Skip to main content

Kecam Tindakan Brutal Oknum Polisi, Puluhan Wartawan di Jeneponto Demo

Wartawan Jeneponto
Puluhan Jurnalisj di Kabupaten Jeneponto saat melakukan aksi di Perempatan Passamaturukang, Depan Polres Jeneponto.

 


KABAR.NEWS, JENEPONTO - Tindakan brutal yang dilakukan sejumlah oknum polisi terhadap tiga orang jurnalis yang sedang melakukan tugas peliputan demo rusuh mahasiswa di depan Gedung DPRD Sulsel, Kota Makassar, Selasa lalu, terus mendapat kecaman. Termasuk dari daerah.

 

Puluhan wartawan di Kabupaten Jeneponto turun ke jalan melakukan aksi demonstrasi, untuk mengecam tindakan brutal yang dilakukan oleh beberapa oknum aparat kepolisian terhadap tiga orang jurnalis yang sedang melakukan tugas peliputan saat demo rusuh di Gedung DPRD Sulawesi Selatan, Selasa kemarin.

 

Kurang lebih 50 orang wartawan yang tergabung dalam Aksi solidaritas Jurnalist Jeneponto yang melakukan aksi. Dipusatkan di perempatan Passamaturukang (Pastur), tepatnya depan Polres Jeneponto, Kamis, (26/09/2019).

 

Pernyataan yang disampaikan dalam aksi tersebut sebagai bentuk kecaman atas pemukulan terhadap tiga wartawan oleh oknum polisi, saat demo mahasiswa terkait penolakan RUU KPK dan RKUHP di sejumlah titik di Makassar, Selasa, 24 September 2019.

 

"Aksi unjuk rasa ini kami lakukan sebagai bentuk prihatin atas matinya kebebasan pers di Indonesia, dan ketidak pahaman kepolisian terhadap undang-undang yang mengatur tentang Pers," tegas penanggung jawab aksi Arifuddin Lau.

 

Solidaritas Jurnalist Jeneponto pun dalam aksinya mendesak Kapolri agar mengevaluasi Kapolda Sulsel serta jajaranya dan memperoses tindakan kekerasan yang dilakukan oknum aparat kepolisian.

 

"Tindakan kekerasan yang dilakukan oleh oknum aparat kepolisian dan diadili di pengadilan hingga mendapatkan hukuman seberat-beratnya agar ada efek jera. Sehingga kasus serupa tidak terulang di masa mendatang," tandasnya.

 

Sementara, berdasarkan UU nomor 40 tahun 1999 yang tertuang dalam tentang pers, seorang wartawan/Jurnalist dalam menjalankan tugasnya dilindungi oleh hukum.

 

Ketua Jurnalist Online (Join) Kabupaten Jeneponto, ini juga mengungkapkan, jeritan tiga orang wartawan yang dianiaya oleh oknum kepolisian pada aksi unjuk rasa mahasiswa di depan Gedung DPRD Provinsi Sulawesi Selatan, adalah jeritan wartawan Jeneponto (Butta Turatea).

 

"Jeritan tiga wartawan yang dianiaya oleh oknum kepolisian, adalah jeritan kami di Butta Turatea. Deritamu adalah derita kami wartawan Jeneponto. Rasa sakit yang rekan-rekan seprofesi kami rasakan akibat tindakan brutal oknum kepolisian, adalah rasa sakit kami pewarta Bumi Turatea," pungkasnya.

 

Selain itu, Ia juga menyampaikan semoga kejadian ini tak terulang kesekian kalinya, termasuk di Jeneponto. Pasalnya dikhawatirkan tindakan brutal oknum polisi akan mencederai marwah institusi kepolisian sebagai pengayom masyarakat.

 

"Kami para solidaritas Jurnalist Kabupaten Jeneponto, berharap pihak kepolisian, Kapolres Jeneponto agar kiranya dapat menyampaikan tuntutan kami ke Kapolda," tandasnya.

 

*Akbar Razak

 

 

loading...