayat mengungkapkan Salma pun dirujuk ke RS Dadi Makassar pada Jumat malam. Dia kini sudah dioperasi oleh dokter di rumah sakit tersebut. Sementara Selfi dirujuk ke RS Dadi pada Sabtu pagi tadi, saat kondisinya sudah kembali stabil.

 

"Kalau ibu Selfi kondisinya sempat drop. Tapi kita observasi ketat dikasih darah, kontrol cairan. Nah tadi pagi baru stabil kondisinya, jadi baru dikirim ke RS Dadi," kata Nurhidayat.

 

Sebelumnya diberitakan, Saripuddin Dg. Lewa, pelaku nekat membacok istri dan mertuanya lantaran dendam karena ingin diceraikan. Mereka ditemukan dalam kondisi mengenaskan dengan tubuh bersimbah darah di rumahnya sendiri Jalan Barawaja, Kecamatan Panakkukang, Kota Makassar, Jumat (23/10/2020) siang.

 

Sementra saat pelaku hendak ditangkap, ia melakukan perlawanan dengan menyerang satu anggota polisi. Akhirnya Saripuddin tewas ditempat karena melawan petugas.

 

 

Penulis : Reza Rivaldy/B