Skip to main content

Kehidupan Pelari Cepat Dunia,Lalu Muhammad Zohri Yang Kurang Perhatian Pemerintah

Kehidupan Pelari Cepat Dunia,Lalu Muhammad Zohri Yang Kurang Perhatian Pemerintah
Lalu Muhammad Zohri (18) pelari cepat dunia asal Lombok. (INT)

KABAR.NEWS,Lombok –  Lalu Muhammad Zohri (18) berhasil menghebohkan dunia dengan prestasi gemilangnya pada kejuaraan dunia Cabang Olahraga (Cabor) Atletik U20 IAAF, di Tampere, Finlandia, Rabu (11/07/2018) kemarin.

Prestasi ini tentu membawa nama Indonesia Berjaya di Internasional.Lalu Muhammad Zohri berhasil mengalahkan pelari tercepat di seluruh dunia.
 
Pria kelahiran Dusun Karang Pangsor, Desa Pemenang Barat, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara sebelumnya memberikan prestasi gemilang buat Indonesia di Singapura dan Thailand.

Lalu Muhammad Zohri juga atlet kebanggaan Nusa Tenggara Barat (NTB) pada perhelatan Kejuaraan Nasional (Kejurnas). Namun sayang prestasi itu tidak diimbangi dengan perhatian Pemerintah, terutama Pemprov NTB.

Dalam kehidupan sehari-hari Lalu Muhammad Zohri hidup dengan segala keterbatasan. Pemuda yatim piatu yang hidup di lingkungan keluarga miskin di Dusun Karang Pangsor, Desa Pemenang Barat, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara (KLU).

Zohri berstatus yatim piatu. Semasa Sekolah Dasar, ibunya, Inaq Saerah, meninggal dunia. Sedangkan Ayahnya, L. Ahmad, menyusul meninggalkan Zohri pada Agustus 2017.

s

Zohri lahir dan dibesarkan dari keluarga kurang mampu. Itu tergambar jelas dari jejak kediaman orang tuanya di dusun Karang Pangsor. Tempat tinggal Zohri sebuah rumah berdiri di atas pondasi ukuran 6x4 meter, emperannya 1,5 meter.

Rumah keluarga Lalu dikategori kumuh, Lantai lapisan semen sudah rusak. Untuk dindingnya menggunakan bambu dengan penyangga kayu. Atap rumah dari genteng tanah liat yang sudah lapuk. Dari dalam, terlihat jelas matahari dengan mudahnya masuk dari celah dinding bambu.

"Pekerjaan orang tua Zohri sebagai nelayan. Kadang mengerjakan sawah orang lain dengan sistem bagi hasil," ungkap Fatoni, keluarga Zohri mengenang pekerjaan almarhum L. Ahmad.

Ditinggal seorang ibu kandung, cukup berat bagi Zohri dan kedua kakaknya. Sebagai anak bungsu, Zohri lebih banyak mendapat perhatian dari kakak sulung perempuan, Baiq Fazilah. Namun tidak semua waktu bisa dihabiskan bersama.

Karena saat kedua kakaknya menikah, Zohri harus terbiasa tinggal bersama ayahnya sampai tamat kelas 3 SMP. Apalagi Zohri juga kerap ditinggal bekerja ke Gili Trawangan oleh kedua kakaknya.

s

"Saya dan Fazilah bekerja di Trawangan, dari Senin sampai Sabtu di sana, hari Minggu baru balik ke darat. Jadinya rumah ini sering kosong," kenang L. Ma'rif, kakak kandung Zohri.

Ma'rif sebenarnya pernah mengajak Zohri dan ayahnya semasih hidup untuk tinggal bersama di rumah yang cukup layak. Tetapi Zohri lebih memilih mendiami rumah bambu bersama ayahnya. Fatoni pernah menjabat sebagai Kepala Dusun Karang Pangsor. Rumah Zohri diupayakan dibantu melalui program Rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH). Tetapi sampai hari ini, bantuan belum kunjung turun.

"Saya menjabat sebagai kepala dusun sampai tahun 2014, saat itu saya usulkan dibantu kilometer listrik. Alhamdulillah Karang Pangsor dapat empat unit, dan satunya saya berikan kepada Ahmad (almarhum)," kenang mantan Kadus ini, yang dilansir dari Merdeka.com.

Sedangkan proposal rumah kumuh belum mendapat respon dari pemerintah. Bahkan Kadus baru yang menjabat pun mengusulkan hal serupa. Fatoni dan kedua saudara kandung Zohri sempat khawatir, kondisi yang memprihatinkan akan menyebabkan Zohri putus sekolah. Apalagi saat duduk di bangku SMP, Zohri pernah sekali tidak naik kelas.