Skip to main content

Kejati Sulsel Dikecam Massal, Soal Dugaan Jaksa Merangkap Jadi Makelar Kasus

Kantor Kejati Sulsel
Doc : Kantor Kejati Sulselbar, Jalan Urip Sumoharjo Makasar / (KABAR.NEWS - Irvan Abdullah)

KABAR.NEWS, Makassar - Aktivis dari berbagai lembaga anti korupsi ramai-ramai melontarkan kecaman terhadap institusi Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sulsel yang diterpa isu miring terkait adanya oknum jaksa senior yang merangkap sebagai makelar kasus dalam mengamankan perkara atau kasus-kasus korupsi.

 

Salah satunya datang dari Anti Corruption Committe (ACC) Sulawesi, yang merupakan lembaga bentukan mantan ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Abraham Samad.

 

"Ini Perilaku yang sangat memalukan, dugaan kasus ini cukup membuktikan bahwa jaksa nakal di Kejati Sulsel masih ada, padahal beberapa tahun sebelumnya di Kejati Sulsel sudah ada contoh kasus yang sama melibatkan pejabat Kejati," ujar Direktur ACC Sulawesi, Kadir Wokanubun, Senin (16/9/2019). 

 

Ia menambahkan bahwa persoalan ini mempertegas pola pengawasan oleh Kejati Sulsel sama sekali tidak berjalan, serta upaya membangun zona integritas menuju wilayah bebas korupsi di kejaksaan hanyalah omong kosong tanpa tindakan kongkrit.

 

"Olehnya itu dibutuhkan sikap tegas Kejati Sulsel untuk memberikan sanksi pemecatan ke oknum yang terlibat sebagai efek jera ke jaksa lainnya dan memproses jaksa tersebut dengan kasus tindak pidana korupsi karena terkait masalah suap," sambungnya.

 

Persoalan yang mencoreng nama Kejati Sulsel sebagai institusi penegak hukum terkuak setelah Tim Bidang Pengawasan Kejaksaan Agung (Kejagung) RI diterbangkan ke Makassar untuk memeriksa oknum jaksa yang diketahui berinisial WT. Ia bertugas di Bagian Pengawasan Kejati Sulsel.

 

Ia diduga menerima suap Rp 500 juta dari salah satu pejabat lingkup Pemerintah Kota (Pemkot) Parepare guna menghentikan atau mengamankan kasus tersebut yang saat itu dalam tingkat penyidikan dan telah ditingkatkan ketahap inspeksi kasus, setelah ditemukan bukti-bukti dan keterangan sejumlah saksi.

 

Aliansi Mahasiswa dan Pemuda Anti Korupsi (AMPAK) yang aktif mengawal beberapa kasus korupsi yang bergulir di Kejati Sulsel mengaku resah dengan persoalan ini. 

 

Mereka khawatir kasus dugaan korupsi lainnya seperti DAK Enrekang juga sudah diamankan oknum jaksa. Randi Darwis, salah satu anggota AMPAK mengutarakan rasa kekhawatirannya. 

 

"Bahaya ini kalau ada makelar kasus, karena kasus yang hampir sama juga kita kawal sementara berproses di tubuh Kejati Sulselbar yaitu kasus DAK untuk pembuatan bendung jaringan air baku sungai tabang yang bersumber dari DAK 2015 untuk Enrekang," ucapnya.

 

Ia berpendapat kasus korupsi yang sudah digolongkan ke dalam kejahatan luar biasa setara dengan terorisme oleh banyak ahli namun penanganannya justru seolah menjadi lahan basah bagi beberapa oknum yang bermain.

 

"Memang kita juga menduga dari awal adanya permainan seperti ini ditubuh Kejati sehingga kita langsung menuju ke Kejagung RI untuk bagaimana kasus DAK Enrekang bisa diambil alih oleh Kejagung RI, terjawab kekhawatiran kita di Kejati Sulsel," ungkapnya.

 


Baca juga : Dugaan Suap Oknum Jaksa Kejati Sulsel, Amankan Kasus Korupsi?


 

 

Ia berharap agar Kejagung bisa merespon ini dengan cepat dan memberikan sanksi bagi yang terbukti bermain-main dalam penanganan kasus.

Hal senada juga terlontar dari Akbar Muhammad, selaku Ketua Umum Perhimpunan Pergerakan Mahasiswa (PPM) Sulsel yang juga aktif mengawal kasus serupa.

 

Tepatnya dugaan suap DAK Bulukumba yang menyeret nama Bupati, Andi Sukri Sappewali. Katanya, ia sangat menyayangkan adanya tindakan yang mencoreng nama kejaksaan yang selama ini dianggap sebagai supremasi penegak hukum. 

 

Bagi dia, persoalan jaksa nakal dalam lingkup Kejati Sulsel adalah perbuatan yang tidak terpuji. "Yang jelasnya kita menyayangkan dan menduga hal serupa terjadi di kasus DAK Bulukumba, wajarlah kita berfikir seperti itu, karena melihat penanganan kasusnya terkesan lamban. Pimpinan Kejati harus evaluasi anggotanya, jangan sampai kasus yang mandek lainnya disebabkan oleh jaksa sendiri," tuturnya.

 

Saat ditemui, Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Sulsel, Firdaus Dewilmar tidak panjang lebar, kepada KABAR.NEWS nampak Firdaus menjawab terbata-bata.

 

"Nanti kita cari waktu lah, nanya yang lain ajalah, seperti memperbaiki masjid. Kalau yang itu masih berproses," singkatnya sembari menunjuk pembangunan masjid di area Kejati Sulsel. Senin (16/9/2019).

 

Andi Frandi

 

 

 

loading...